Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Ngebet


__ADS_3

"Tapi.. kamu mau bantu om kan buat bujuk bunda kamu?" Jacky merasa bahwa Raisya akan sulit untuk ditaklukkan. Wanita itu memang lemah lembut, tapi untuk urusan prinsipnya jangan harap bisa bergeser.


Seperti pengalamannya waktu itu, jangan harap Raisya mengalah dia malah memilih untuk pergi darinya dan malah menetap dengan Nathan. Dengan pengalaman itu Jacky agak ragu untuk bisa menundukkan Raisya dalam waktu dekat. Sedangkan dia bukan tipe yang penyabar. Ciri khas genetik Alberto yang selalu ingin serba cepat.


"Om.. tidak yakin? Padahal om harusnya percaya diri." Michel malah memberi petuah.


"Mmm.. kalau om bisa mana mau minta tolong sama kamu?" Jacky agak kesal tidak mendapatkan respon baik dari Michel.


"Atau om bisa minta tolong sama oppa dan omma." Michel masih saja menyarankan yang lain.


"Aku tuh pengennya kamu, Michel." Jacky memberi penekanan pada kata terakhirnya.


"Kok aku sih om?" Michel merenggut.


"Kamu tuh senjata handal buat me menundukkan bunda." Jacky tahu kelemahan Ray ada pada Michel.


"Ih... om tuh gak gentel." Michel menyeruput sisa minumannya.


"Biarin.. yang penting kamu maju." Jacky malah tersenyum.


"Udah om kita pulang yuk!" Michel langsung berdiri hendak mencuci tangan.


"Oke... bidadari.. jangan lupa ya rayu bunda buat om!" Jacky mengikuti langkah Michel sambil menggandeng bahu Michel.


"Gak mau ah." Tolak Michel sambil melepaskan tangan Jacky yang tersampai di bahunya.


"Ya udah.. nanti mau kalau punya bapak tiri galak?" Jacky malah terus mengancam Michel.


"Au ah... " Michel langsung mencuci tangannya sambil cemberut.


Jacky terlihat senang sudah bisa dekat dengan Michel. Ini upaya pertama untuk pendekatan pada Raisya. Kalau Arsel sih sepertinya tidak terlalu sulit karena sama-sama laki-laki. Tapi Kalau Michel... beuuh.. selain perempuan dia abg labil.


"Eh.. om.. aku boleh gak minta antar?" Di tengah perjalanan Michel berubah pikiran.


"Iya.. mau diantar kemana?" Jacky menatap lurus ke jalan.


"Aku.. mau ke makam daddy boleh tidak?" Nada suaranya terdengar ragu. Pasalnya hari ini panas banget. Cuaca di luar sangat tidak mendukung untuk menjemur badan di tengah terik matahari.

__ADS_1


"Oke. Tapi jangan lama-lama! Ini lagi panas Michel." Jacky tidak bisa melarang Michel begitu saja.


"Iya om. Bentar aja." Jawab Michel langsung mengerti.


Jacky langsung melajukan kendaraannya menuju makam dimana Nathan dikuburkan. Setelah sampai Jacky mencari tempat parkir yang rindang agar mobilnya tidak terkena langsung sinar matahari.


"Subhanallah panas banget." Jacky menggelengkan kepalanya.


Keduanya turun dari mobil.


"Om.. tunggu saja! Aku sendiri aja." Michel merasa kasihan kalau Jacky ikut ke makam.


"Gak pa-pa sambil bilang ke daddy kamu, minta izin mau nikahin bunda kamu." Meski panas Jacky tetap ikut menemani Michel. Sesekali bibirnya nyengir menahan panasnya sinar matahari. Untung saja ada kacamata hitam.


Keduanya berjalan menuju makam.


"Loh.. om.. " Michel seperti kaget melihat bunga yang ditabur dan buket bunga yang disandarkan di batu nisan Ayah-nya.


"Bunda kamu mungkin." Jacky menebak-nebak. Karena sudah satu minggu ini Raisya bolak-balik ke makam Nathan.


Keduanya lalu duduk di tepian makam Nathan. Memulai berdoa dengan khusyu untuk jasad yang sudah terbujur kaku dalam kuburan itu.


"Dad... Michel datang buat jenguk daddy. Michel harap daddy sudah tenang di sana. Michel selalu berdoa buat daddy setelah selesai shalat dan kapanpun Michel mengingat daddy. Michel minta izin ya dad.. buat bunda Raisya. Semoga bunda dapat jodoh yang sayang sama bunda. Kasihan bunda dari dulu selalu direpotkan kita. Michel ingin melihat bunda bahagia agar daddy tenang di sana. Semoga nanti kita bertemu lagi di surga ya dad.. " Michel meneteskan airmata tak kuasa menahan kesedihan. Jacky mengelus lembut punggung Michel.


"Chel.. pulang yuk! Panas." Jacky tak mau Michel bersedih terlalu lama. Dia mencari alasan untuk segera pulang agar Michel tidak sedih berkepanjangan.


Michel mengangguk lantas berdiri. Jacky merangkul bahu Michel berjalan menuju mobil yang sedang diparkir di bawah pohon rindang.


Tanpa mereka sadari sepasang mata sejak tadi memperhatikan keduanya dari balik pohon mengintip gerak-gerik Michel dan Jacky.


Jacky segera melakukan mobilnya ke mansion tuan Robert, dimana sekarang Raisya, Arsel. dan juga Michel tinggal.


"Om.. mau pergi lagi?" Michel menoleh ke arah Jacky.


"Gak tahu. Mungkin kalau pekerjaannya bisa dikerjakan dari rumah om memilih bekerja di rumah saja." Ucap Jacky yang belum ada rencana pergi lagi ke kantor. Badannya cukup lelah karena harus pergi ke beberapa tempat.


"Mulai besok Michel jangan dijemput!" Ucap Michel sambil melihat ke samping jendela mobil menghindari Jacky melihatnya.

__ADS_1


"Kenapa?" Jacky melirik sebentar lalu kembali lagi ke depan fokus menyetir.


"Gak nyaman." Protes Michel.


"Tidak nyaman bagaimana?" Jacky sedikit heran dengan kata-kata Michel.


"Nanti temen-temen aku heboh lagi. Lagian dari awal Michel cuman diantar sopir kok. Eh tiba-tiba masa harus antar jemput sama om." Michel males harus berhubungan dengan banyak orang. Besok pastinya geng Siska akan heboh dengan pertanyaan.


"Ya ga pa-pa. Baguslah diantar jemput. Jadi om bisa tahu kondisi kamu selama disekolah. Emang temen-temen kamu heboh apa?" Jacky agak penasaran juga.


Tanpa terasa mobil sudah terparkir. Michel tidak menjawab pertanyaan Jacky. Dia langsung turun. begitu saja.


"Eh dasar.. abg labil. Baru saja moodnya bagus, sekarang malah jutek lagi." Jacky harus ektra sabar menghadapi abg satu ini.


"Assalamu'alaikum." Michel mencium punggung tangan omma nya.


"Waalaikumsalam." Jawab nyonya Rosa sambil. memperhatikan Michel.


"Sudah pulang lagi Jacky?" Ibunya agak heran melihat Jacky sudah ada di rumah.


"Iya mih. Tadi jemput Michel sekolah." Jacky langsung mengambil jus dari dalam kulkas. Setelah seharian berpanas ria tenggorokannya sangat kering.


"Mmm... kenapa tidak anar jemput sopir aja?" Ibunya Jacky agak heran kenapa. Jacky menjemput Michel. Padahal pekerjaan di kantor pastinya banyak


"Demi.. mih." Jacky duduk di meja makan.


"Serah kamu deh." Ibunya tak mau ambil pusing urusan ketebelece.


"Raisya mana mih?"Jacky mengedarkan pandangannya mencari Raisya.


" Lagi tidur mungkin. Tadi sih habis jemput Arsel langsung masuk ke kamar. Mungkin sedang mengajak tidur Arsel." Jawab ibunya menebak-nebak.


"Mmm.. "


"Mih.. " Jacky melirik ibunya.


"Apa?"

__ADS_1


"Jacky pengen nikahi Raisya."


__ADS_2