
"Apa maksudmu menunjukkan foto ini?" Raisya menatap curiga pada Jason.
"Ini kamu kan?" Jason bukannya menjawab malah balik bertanya.
"Iya. Memang aku. Lalu apa untungnya buat kamu menyimpan foto lama aku? Kurasa kita tidak ada hubungan apapun. Dan aku tak perlu membesarkan-besarkan hal ini." Ucap Raisya tak ingin memperbesar masalah. Karena siapapun bisa menyimpan foto lamanya dan selama foto itu tidak mengganggunya itu sah-sah aja. Mungkin dari sekian ratus orang yang pernah berteman dengannya pernah menyimpan fotonya dan itu bukan suatu yang aneh.
"Mmm.. jadi kamu tidak mengingat aku sedikitpun?" Jason menatap netra Raisya berharap di sana ada jawaban.
"Tidak. Aku baru kali ini melihatmu. Dan aku tak pernah mengingat siapa kamu. Apa kita mungkin satu sekolah?" Tanya Raisya sedikit tidak sabar.
"Tidak. Aku tidak satu sekolah. Cuman.. aku adalah orang yang pernah ditolong waktu itu sama kamu. Sampai sekarang aku tidak akan melupakan jasa kamu, dan buatku, kamu adalah cinta pertamaku." Jason akhirnya bisa mengungkapkan isi hatinya pada Raisya tanpa beban lagi. Wajahnya penuh harap. Dia berharap Raisya bisa mengingat kejadian itu, yang sudah lama dan mungkin dia juga lupa. Raisya hanya melongo, jika waktu bisa diputar ingin sekali Raisya melihat rekaman kehidupan. Tapi lagi-lagi ingatannya nol besar tentang laki-laki yang ada di depannya itu. Dilihat dari ekspresi wajahnya saja Raisya terlihat datar dan merasa asing.
"Mmm... begitu ya?" Raisya menganguk-ngangguk. Tapi pikirannya malah mengatakan sebaliknya. Dia malah curiga jangan-jangan Jason dulunya adalah seorang penguntit. Tapi apa benar dugaannya itu? Raisya melihat Jason dengan penuh tanya.
"Apa kamu sama sekali tidak ingat?" Jason masih berdiri sedang Raisya masih juga mengintip dibalik pintu tanpa memberi kesempatan pada Jason untuk masuk ke kamarnya.
"Kejadian itu sudah lama terjadi. Jadi.. apa bisa kita lupakan saja? Aku tak ingin pak Jason malah terganggu dengan kehadiran saya. Saya datang bersama pak Baron untuk bekerja. Mari kita berteman saja!" Meski Raisya belum mengingat kejadian itu, dia tak ingin menyinggung perasaan Jason. Kalau dari penampilan dia terlihat seperti laki-laki baik. Tapi saat ini tingkat kewaspadaan Raisya lebih tinggi dan tak mudah percaya begitu saja.
"Baiklah. Aku ingin sekali berteman denganmu. Aku yakin kamu orang baik." Ucap Jason sambil mengulurkan tangan menyambut ajakan Raisya untuk berteman. Setidaknya ini hal baik untuk permulaan suatu hubungan.
"Baik." Raisya pun menyambut tangan Jason dan keduanya pun berjabat tangan.
__ADS_1
Keduanya pun tersenyum. Namun senyum itu memberikan arti yang berbeda. Yang satu dia berbahagia, dan yang satu tersenyum terpaksa untuk membahagiakan.
Setelah basa-basi itu, keduanya mengakhiri obrolan. Jason tak mau mengganggu aktivitas beristirahat Raisya dan Jason pun meminta izin pada Raisya setelah kepenasarannya sudah terpenuhi.
Jason kembali ke kamarnya dengan senyuman bahagia. Dia terus menatap layar handphonenya dengan sesekali tersenyum sambil menatap wajah Raisya. Akhirnya orang yang lama dicarinya ketemu. Dia berharap besar kalau Raisya bisa jatuh cinta juga padanya. Dia tak peduli dengan masa lalu Raisya yang janda satu anak, sejak awal dia sudah jatuh cinta dengan kebaikan Raisya.
Berbeda dengan Raisya yang masih melamunkan apa yang tadi dikatakan Jason padanya.
"Cinta pertama? Masa iya juga sih dia langsung jatuh cinta di pandangan pertama. Lalu kenapa juga aku benar-benar lupa pada dia. Apa kita hanya bertemu sekilas? Ah... itu benar-benar gila. Di zaman begini masih ada juga yang memiliki prinsip yang kaya gitu. Apa bukan obsesi?" Raisya agak mengerungkan dahinya. Heran dengan sikap Jason yang seperti itu. Dengan wajah tampan dan karir bagus, masa iya dia tidak pernah jatuh cinta? Itu yang dipikirkan Raisya sekarang.
Di esok pagi, semua orang telah siap berangkat menuju bandara menuju Kotabaru penghasil tambang batubara terbesar.
Dari bandara Banjarmasin menuju Kotabaru memang bisa melalui jalan darat ataupun udara. Jika melalui udara kurang lebih 30 menit dan melalui darat bisa 6 sampai 7 jam perjalanan.
"Kenapa? Apa anda mabuk perjalanan?" Jason menoleh ke arah samping melihat Raisya yang agak gelisah.
"Mmm.. tidak." Jawab Raisya menepis sangkaan Jason.
"Kalau kamu mabuk perjalanan, tidurlah!" Jason memberi saran.
"Terimakasih." Jawab Raisya tidak mau berdebat panjang. Rasanya perjalanan yang akan ditempuh Raisya akan terasa lebih panjang karena perasaan Raisya sedikit tegang.
__ADS_1
"Ada baiknya juga kalau aku tidur, agar Jason tidak banyak bicara." Ucap Raisya dalam hati. Dia memejamkan matanya pura-pura tidur.
Baron yang kebetulan duduk di depan bersama Ramos tidak tahu kalau Jason telah menukar tempat duduknya dengan Ramos. Seharusnya Baron duduk berdampingan dengan Jason malah dia harus berdampingan dengan Ramos yang masih sepupunya Baron.
Baron tidak menangkap kecurigaan apapun dengan perubahan sikap Jason pada Raisya. Dia malah asik berbincang dengan Ramos seputar pribadi juga pekerjaan selama perjalanan.
Tanpa diduga ternyata Raisya malah tertidur beneran. Dan kini kepalanya malah sudah jatuh di bahu Jason. Jason sengaja menahan kepala Raisya agar tidak jatuh. Selama perjalanan ada rasa bahagia dan senang meski tidak banyak pembicaraan dengan Raisya, tapi dengan Raisya tertidur di bahunya malah menjadikan Jason seperti kejatuhan bintang dari langit. Ada rindu yang menggunung yang kini tengah hadir di hatinya Jason. Berharap rasa itu pun akan tumbuh sama di hati Raisya.
30 menit perjalanan mereka begitu terasa cepat. Kapal yang ditumpangi Raisya dan yang lainnya akhirnya sampai di bandara kecil yang ada di Kotabaru. Pemberitahuan dari salah satu pramugara pada semua penumpang pesawat kecil pun berkumandang mengingatkan para penumpang akan barang bawaannya.
Jason perlahan menepuk tangan Raisya agar tidak kaget.
"Raisya.. Raisya... bangun. Kita sudah sampai." Ucap Jason lirih.
Raisya yang merasa tangannya ada yang menepuk akhirnya mengerjapkan mata dan mengumpulkan kesadarannya. Dan berapa malunya Raisya ketika melihat kenyataan bahwa dia tertidur di bahu Jason.
"Mmm.. maaf.." Ucap Raisya gugup sambil membenarkan posisi duduknya. Rona merah terlihat jelas di kulit wajah Raisya yang putih mulus.
"Bagaimana tidurnya nyenyak?" Ucap Jason tersenyum menggoda sambil berbisik agar penumpang lain tidak mendengar perkataannya.
"Maaf.. aku... " Raisya menggantung nada bicaranya begitu telunjuk Jason malah menyentuh bibir Raisya.
__ADS_1
"Bahu aku rela menjadi sandaran kamu seumur hidupku." Bisik Jason di telinga Raisya.
Bulu kuduk Raisya malah meremang mendengar kata-kata Jason barusan.