
"Kamu dipanggil juga?" Raisya kaget melihat Ratna ada di ruang HRD.
"Iya. Ada apa ya? Kok cuman kita aja yang dipanggil?" Keluh Ratna yang merasa heran dan bertanya-tanya.
"Tau Rat!" Raisya yang tak tahu apapun agak deg-deg an dipanggil ke bagian HRD. Baru saja masuk kerja lagi, langsung dipanggil ke ruangan HRD. Kini dalam hatinya Raisya sedang banyak memanjatkan doa, semoga tidak diputus kerja.
Pak Hari masuk ke dalam ruangan tamu yang ada di divisi HRD.
"Kalian pasti tegang ya?" Pak Hari yang biasa ramah kepada siapapun langsung menyapa akrab.
Ratna dan Raisya tersenyum lalu berdiri memberi hormat pada pak Hari.
"Ayo duduk!" Pak Hari mempersilahkan duduk pada keduanya.
"Kalian sudah lama bersama?" Pak Hari melihat keduanya silih berganti.
Ratna memberi kode pada Raisya untuk berbicara.
"Kami teman sejak kuliah pak. Kebetulan mengambil jurusan yang sama managemen bisnis." Jawab Raisya.
"Wah berarti sudah lama ya?" Kagum pak Hari sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya pak!" Jawab Raisya pendek. Tapi hatinya malah bertambah deg-deg an. Kenapa pak Hari tiba-tiba menanyakan hubungan dia dengan Ratna.
Ya Allah... Mudah-mudahan tidak di PHK ya.. Aku sudah ditunggu hutang.. ya ampun...
Cemas Raisya dalam hatinya yang memikirkan cicilan yang harus dibayarnya setiap bulan.
"Kamu pernah juga di bagian keuangan Ratna?" Tanya pak Hari.
"Iya pak. Pertama masuk kerja, saya ditempatkan di divisi keuangan. Terus saya mengajukan pindah ke divisi ke pemasaran. Waktu itu kebetulan sedang dibuka lowongan. Saya ingin mencoba pengalaman baru pak, di bidang pemasaran." Jawab Ratna.
__ADS_1
"Kamu sejak awal di bagian pemasaran ya?" Mata Pak Hari beralih melihat Raisya.
"Iya. Betul pak!" Raisya menggenggam celana bawahannya agar tak terlihat tangannya gemetar.
"Baik. Begini.. saya panggil kalian ke kantor saya, ada yang mau saya bicarakan."
Deg
Detak Jantung Raisya bertambah cepat berirama.
"Ratna akan dipindahkan kembali ke bagian keuangan. Sepertinya kamu cocok di bagian itu. Dan Raisya... " Pak Hari tidak segera melanjutkan bicaranya.
Ratna menatap Raisya. Nampak wajah Raisya memucat.
"Sebenarnya kamu punya potensi untuk berkembang lebih maju Raisya. Jadi kamu lebih cocok di bagian pemasaran."
"Pemasaran pak?" Raisya dan Ratna serempak bicara.
"Tidak pak!" Mereka kembali menjawab kompak.
"Ini tanda tangani syarat kepindahan kalian!" Pak Hari menyodorkan secarik kertas perjanjian buruh kerja antara perusahaan dan karyawan.
Ratna menoleh ke arah Raisya. Entah apa yang sedang dipikirkannya tentang Raisya. Keduanya lalu mengambil kertas itu lalu menandatanganinya.
"Baiklah kalian hari ini boleh menyelesaikan pekerjaan kalian di bagian masing-masing. Dan mulai besok kalian sudah pindah di bagian yang baru. Selamat bekerja! Semoga kalian bisa bersungguh-sungguh lagi dalam bekerja." Pak Hari berdiri dan menyalami keduanya.
Raisya dan Ratna keluar dari ruangan HRD.
"Sya.. gimana ini?" Mukanya seperti melipat mendapatkan kabar bahwa dirinya dan juga Raisya bertukar tempat. Apalagi Raisya harus pindah ke divisi pemasaran membuat Ratna menaruh kekhawatiran.
"Ya bagaimana lagi Rat. Buatku tidak jadi di PHK saja sudah beruntung. Mengingat sekarang mencari kerja itu agak sulit.
__ADS_1
"Aku sih gak pa-pa Sya. Tapi aku khawatir kamu Sya!" Ratna melihat sedih Raisya.
"Sudahlah! Kita akan berjuang. Aku juga akan lebih berhati-hati mulai sekarang." Jawab Raisya lalu keduanya masuk lift yang berbeda.
Ratna mengerucutkan bibirnya, dia tak mau pisah dengan Raisya.
Di lain tempat bu Mia dan Nathan sedang berada di ruangan Adam.
"Aku gak mau kalau Raisya dipindahkan ke sana pak Adam. Saya sangat butuh bantuannya apalagi Jacky tidak ada. Pastinya pekerjaan saya akan bertumpuk." Bu Mia melayangkan protes pada Adam karena perpindahan Raisya ke departemen pemasaran sangat merugikannya.
"Raisya lebih dibutuhkan di pemasaran karena dia lebih cekatan. Ide-idenya juga cukup membantu pak Nathan untuk mengembangkan perusahaan lebih baik." Tegas Adam membuat alasan.
"Kalau pak Nathan bagaimana?" Adam bicara formal.
"Aku.. siapapun yang bekerja denganku gak masalah. Selama dia bisa bekerja dengan baik dan tidak merugikan." Nathan bicara datar tidak ada sikap mempertahankan Ratna.
"Kenapa kamu bersikukuh mempertahankan Raisya? Ratna kan bukan orang baru? Sebelumnya dia juga pernah bekerja di bagian keuangan bukan?" Adam melihat bu Mia yang nampak kecewa.
"Iya.. aku juga tahu. Tapi.. aku sudah nyaman bekerja dengan Raisya. Kinerjanya pun tak diragukan. Dia bisa cepat mengerti jika aku memandatkan pekerjaan." Bu Mia merasa pekerjaannya akan bertambah banyak jika tidak ada Raisya. Maklum pekerja baru pasti butuh adaptasi lagi dan bimbingan darinya. Jadi pekerjaannya akan jadi terhambat.
"Sudah.. barangkali Ratna juga bisa lebih cepat dari Raisya. Kamu gak berani saja menerimanya." Sambut Adam memberikan saran.
"Kalian kembali ke ruangan masing-masing. Mencoba menerima kekurangan dan kelebihan bawahan kalian." Adam berdiri menuju kursi kebesarannya dan langsung berkutat memeriksa pekerjaan yang harus diproses.
Bu Mia dan Nathan keluar tanpa bertegur sapa. Bu Mia yang merasa kecewa wajahnya masih terlihat menekuk. Sedangkan Nathan tersenyum menyeringai licik. Ini saatnya dia akan membuat perhitungan dengan seseorang yang telah merebut yang dianggap miliknya.
Di lain tempat seseorang menunggu dengan gelisah. Beberapa panggilan sudah dia lakukan tapi tidak pernah diangkatnya. Pesan-pesan pun sudah dikirimkan namun tak ada satu pun yang dibacanya.
Sampai pemberitahuan pemberangkatan pun akhirnya tiba. Dia menggusur koper berjalan bersama penumpang lainnya menuju pesawat yang akan membawanya ke negara gingseng.
Dia duduk di samping jendela menatap awan-awan yang seperti gumpalan kertas. Matanya memang melihat tapi seolah dia sedang menerawang ambang waktu jauh ke belakang membayangkan seseorang yang pernah dicintainya. Dia tersenyum membayangkan masa-masa indah itu. Dimana hatinya begitu candu melihatnya, juga rindu menjadi bumbu untuk terus ingin bertemu. Tapi semua keindahan itu nampaknya tak berlangsung lama. Semua warna pelangi yang ada dalam hidupnya berubah menjadi mendung kelabu saat saudaranya sendiri mengambil kekasihnya. Dunia seakan runtuh berkeping-keping dan harapan pun hancur menguap bersama bencana itu. Itu yang membuat Jacky selama ini menahan diri berhubungan dengan namanya wanita. Rasa sakit itu masih belum hilang dari dalam hatinya. Tapi begitu melihat Sherly yang sudah lama tidak bertemu, apalagi sekarang keadaannya tak lagi bersamanya seolah kenangan indah itu datang perlahan membuat angan hinggap dan hidup lagi.
__ADS_1
Pagutan yang sudah lama tak dirasakannya kembali menjadi candu. Tapi begitu melihat Raisya memergoki dirinya seolah dia menjadi serakah tak ingin kehilangan keduanya sekaligus.