
Jason merasa lega setelah melewati beberapa rintangan. Tinggal satu rintangan yang sangat dicemaskan nya. Rasanya menghadapi keluarga sendiri lebih menakutkan. Terlebih Jason sudah lama tidak menemui ayahnya dan keluarganya sejak ibunya meninggal. Ditambah persengketaan karena kekasihnya memilih berselingkuh dengan kakaknya. Sejak itu hubungan dia dengan keluarga tidak harmoni.
"Jason.. " Raisya melihat wajah Jason begitu pucat dan terlihat cemas.
"Ya?" Dia menoleh ke arah Raisya.
"Kamu baik-baik saja? Kamu seperti tidak terlihat sehat?" Raisya memberikan penilaian nya melihat wajah Jason tidak terlihat normal.
"Oh ya?" Kedua tangannya memegang wajahnya.
"Biasa saja ah." Bohong Jason tak mau Raisya ikut-ikutan cemas.
"Beneran ih.. apa jangan-jangan karena interview kak Adam?" Tanya Raisya penuh selidik.
"Ah enggak... kak Adam gak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga ku." Jason keceplosan mengatakan kecemasan dirinya.
"Maksudmu? Apa keluarga mu?" Raisya menggantung pertanyaan nya tak mau asal menebak. Dia membiarkan Jason sendiri mengatakan yang sebenarnya.
"Mmm.. aku lebih cemas dengan keluarga malah." Jawab Jason menatap Raisya.
"Apa ada masalah?" Tanya Raisya ingin tahu lebih banyak.
"Kamu janji ya Ra, kamu gak bakal ninggalin aku kalau kamu tahu kenyataan keluarga ku seperti apa." Jason memegang telapak tang Raisya.
__ADS_1
"Iya. Tapi coba deh cerita! Jadi nanti aku tidak syok saat ketemu dengan mereka." Ucap Raisya meyakinkan Jason.
"Sebenarnya... aku sudah lama sekali tidak bertemu dengan mereka Ra. Tepatnya setelah kematian ibuku. Aku tahu diri bahwa aku anak dari seorang perempuan yang dinikahi siri oleh ayahku. Makanya ibuku memilih tinggal jauh sampai di Bandung agar tidak merusak keharmonisan keluarga ayahku. Ibuku yang awalnya tidak tahu bahwa ayahku sudah punya istri mau-mau saja menikah dengan ayahku dengan alasan mereka saling mencintai. Lama-lama ibuku agak curiga, dan mencari tahu siapa ayahku sebenarnya. Dan alhasil ibuku tahu bahwa Ayahku sudah mempunyai istri sah dan seorang anak laki-laki dari hasil pernikahannya. Sejak saat itu aku dibawa ke Bandung tempat kampung halamannya." Jason akhirnya mau bercerita tentang masa lalunya pada Raisya.
"Terus, bagaimana dengan keluarga ayahmu? Apakah mereka juga tahu bahwa ayahmu punya istri lain?" Tanya Raisya penasaran.
"Awalnya tidak. Tapi semenjak ibuku sakit. Aku menemui mereka. Istri ayahku syok dan tidak menyangka bahwa suaminya mempunyai istri yang lain selain dirinya. Keharmonisan mereka pun akhirnya retak. Aku tidak bermaksud apapun, hanya ingin memberitahu kondisi ibuku saja waktu itu. Aku berharap ayahku mau membiayai ibuku yang sakit karena biaya pengobatan nya tidak sedikit dan waktu itu aku belum bekerja dan masih kuliah." Jawab Jason menceritakan alasannya kenapa dia sampai menemui keluarga ayahnya.
"Terus ayahmu mau membiayai ibu?" Tanya Raisya tak sabar mendengarkan cerita selanjutnya.
"Ya. Sebenarnya ayahku tanpa diminta pun dia akan memberi. Bahkan selama ini dia mencari keberadaan ibuku. Karena memang ayahku sangat mencintai nya. Kebetulan pernikahan ayahku karena perjodohan dan bisnis dengan istrinya yang pertama." Jason kembali menjawab pertanyaan Raisya.
"Mmm..." Raisya hanya manggut-manggut.
"Sabar... setiap orang pasti punya masalah dan masa lalu." Raisya menguatkan Jason.
"Ibumu sakit apa Jason?" Tanya Raisya kembali.
"Kanker selalu otak." Jawab Jason tertunduk.
"Mmm.. " Raisya tidak tahu harus bagaimana menanggapi kesedihan Jason. Dia hanya mengusap bahu Jason sebagai tanda ikut bersimpati.
"Ternyata umur ibuku tidak panjang. Setelah dirawat dengan maksimal pun dia akhirnya meninggal. Dan aku hidup sendirian setelah kematian ibuku." Jason menyeka kelopak matanya yang sedari tadi tak tahan merasakan kesedihan.
__ADS_1
"Umur memang di tangan Allah Jason. Kita tak bisa tahu kapan dan dimana akan meninggal. Kita hanya bisa berikhtiar." Raisya jadi ikut bersedih mendengarkan kisah perjalan Jason yang baru diketahuinya.
"Betul. Dan semenjak itu, aku tak pernah menemui ayahku lagi. Aku tak mau mengacaukan kehidupan mereka. Bahkan aku merelakan kekasihku memilih kakakku sebagai suaminya. Aku... rasa mungkin ini karma yang harus aku terima Ra!" Jason kembali memandang Raisya dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan karma Jason. Semuanya karena bukan jodoh. Allah tidak akan memberikan jodoh orang lain padamu begitu pun sebaliknya. Kalau tidak berjodoh akhirnya kita akan berpisah juga." Ucap Raisya yang sudah dia kali menikah dan banyak mengambil hikmah dari semua kejadian masa lalunya yang bahkan lebih parah dari Jason.
"Betul Ra! Aku berharap kamu adalah jodohku sampai maut memisahkan. Aku harap apapun yang terjadi nanti, kamu jangan tinggalkan aku ya Ra!" Jason begitu berharap Raisya akan setia menemani hidupnya nanti.
"InsyaAllah. Aku akan berusaha jadi istri yang baik. Tapi aku tidak tahu, nasib ke depan akan seperti apa Jason." Ucap Raisya yang tidak mau terlalu banyak memberikan harapan. Khawatir Jason suatu saat akan kecewa.
"Kamu perempuan yang baik seperti ibuku Raisya. Dia orang yang sabar juga penyayang. Makanya sejak awal. aku jatuh cinta sama kamu." Jason menggenggam tangan Raisya dan menatapnya dalam.
"Mmm... Terima kasih sudah mencintai ku. Tapi kamu jangan terlalu banyak berharap Jason. Takut suatu saat kamu akan kecewa dan bahkan kamu sendiri yang akan meninggalkan aku." Jawab Raisya dari pengalaman dia kali pernikahannya.
"Tidak Ra! Aku janji.. apapun yang terjadi kita harus menggenggam seperti ini. Jangan saling melepaskan! Aku harap kamu bisa menggenggam ku juga. Jangan lepaskan rumah tangga kita! Aku ingin membangun rumah tangga bahagia bersama kamu Ra!" Jason begitu sunguh-sungguh berharap Raisya lah orang yang akan menjadi pelabuhannya untuk yang terakhir kalinya.
"InsyaAllah. Kita berdoa saja Jason. Semoga semuanya dilancarkan." Ucap Raisya menguatkan hati Jason.
"Sudah sampai Ra! Itu rumah ayahku. Kamu siap? Aku harap.. kamu tidak kecewa dan bisa bersabar jika nanti mereka bersikap kurang wajar padamu!" Jason mewanti-wanti pada Raisya agar bisa sabar menghadapi sikap keluarga ayahnya.
Raisya mengantuk setuju.
Rumah mewah yang sudah di depan nya kini membuka pintu gerbang nya untuk mempersilahkan mobil yang ditumpangi Jason untuk masuki halaman rumah itu. Jason sudah memberitahu kedatangannya pada ayahnya lewat handphone. Mereka sudah menunggu kedatangan Jason di dalam rumah.
__ADS_1