
"Aku tuh janda beranak dua, juga mempunyai mantan mertua yang cukup berpengaruh untuk mengatur hidup aku. Terus.. aku juga bukan perempuan yang sempurna yang bisa melahirkan lagi. hik hik hik.. " Raisya terisak menangis.
"Sayang... kemu menangis? Maafin aku ya.. aku egois... maafin aku ya.. aku janji gak bakal nuntut kamu. Asal kamu bahagia.. aku ikut bahagia. Sekarang jangan sedih gitu.. aku sayang kamu apa adanya. Kalau kamu belum siap menikah denganku... ya udah kita jalani seperti ini aja.. yang penting aku selalu sayang sama kamu juga sama anak-anak kamu." Dokter Ferdi ikut sedih mendengar Raisya terisak di seberang telepon.
"Maafin aku dokter.. akunya selalu sensitif. Jangan tersinggung ya!" Raisya tak enak hati kalau sikapnya barusan menyinggung dokter Ferdi. Entahlah kalau sudah main hati urusannya jadi ribet. Saling menuntut dan saling ingin dimengerti.
Berbeda dulu ketika dekat dengan Jacky, keduanya memang tidak pernah menuntut karena hubungannya memang tidak jelas.
"Gak pa-pa.. aku hanya kangen denger suara kamu. Sekarang kamu tidur ya! Jangan lupa makn vitaminnya!" Dokter Ferdi segera menormalkan kondisi agar Raisya kembali nyaman berbicara dengannya.
"Ya baiklah. Saya istirahat dulu ya dok!" Raisya ingin menulyudahi pembicaraan dengan dokter Ferdi.
"Iya. Assalamu'alaikum." Dokter Ferdi menutup telepon.
"Waalaikumsalam." Jawab Raisya.
Tak terasa malam berlalu, pagi pun datang. Raisya dan anak-anak sudah berkumpul di ruang makan siap untuk sarapan.
"Pih.. Raisya mau minta izin untuk terapi. Nanti berangkat bareng anak-anak sekolah." Raisya mendahului berbicara pada taun Robert.
"Iya... nanti pulangnya kamu dijemput sopir. Papih mau menjenguk Jacky sama mamih." Tuan Robert agak sedikit kecewa pada Raisya kenapa dia tidak bicara ingin menjenguk Jacky.
"Oh iya pih...Nanti Raisya biar pulang terapi nunggu dulu Arsel dulu. Habis itu Raisya mau jenguk Jacky." Raisya mendadak lupa akan niatnya menjenguk Jacky.
"Gak usah repot-report kamu istirahat saja!" Tuan Robert berdiri meninggalkan meja makan dengan raiut wajah dingin.
Raisya hanya menatap punggung tuan Robert dengan wajah pertanyaan "Apa aku salah bicara ya?"
"Mamih mau berangkat juga?" Raisya memandang istrinya tuan Robert yang masih ada di depannya.
"Iya." Nyonya Rosa pun hanya diam, dia tahu kalau suaminya agak kecewa pada Raisya.
__ADS_1
"Nanti Raisya menyusul ke sana mih, Raisya tidak jadi terapinya" Raisya mencoba untuk memperbaiki kesalahannya.
"Sebaiknya tidak usah! Kamu kalau mau pulang ke Bandung silahkan saja! Tadi malam mamih sudah bilang ke papih." Nyonya Rosa pun berdiri meninggalkan meja menyusul suaminya yang sudah menunggu di dalam mobil.
Raisya hanya bisa diam. Tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Apa tuan Robert dan istrinya marah? Sampai melarang dirinya untuk menjenguk Jacky.
Ah... sepertinya aku salah?
Raisya jadi tidak enak hati kalau sudah begitu.
"Papih kenapa sih kok pergi begitu saja?" Istrinya menegur tuan Robert.
"Gak pa-pa.. sepertinya papih tidak bisa berharap banyak pada Raisya. Kita seperti mengemis-ngemis. Memangnya anak kita tidak laku apa? Dasar anaknya saja bodoh! Di dunia ini masih banyak wanita cantik, kenapa harus memperebutkan dia." Tuan Robert menggerutu.
"Tapi bagaimana dengan Jacky pih? Kalau ngamuk-ngamuk gimana?"
"Jacky harus sabar menerima kenyataan ini mih. Dia mesti bisa berbenah diri. Jangan terus-terusan berharap sampai harus ngemis-ngemis sama Raisya. Kenapa dengan anak-anak kita ini?" Suasana hati tuan Robert sedang tidak enak, pikirannya sedang tidak enak diajak bicara.
"Ya sudahlah.. mulai sekarang terserah dia mau melakukan apa saja." Tuan Robert sudah tidak mau ambil pusing dengan sikap Raisya yang susah ditebak.
"Ya sudah.. papih juga harus ikhlas. Kalau kita nanti akan kehilangan Arsel juga Michel." Istrinya tahu Raisya tak mudah melepas kedua anaknya.
Tak lama kemudian mobil yang dikendarai tuan Robert dan istrinya telah sampai di rumah sakit dimana Jacky dirawat.
Keduanya beriringan masuk ke ruangan Jacky sambil menenteng sebuah wadah makanan. Tadi nyonya Rosa sengaja menyuruh pembantunya memasak. kesukaan Jacky.
"Pagi.. " Tuan Robert masuk ke dalam ruangan Jacky. Kebetulan visit dokter sudah berlalu jadi tuan Robert bisa leluasa mengunjungi Jacky. Sekarang Jacky sudah bisa duduk meski kakinya masih tergantung ditahan alat.
"Raisya mana mih?" Jacky langsung menanyakan Raisya.
"Jacky.. sebaiknya kamu jangan banyak berharap sama Raisya. Coba kamu buka hati biar pikiran namun tidak terus-terusan melihat Raisya. Papih sudah angkat tangan Jack.. kita gak mungkin terus-terusan mengemis pada Raisya. Kamu nanti akan menderita kalau kamu terus mengemis pada dia. Carilah perempuan yang benar-benar mencintai kamu. Cobalah kamu menerima dia apa adanya." Tuan Robert menghela nafas kasar.
__ADS_1
Jacky terdiam. Pasti ada alasan kenapa papahnya bicara seperti itu. Kemungkinan dia ditolak Raisya.
"Baik pih.. " Jacky berkata lirih. Suasana Jacky sedikit stabil. Mungkin pengaruh terapi yang dilakukannya membuat efek tenang.
"Jacky.. mamih bawa makanan kesukaan kamu. Mau coba?" Ibunya Jacky tak mau Jacky terlalu berpikir keras mengenai Raisya. Dia mencoba mencairkan suasana.
"Baik mih." Walaupun malas Jacky berusaha untuk tidak mengecewakan ibunya. Dengan tekaten ibunya menyuapi Jacky sayur opor dan emping. Sesekali dia tersenyum untuk menyembunyikan rasa sedih dalam hatinya.
Di lain tempat Raisya pergi dengan sopir mengantarkan anak-anak lalu lanjut terapi. Dia juga bingung kalau harus diam di rumah tanpa kegiatan.
Karena Raisya masih ada waktu kosong sambil menunggu Arsel pulang, dia lanjut ke pelatihannya. Ya Raisya begitu senang. Di hari pertama pelatihan Raisya merasa bersemangat. Tak terasa waktu pun berlalu, sekarang waktunya menjemput Arsel.
Raisya diantar sopir menjemput Arsel.
"Mama.. " Arsel terlihat bahagia ketika melihat ibunya sudah menjemput.
"Eh.. sayang mama... " Raisya memeluk Arsel dengan erat.
"Ayo kita pulang!" Raisya menuntun Arsel untuk memasuki mobil.
"Pak.. boleh saya minta antar ke rumah teman saya? Saya akan menunggu Michel disana. Nanti bapak jemput Michel kalau sudah pulang." Raisya ingin pergi ke rumah Ratna.
"Baik bu." Sang sopir tidak banyak menolak. Dia mengantarkan Raisya ke rumah Ratna.
Tak lama kemudian mobil pun sampai, Arsel begitu senang ketika mobil itu terparkir. Dia langsung membuka handle pintu dan berlari ke dalam.
"Raisya... " Ratna kaget melihat Raisya ada di depan rumahnya.
"Eh.. kenapa kamu ada di sini? Kamu gak ikut mengantar Jacky?" Ratna agak heran melihat Raisya datang.
"Maksudnya?" Raisya melongo.
__ADS_1
"Jacky dibawa ke Singapur lho.. "