
Kedua wanita itu berjalan bergandengan dengan bahagia. Baru kali ini Raisya terlihat senang.
"Mbak mau duduk dulu?" Aisyah menawarkan untuk duduk ketika sampai di sebuah gazebo.
"Boleh." Jawab Raisya yang sudah mulai lelah. Semenjak hamil, badannya cepat lelah dan mudah capek. Tadi dia berjalan sambil menyusuri pinggiran pantai bersama Aisyah juga Anwar. Ketiga orang itu nampak sangat senang juga bahagia.
Ketiganya duduk di gazebo yang ada di tempat wisata pantai Ancol.
Di tempat yang sama juga dua orang beda gender yang kembali rujuk, sedang menikmati pesisir pantai sesekali memainkan pasir dengan kakinya sambil menikmati deburan ombat yang tenang mengenai bebatuan di sepanjang pesisir pantai. Keduanya cukup menikmati suasana santai juga menenangkan. Ada rasa tenang juga damai.
Sepasang netra teralihkan pada ketiga orang yang sedang duduk di sebuah gazebo. Dia merasa ikut senang melihat ketiga orang itu sedang tertawa. Mungkin mereka sedang saling bercerita lucu sampai ketiganya tertawa cukup lepas.
"Aku juga mau duduk di sana Jack. Sambil makan-makan kayanya enak." Sherly menunjuk ke sebuah gazebo yang masih kosong dekat dengan ketiga orang yang telah duduk terlebih dahulu.
Jacky hanya mengangguk. Keduanya pun berjalan mendekati gazebo yang masih kosong. Pandangan Jacky sekilas melihat pada ketiga orang itu, tapi dia tidak terlalu detail.
Keduanya duduk santai sambil bersandar ke tiang gazebo menikmati semilir angin yang datang berhembus.
Dari Gazebo yang sedang ditempati Jacky masih terdengar obrolan mereka yang lumayan hangat, meski tidak jelas.
"Aku juga punya cerita lucu seputar pantai." Sekarang Raisya terlihat lebih ceria dan antusias menceritakan pengalamannya ketika main di pantai. Tadi Anwar dan Aisyah bercerita lucu tentang pengalaman mereka bermain di pantai ketika waktu kecil.
"Apa tuh mbak?" Aisyah dan Anwar begitu perhatian. Wajah keduanya kini sedang menatap. Raisya. Jarang-jarang Raisya bercerita karena selama satu bulan ini Raisya terlihat pendiam dan introvert.
"Aku punya cerita lucu tapi cukup menyeramkan juga. Dulu aku pernah datang ke pantai ini, ya sama untuk jalan-jalan. Pas waktu mau makan aku tuh kesal sama seseorang, ya mbak pergi aja ninggalin dia di tempat makan. Terus mbak jalan aja naik di sekitar bebatuan di sana." Raisya menunjukkan tempat kejadian pada Aisyah dan Anwar.
"Sebelah mana sih mbak?" Aisyah penasaran.
__ADS_1
"Sebelah sana! Nanti mbak tunjukin ya sambil kita makan di sana." Ucap Raisya.
"Terus gimana mbak?" Aisyah masih penasaran.
"Pas mbak jalan di atas bebatuan, dikira orang, mbak mau bunuh diri. Cerita nya ada seseorang yang mau nolongin mbak. Karena dia berteriak, ya mbak kagetlah, terus mbak terpeleset deh dari bebatuan, Akhirnya mbak nyebur ke laut.
"Terus mbak gimana dong?" Aisyah penasaran.
"Ya dibawa ke rumah sakitlah. Mbak gak bisa renang, apalagi di laut gini. Mbak tenggelam bukan karena bunuh diri melainkan kaget." Terang Raisya.
"Benar cerita lucu yang menyeramkan." Aisyah mengangguk-anguk.
"Aku mau dong lihat ke sana mbak!" Aisyah begitu antusias.
"Hayu. Sembari kita makan di sana. Ada cafe unik juga di sana. Kata orang sih sate nya enak." Raisya yang sudah mulai keroncongan semangat pergi ke kafe itu untuk mengisi perutnya.
"Ayo kita ke sana! Kita makan terus pulang." Anwar pun berdiri mereka sama-sama lapar ternyata. Mereka bertiga pun meninggalkan gazebo dan pergi untuk mengisi perutnya sambil melewati tempat kejadian waktu itu Raisya tercebur di laut.
"Siapa yang kau lihat Jack?" Sherly mengikuti arah pandangan Jacky.
"Sepertinya aku mengenal suara seseorang." Jacky hanya bisa melihat punggung ketiga orang itu menjauh.
"Siapa Jack?" Tanya Sherly penasaran.
Jacky terdiam. Dia tak mau menyebutkan nama itu. Khawatir Sherly moodnya jadi buruk. Bahkan untuk pergi memastikannya saja Jacky terlalu segan.
"Mungkin aku salah dengar." Jacky kembali membalikkan badan berhadapan dengan Sherly tidak membahasnya lagi. Meski dia selalu teringat Raisya, tapi dia bingung harus mencari kemana lagi.
__ADS_1
"Ah.. aku ingin menyandar disini!" Sherly lalu bergeser dan bersandar di bahu Jacky dengan pandangan menatap luas ke arah laut lepas.
Jacky membiarkan Sherly bersandar senyaman mungkin di bahunya, apalagi sekarang dia sudah menjadi istrinya. Kalau bukan karena sakit, Jacky mungkin tidak akan menikahi lagi Sherly. Demi alasan kemanusiaan dia mengalah.
Meski begitu, kebencian Jacky kini sudah berubah jadi sayang pada Sherly. Bagaimanapun Sherly adalah perempuan pertama yang membuat dia jatuh cinta. Kalau bukan karena Nathan mungkin sejak dulu Jacky sudah menikah dengan Sherly. Mungkin sudah takdirnya keduanya harus bersatu dalam ikatan pernikahan.
"Jacky.. waktu aku tidak banyak. Sejak kita menikah kamu belum pernah menyentuhku sekalipun. Apa kamu tidak mau?" Lirih Sherly pada Jacky.
Secara laki-laki Jacky pun ingin sekali berhubungan badan dengan istrinya. Tapi dia tidak ingin Sherly yang lagi sakit malah nantinya sakitnya malah bertambah.
"Kamu kan lagi sakit Sher.. kamu sembuh saja dulu!" Ucap Jacky sama-sama melihat ke arah laut, entah apa yang sedang ditatapnya. Semua takdir dan semua yang menimpanya kini sedang berputar. Pantai ini juga yang dulu menjadi tempat pelarian dari malam pengantin dari Sherly.
"Tapi aku mau Jacky. Sejak kecelakaan waktu itu bersama Nathan, aku belum pernah berhubungan dengan siapapun. Mungkin penyakitku ada hubungan dengan psikis aku Jack. Aku sudah konsultasi dengan beberapa psikolog, aku mungkin menyimpan pikiran yang lebih dalam tubuhku sehingga menimbulkan penyakit." Sherly berbicara jujur.
Memang menurut penelitian semua penyakit asalnya dari pikiran. Hanya sebagian kecil faktor makanan dan juga genetik. Bisa jadi batin Sherly selama ini menderita akibat, ujian yang menimpanya selama ini. Sehinga lambat laun menggerogoti tubuhnya.
Jacky menatap Sherly. Entahlah untuk waktu sekarang Jacky hanya mempunyai rasa kasihan saja pada Sherly, tidak lebih.
Tangan Sherly perlahan meraba dada Jacky.
"Aku rindu sentuhan kamu Jacky. Sentuhan kamu yang penuh cinta yang bergelora. Apa kita tak bisa memulainya Jack?" Sherly bergeser lalu berubah menatap Jacky lebih inten.
Mereka bersitatap, Jacky menatap Sherly dengan lebih dekat. Tapi anehnya tak ada getaran apapun yang dirasakannya saat ini.
"Kenapa? Apa kamu sungkan? Apa pikiran kamu masih bersama perempuan itu Jack?" Sherly melihat wajah Jacky, dia sedang mencari jawaban atas pertanyaannya itu di mata Jacky.
Matanya menyiratkan sebuah jawaban meski Jacky tidak menjawab.
__ADS_1
Sakit. Itulah yang dirasakan Sherly saat ini. Melihat mata suaminya menyimpan sesuatu yang dipikirkannya.
"Coba ikhlaskan Jack.. agar kita bisa menikmati kebersamaan kita." Sherly mengelus pipi Jacky dengan tatapan penuh damba.