
"Ayoo.. yang mau ketemu emak Bandung mana?" Irwan sudah menunggu di depan mobil. Niatnya mengantar Raisya, tapi si kembar ribut ingin ikut ke Bandung. Terpaksa semuanya jadi berangkat.
"Ayo.. " Anak bocil serempak naik ke mobil diikuti para mahmud (mamah muda) yang sepertinya senang akan keberangkatannya ke kota Bandung.
"Jangan lupa ya baca bismillah dan doa sebelum naik kendaraannya! Bismillahi Tawakaltu Alallahi Laa haula walaa quwwata illa billah." Semua orang mengikuti dengan khusyu.
Irwan mulai melakukan mobil Inova keluaran terbarunya untuk membawa keluarga bahagianya menuju kota Bandung. Mereka yang sudah rutin sejak dulu mengunjungi ibunya Raisya sudah tidak canggung lagi untuk menginap di sana.
Sepanjang perjalan para bocil asik mengobrol dan saling bercanda. Begitupun dengan mahmud mereka asik dengan dunianya kadang berselancar di handphone dan menceritakan topik-topik yang menurut mereka menarik. Lain lagi dengan Irwan di fokus menyetir sambil mendengarkan musik.
"Lah kok sepi?" Irwan tak lagi mendengar suara-suara bocil di belakang kemudinya.
"Sudah pada tidur." Jawab Raisya sambil mengelus lembut Arsel yang berada di pangkuannya.
"Mereka dari semalam sudah pada semangat mau pergi dan bangun lebih pagi. Jadi pastinya mengantuk yang.. " Ucap Ratna memberitahu Irwan.
"Mereka semangat empat lima kalau mendengar kota Bandung. Dasarnya lahir di sana mungkin." Jawab Ratna yang masih mengingat waktu kelahiran si kembar di kota Bandung waktu itu.
"Iya.. takdir ya Sya.. " Irwan menanggapi obrolan istrinya dan mengajak Raisya berbincang agar tidak melamun.
"He he." Raisya hanya tersenyum.
"Aku kalau ingat waktu itu kadang suka pengen ketawa lo Sya!" Ratna menoleh ke belakang.
"Kenapa?" Tanya Raisya agak heran.
"Ya.. lucu aja. Waktu itu kamu pura-pura gak kenal. aku. Terus aku kekeh pengen tidur sama kamu karena penasaran kok ada ya yang namanya Raisya beda wajah tapi kok bisa kenal sama mamah. Aku tuh udah curiga lho Sya.. malah aku berdoa bisa bikin kamu mengaku siapa kamu sebenernya. Ternyata lahir si kembar membawa keberuntunganku bisa deket sama kamu lagi.
" Iya..iya aku minta maaf sama kalian susah bikin kalian susah." Ucap Raisya dengan perasaan bersalah.
Kring
Kring
Suara handphone Raisya berbunyi. Sebuah panggilan asing masuk. Raisya menggeser tanda hijau untuk menjawab.
"Assalamualaikum." Raisya mengawali dengan salam menjawab panggilan asing itu.
"Waalaikumsalam." Suara bariton dari seberang telepon terdengar jelas oleh Raisya. Raisya agak. mengerutkan dahi sedang mengingat suara yang sedang menelponnya.
__ADS_1
"Raisya.. ini papih Nathan." Tua Robert memberitahu Raisya, karena dia menduga Raisya tidak mengenali suaranya setelah terdiam beberapa saat.
"Oh papih. Apa kabar papih?" Raisya berusaha menormalkan suasana. Hatinya langsung tidak karuan begitu tuan Robert memberitahu identitasnya.
"Papih pengen bertemu sama kamu Raisya." Tuan Robert langsung mengungkapkan niatnya menelpon Raisya.
"Maaf pih.. saya sedang perjalanan ke Bandung." Jawab Raisya.
Irwan dan Ratna memasang telinga begitu Raisya menyebutkan papih.
"Oh.. kamu bawa cucuku ke sana juga?" Tanya tuan Robert yang rindu ingin bertemu dengan Arsel. Dia menyesal baru mengetahui bahwa Arsel adalah cucunya.
"Iya pih. Arsel saya bawa ke Bandung." Jawab Raisya pelan. Dada Raisya bertambah dag dig dug mendengar tuan Robert sudah mengetahui. Arsel. cucunya.
"Tapi cucu papih sehat kan?" Tanya tuan Robert penasaran akan keadaan Arsel
"Iya pih. Alhamdulillah."
"Syukurlah kalau cucu papih sudah sehat." Tuan Robert menjeda pembicaraan.
"Raisya.. " Nada suara tuan Robert terdengar sedih.
"Iya pih."
"Iya pih." Jawab Raisya.
"Papih sudah banyak salah sama kalian. Papih sudah menelantarkan kamu sama anakmu. Papih minta maaf ya." Kali ini demi cucu tercintanya dia meluruhkan semua egonya dan meminta maaf pada Raisya.
"Iya pih. Sama-sama Raisya juga minta maaf sama papih." Tanpa. bisa ditahan mata Raisya mengembun.
"Terima kasih sudah menjaga cucu papih selama ini. Papih merasa bersalah sama kamu Raisya." Ucap tuan Robert menyesali perbuatannya.
"Sama-sama pih. Raisya juga banyak salah papih dan keluarga tidak memberitahukan Arsel selama Ini." Sebenarnya Raisya takut sekali kalau keluarga Alberto akan membawa Arsel dari tangannya.
"Iya Raisya. Mari kita berbaikan lagi. Memulai lagi dari awal agar keluarga kita bisa berkumpul. Papih sebenarnya ingin bertemu denganmu Raisya. Papih ingin memberitahu kondisi Nathan yang sebenarnya. Papih ingin memenuhi keinginannya untuk melamar kamu dan menyatukan kembali kalian dalam pernikahan. Papih mohon kamu mau ya? Papih takut Nathan tidak bisa bertahan lama." Suara serak tuan Robert terdengar
Sepertinya dia sedang menahan tangis.
"Iy iya.. pih." Raisya tidak tahan menahan tangis. Air mata nya langsung berderai suara menjadi berat.
__ADS_1
Ratna langsung menoleh melihat Raisya. Irwan yang ikut-ikutan khawatir melirik sebentar pada Ratna lalu kembali ke depan.
"Apa kamu bersedia? Papih tidak mau menunggu lama lagi, khawatir terjadi apa-apa. Papih minta tolong sama kamu Raisya.. " tuan Robert memohon pada Raisya agar mau menerima lamarannya.
"Baik pih. Nanti kita bicara lagi setelah saya bicara kepada orang tua Raisya." Jawab Raisya tidak bisa langsung memberikan jawaban pada tuan Robert.
"Baiklah.. papih tunggu. Begitu kamu setuju papih akan berangkat ke Bandung untuk melamar. Kalau keluarga kamu setuju, papih menunggu Nathan baikan dan akan membawanya ke sana." Tuan Robert mengungkapkan niatnya.
"Baik pih." Jawab Raisya singkat.
"Kamu hati-hati ya! Salam buat keluarga." Ucap tuan Robert mengakhiri panggilannya.
"Iya Terima kasih." Ucap Raisya.
Raisya menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Lalu menyeka air matanya. Dadanya bergemuruh begitu mendengar kabar Nathan. Ada rasa khawatir dalam diri Raisya tentang keadaan kesehatan Nathan.
"Siapa Sya yang barusan telepon?" Ratna masih setia melihat ke belakang melihat Raisya.
"Tuan Robert." Lirih Raisya.
"Tuan Robert?" Ratna agak kaget.
"Mmm.. "
"Mau apa dia?" Ratna ikut-ikutan khawatir.
"Nanti kita bicara." Raisya tak mau membahasnya sekarang. Hatinya tidak tenang.
"Kamu tidak apa-apa kan Sya?" Tanya Ratna masih penasaran tentang keadaan Raisya
"Sedikit."
"Kamu yang sabar ya!" Ratna memberi suport pada sahabatnya.
"Iya.. bantu doa ya Rat!" Raisya menutup mukanya menahan tangis yang ingin meledak
"Apa kita makan dulu?" Irwan yang selalu pengertian mencari solusi untuk mencairkan suasana.
"Sebaiknya begitu. Kita makan dan istirahat dulu saja yang." Ratna setuju dengan ide Irwan.
__ADS_1
"Oke beb... Tolong bangunkan anak-anak sus!" Irwan menyuruh babysitter membangunkan anak-anak agar bisa mengkondisikan keadaan agar mereka tidak rewel.