
flasback
Adam menghempaskan tubuhnya di sofa karena kelelahan. Jadwal di Singapura sungguh menguras energinya. Ditambah lagi malam panas yang selalu bergelora yang lumayan menyedot energinya.
"Mas Adam mau mandi dulu atau makan?" Tanya Sarah sambil menyiapkan baju ganti suaminya.
"Aku mau langsung tidur saja. Badanku terlalu lelah." Keluh Adam sambil memejamkan matanya.
"Baiklah akan saya siapkan air hangat untuk mandi." Sarah melangkahkan kakinya ke kamar mandi menyiapkan air hangat dalam bathtub. Setelah mengatur suhunya Sarah kembali keluar.
"Airnya sudah siap."
"Terimakasih kasih." Adam masuk ke dalam kamar mandi menanggalkan semua pakaian dan berendam di bathtub.
Kring
Kring
Kring
Suara handphone Adam berbunyi. Sarah mengambil handphonenya tertera nama 'klien Singapura' dalam layar handphone Adam.
"Mas Adam ada telepon. Dari klien Singapura." Sarah menempelkan bibirnya dari balik pintu kamar mandi.
"Bawa kesini!" Adam menyuruh membawa handphonenya pada Sarah.
Walaupun mereka suami istri, Sarah selalu meminta izin jika dia mau ke kamar mandi jika Adam ada di dalamnya.
Sarah mengetuk pintu lalu masuk ke kamar mandi. Adam sedang berendam sambil bersandar pada bibi bathtub.
"Ini mas!" Sarah menyodorkan handphone Adam. Adam mengambil handphonenya dari Sarah.
Walaupun tak terhitung berapa kali Sarah melihat tubuh Adam, tapi malam ini mata Sarah begitu fokus melihat tanda jejak di sekitar dada suaminya.
__ADS_1
Rasa perih mengiris kalbu begitu mata menyampaikan sinyal perselingkuhan pada nalar seorang istri yang selama ini setia mendampingi nya. Menatap satu persatu jejak itu layaknya mengiris satu persatu menoreh luka dalam hatinya tanpa diminta dia datang dan memaksa.
Sarah masih mematung menatap tubuh suaminya bukan karena kagum akan ketampanannya, tetapi karena dusta yang mulai mencuat ke permukaan menyembul bagai biji yang baru tumbuh di tanah.
Raganya seolah berhenti dan rasa beribu tusukan melesat dalam kalbunya menghentikan rasa percaya dan cinta yang selama ini dirawat dan dijaga.
"Kenapa kamu masih berdiri disitu? Apa ingin mendengarkan pembicaraanku?" Adam yang tak biasa bicara ketus sekarang sedang menampakkan keanehan-keanehan sikapnya pada Sarah. Tak seperti biasanya Adam bicara seperti itu. Sepenting apakah klien yang dari Singapura sampai harus mengusir Sarah dari hadapannya.
"Maaf." Sarah membalikkan badannya dengan membawa awan mendung di netranya yang siap-siap turun karena petir yang sudah menggelegar menabuh kekuatan pada hujan untuk segera turun.
Diusapnya ujung kelopak matanya deng jari-jari lentik yang biasa untuk memegang pisau bedah. Ya rasa perih yang tak berdarah seperti telah mengalahkan luka yang menganga yang bias dia lihat di meja operasi. Pisau-pisau yang bersenandung sumbang seolah masuk ke telinganya dan memekakkan nuraninya untuk jatuh.
Sarah membaringkan tubuh rampingnya di atas kasur. Rindu yang lama dia simpan berubah menjadi sakit yang tak terukur. Sarah tidur menyamping menarik selimutnya dan memaksa kedua kelopaknya untuk pergi ke peraduan mimpi. Itulah kebiasaan Sarah selama ini. Dia tak mau merusak tidurnya dengan masalah yang mendera selama ini. Sebanyak apapun masalah dan sesakit apapun hatinya dia tidak mau dholim terhadap tubuhnya yang esok hari akan ditunggu para pasiennya.
Adam keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang dia pakai dari kamar mandi. Dia menoleh ke atas ranjang, melihat Sarah sudah tidur memunggunginya.
Dia mengambil baju ganti yang telah disiapkan Sarah sejak tadi. Adam mengurungkan niatnya untuk berganti pakaian di kamar mandi. karena melihat Sarah sudah tidur Adama merasa aman untuk mengganti pakaiannya di kamar tidur.
Setelah mengeringkan rambut basahnya Adam duduk di sofa lalu membuka laptopnya. Sesekali Adam menatap punggung Sarah.
Adam rupanya masih mengingat kebiasaan Sarah selama ini. Sarah tak pernah mendahului tidur sebelum suaminya mengizinkannya. Dia akan selalu setia menemani di sampingnya walau dia tak mengerti apa yang sedang dikerjakan suaminya. Biasanya dia akan menyuguhkan segelas susu hangat dengan beberapa camilan agar suaminya tidak bosan. Tapi malam ini semua kebiasaan masing-masing berubah satu persatu.
Pagi harinya Sarah lebih telat untuk turun ke meja makan. Adam sudah duluan pergi untuk sarapan bersama dengan papih juga mamihnya. Bertahun-tahun kebiasaan itu tak ditinggalkan untuk merekatkan hubungan keluarga sebelum aktivitas kerja menyibukkan masing-masing personalnya.
"Mana istrimu?" Tanya tuan Robert menanyakan Sarah.
"Mmhh.. mash diatas." Netra Adam melihat ke arah kamarnya yang berada di lantai 2.
"Kamu jadi Jack berangkat sekarang?" Tanya Adam yang melihat Jacky di depannya.
"Iya." Jacky menjawab sambil mengunyah sandwich.
"Mau kuantarkan sekalian?" Adam menawarkan dirnya mengantarkan Jacky ke bandara.
__ADS_1
"Gak usah. Pakai sopir saja!" Jawab Jacky menolak Adam untuk mengantarkannya. Ada yang harus ditunggunya sebelum pemberangkatan Jacky ke Korea.
"Ya udah kalau begitu." Adam tidak banyak bicara.
Suara ketukan sepatu terdengar dari anak tangga menandakan Sarah sudah turunn.
"Maaf pih, mih, mas Adam.. saya berangkat duluan. Ada pasien darurat yang mesti saya tangani!" Ucap Sarah dengan wajah mendung.
"Sebentar aku antar Sar!" Adam yang masih mengerat rotinya menyuruhnya menunggu sebentar.
"Tidak usah mas. Saya bawa mobil sendiri saja." Sarah menolak untuk diantarkan.
"Selamat pagi semuanya. Jacky hati-hati ya!" Sarah berlalu sambil berpamitan pada Jacky dengan menepuk bahunya.
"Hemmm.. Tak ada sopan santunnya pada suami. Sudah berangkat duluan tak ada pamit yang lebih baik apa?" Mamihnya Adam seperti biasa melontarkan komentar pedasnya.
Semua yang ada di meja makan hanya terdiam. Tak mau memulai perdebatan di pagi hari.
"Pih, mih.. aku berangkat. Setelah menghabiskan minumannya juga mengelap bibirnya Adam menciumi pipi kedua orang tuanya untuk berpamitan berangkat.
"Iya hati-hati!" Adam pergi ke garasi dan berlalu pergi untuk memulai harinya untuk bekerja.
Semua orang di pagi itu menghadapi masalahnya masing-masing. Dan bisa melewati masalah itu dengan caranya masing-masing.
Sarah membentangkan tangannya. Badannya terasa pegal sekali setelah menangani operasi dan kunjungan visit ke ruangan pasien. Dilanjutkan dengan pemeriksaan pasien rutinitas di setiap hari di rumah sakit tempat dia bekerja.
Malam ini Sarah bertemu dengan Hendrik di sebuah cafe.
"Drik... bisa antar aku ke Bandung tidak?" Setelah makan-makan dan bicara ke sana-kemari akhirnya dia berbicara to the point.
"Mau apa?" Hendrik menatap Sarah penasaran.
"Aku ingin mencari ibuku Drik. Aku.. kangen. Rasanya aku telah durhaka padanya. Mengabaikannya selama ini dan tak mencari keberadaannya." Keluh Sarah pada Hendrik.
__ADS_1
"Mmm. Kamu tahu alamatnya Sar?"
"Enggak."