Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Komitmen


__ADS_3

"Elu gampang sekali ngelupain!" Sarah langsung menunduk.


"Hidup itu perlu dilanjutkan Sar! Jangan terjebak sama masa lalu! Elu punya tanggungjawab yang gede Sar. Apalagi suami elu seorang direktur, harus bisa mengimbangi dan jadi suport bagi dia!" Hendrik walaupun dalam hati kecilnya masih menyimpan perasaan pada Sarah tapi dia tak mau terjebak pada hubungan yang rumit. Selama ada wanita yang lurus kenapa harus belok?


He he iya gak Readers? Intermezo author!


"Gue bosen dibilangin wanita yang menumpang hidup! Gue pengen membuktikan bahwa gue mampu berdiri sendiri Drik!" Keluh Sarah di sela-sela pemeriksaan yang sedang dilakukan tim medis lain. Ratna yang ikut masuk menemani Raisya memberi kesempatan pada Sarah untuk bisa bicara berdua dengan Hendrik.


"Elu jangan terlalu ambil pusing Sar! Lelah nantinya! Jalani aja sebisa elu jangan maksain kaya gitu! Entar nyasar ke hubungan elu sama suami elu. Jangan sampai beban itu jadi merenggangkan hubungan kalian! Kalau mertua elu bilang kaya gitu cuek aja! Ntar dia capek sendiri! Jangan buang- buang energi Sar!" Hendrik yang tipekel laki-laki supel jarang ribet dengan urusan yang remeh temeh.


"Elu kaya udah pengalaman aja! Pacar aja masih rebutan." Kilah Sarah menanggapi pembicaraan Hendrik.


"Ga pa-pa rebutan kalau sudah jodoh gak kemana Sar! Kaya elu milih Adam ketimbang gue, itu urusan perjodohan yang di atas. Gue santai ajalah! Yang penting usaha." Jawab Hendrik santai.


"Elu masih playboy Drik? Kok deketin Raisya? Gue yakin itu cuman akal-akalan elu aja manasin Nathan." Sarah mencoba menerka-nerka.


"Sejak awal liat Raisya, gue malah melihat kemiripan dengan elu Sar. Gue kenal Raisya semenjak adik gue kuliah. Itu udah 10 tahun. Versi hijabnya elu ada di Raisya." Hendrik tertawa.


"Jadi sebenarnya elu gak bisa ngelupain gue kan Drik?" Sarah melirik wajah Hendrik.


"Ya enggaklah.. emang gue udah pikun Sar?"


"Ih.. dibawa serius malah becanda mulu."


"Gue tuh Sar.. orangnya bebas. Elu tahu sendiri kan pesona gue.' Hendrik menyombongkan dirinya di depan Sarah.


"Iya playboy tapi gak laku-laku!"


"Bukan gak laku Sar. Gue pemilih!" Hendrik menekan kata terakhir 'pemilih'


"Prinsip gue. Namanya pernikahan hanya seumur sekali. Gue bukan asal pilih cewek. Pernikahan pasti membosankan kalau kita gak punya komitmen Sar! ya elu udah berapa tahun?" Hendrik melirik Sarah.


"3 Tahun." Jawab Sarah pendek.


"Lah pastinya sudah mulai goyah kan? Makanya ngajak gue jadi pebinor?" Hendrik bisa menebak hubungan Sarah sedang tak baik-baik saja.


"Ya harusnya elu merasa untunglah tidak harus merayu gue!" Bela Sarah dengan wajahnya yang kurang senang.


"Sar. Saran gue..elu ikutin suami elu baik buruknya! Kalau ada yang salah, kalian komunikasikan, jangan sampai elu egois. Gue tahu elu dari dulu pengen menang sendiri. Jangan sampai Sar suami elu lari ke cewek yang lain. Gue liat dari kaca mata laki-laki ya Sar! He dia liat Raisya saja kaya nafsu lho!" Hendrik yang sudah berpengalaman menjalin hubungan dengan banyak wanita, pasti tahu laki-laki mana yang sedang suka sama satu perempuan.

__ADS_1


"Heh..masa iya sih? Gue denger Adam di kantor jarang deket sama perempuan. Malah yang deket sama si Raisya, si Jacky." Sarah tidak percaya apa yang baru saja dibicarakan Hendrik.


"Emang kalau suka mesti deket? Ya enggak lah! Heh pacaran orang yang sudah berpengalaman di bidang hubungan intim, beda sama pacaran ala-ala bujang lho! Elu kudu ngarti Sar!"


"Maksudnya?"


"Nih gue contohin ya! Kalau elu sekarang gue cium. Elu merasa cukup gak? Gue yakin jawabannya tidak! Elu pasti minta lebih kan?"


"Nah pacaran ala-ala bujang tuh.. kaya si Jacky.. deket tapi hubungannya gak jelas. Gue juga kan cuman bisa ngaku-ngaku doang, gak mungkin langsung nyosor perempuan yang gue suka."


"Elu mesti ati-ati! Pacaran yang sudah berpengalaman kepikirannya langsung ke kasur. Jangan buka celah buat laki lu selonong boy ke cewek lain!"


"Lah elu tahu banget?" Sarah jadi penasaran.


"Gue gini-gini juga gak nyosor bibir sampai sekarang. Elu waktu pacaran sama gue, pernah gak gue cium? Meski gue mau, gue megang prinsip Sar. Gue sering klubing, gue gak pernah minum sama main cewek. Gue suka-suka aja ngobrol sama temen-temen gue. Gak lebih." Jelas Hendrik.


"Wow...jadi pejaka nih ceritanya?" Sarah agak manyun.


"Iya dong! Seratus persen dijamin. Makanya gue nyari yang ori. Gak mau jadi pebinor. Rugi! Gak nikmat."


"Vulgar banget sih elu!" Sarah semu merah karena malu.


Tok


Tok


"Masuk!" Sarat menyuruh perawat masuk


"Ini dok..hasil dari semua pemeriksaan." Salah satu perawat langsung menyodorkan beberapa amplop dari hasil pemeriksaan Raisya.


"Lu mau denger hasilnya Drik?" Sarah mengeluarkan satu persatu hasil pemeriksaan Raisya.


"Kalau hasil operasinya sudah bagus. Lu bisa liat ini ya!" Sarah menunjukan hasilnya di layar.


"Lumayan tingkat kesembuhannya cepet. Terus retak tulang, kayanya ini butuh waktu. Raisya gak boleh kerja berat atau meengangkat yang berat-berat dulu!"


"Terus ini hasil fisioterapi nya. Lah..ini harus rutin kayanya. Ini ada kaitannya dengan retak tulang.


yang diderita Raisya."

__ADS_1


"Jadi sabar ya!" Sarah menyerahkan amplop coklat semua hasil Raisya sama Hendrik.


'Ya gimana lagi. Sebenarnya gue pengen melaporkan kejadian ini. Cuman kurang bukti. Gue agak riskan juga kalau si Nathan masih keluyuran. Elu kenal dia kan?"


"Hhmm."


"Hubungan elu?"


"Adik ipar gue!"


"Ah.. pantesan. Sebaiknya elu bawa adik ipar elu ke psikolog deh!"


"Lah elu lagi ngajarin gue?"


"Abis kesel!"


"Udah kita keluar lihat Raisya! Gue siapin ruangan buat dia sesuai permintaan elu. Tapi bayarannya mahal loh Drik." Sarah menginformasikan seputar harga ruangan executive.


"Gue bayarin!"


"Lah elu tajir! Berapa gajih elu disana?"


"Kepo aja kaya bininya!"


"Eh dasar!" Sarah dari dulu memang merasa nyaman bergaul bersama Hendrik. Tapi sering juga hatinya merasa tidak tenang melihat tingkah Hendrik yang tidak bisa dipegang, alias mudah pindah ke wanita lain.


"Halo semuanya.. Michael kayanya sudah capek ya?" Sarah melihat Michel.


"Enggak." Bohong Michel. Padahal matanya sudah satu watt, waktunya tidur siang.


"Maaf ya..tante Raisya mau pindah ruangan. Jadi Michel harus kembali ke ruangan Michel!" Rayu Sarah.


"Kenapa?" Mata Michel mendadak mengerut.


"Tante Raisya harus dijaga polisi. Jadi gak bisa sembarangan orang masuk.


"Kenapa?"


"Karena tante Raisya butuh istirahat biar cepet sembuh! Kalau tidak dijaga nanti tante Raisya tidak bisa tidur." Sarah gemes.

__ADS_1


__ADS_2