
"Kamu menarik Raisya." Netra Nathan tajam melihat bibir Raisya yang begitu menarik perhatiannya. Sejak malam itu Nathan seperti mendamba jika melihat Raisya. Apalagi sekarang Raisya mendekatinya dan dia begitu sangat dekat dengan Nathan. Irama Jantung keduanya mulai berlomba memacu adrenalin. Raisya mendorong dada Nathan dan memalingkan wajahnya begitu pikirannya dibuat tak sehat.
"Aku tidak mau disuruh seenaknya pak Nathan! Anda sudah keluar jalur." Raisya lalu melengos kembali ke meja kerjanya.
Reza yang sedari tadi ada di ruangan Nathan ikut deg-degan menyaksikan adegan keduanya. Nathan negitu dekat bahkan hampir menempel. pada wajah Raisya.Bagaimana tidak pikiran Reza tidak kacau. Adegan tadi seolah pembukaan film blue yang biasa ditonton para orang dewasa yang kurang kerjaan. Nathan tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran Reza dan bersikap seolah di ruangan itu tidak ada siapapun. Pergerakan Nathan tidak seperti laki-laki biasa, dia menatap Raisya dengan nafsu memburu dan Reza merasakan sikap bosnya yang arogan seolah terhipnotis begitu saja ketika Raisya mendekatinya.
Dia menarik nafas panjang.
"Sebaiknya Michel jangan diantar dulu pak Nathan! Biarkan dia ada di ruangan. Bu Raisya pun keberatan untuk mengantarkan Michel. Sedangkan hari ini kita punya agenda bertemu pak menteri untuk mendiskusikan agenda pariwisata yang akan berkolaborasi dengan perusahaan kita pak! Pak menteri meminta kita untuk mengadakan lawatan dan kunjungan ke daerah-daerah wisata untuk mengenalkan budaya Indonesia dengan mengusung sponsor kita pak. Bukankah itu kesempatan baik pak untuk meningkatkan daya beli jual masyarakat Indonesia juga menaikkan pelanggan pada branded merk perusahaan kita." Reza panjang lebar menerangkan agenda penting pertemuannya hari ini.
"Kita akan rapat dulu sebentar untuk melihat persiapan undangan untuk pentas fashion show musim ini. Aku tak mau ada yang terlewat sedikitpun." Pinta Nathan pada Reza.
"Baik Pak! Saya sudah siapkan."
"Keduanya masuk ke ruang rapat team."
"Baik.. kita mulai rapatnya! Aku ingin mendengar semua persiapan fashion show untuk musim ini." Nathan memulai bicara dengan nada berat kharismatik.
"Bagaimana dengan semua model? Kontrak dan perjanjiannya sudah diselesaikan?"
"Sudah pak. Bahkan pak Adam sudah acc. Sekarang sedang dilakukan pemotretan dalam ruangan pak. Selanjutnya kita akan menunggu kerjasama dengan menteri pariwisata juga menteri perdagangan untuk kolaborasi kerjasama produk kita juga pemasaran pariwisata." Jawab Tedi.
"Oh iya pak. Kita sedang menunggu kontrak dengan model asal Korea yang sedang dilobi oleh pak Jacky. Itu akan membutuhkan persiapan matang karena akan terjadi lonjakan permintaan pertemuan dari pihak TV juga swasta lainnya jika mereka berkunjung kesini."
Nathan terlihat manggut-manggut.
"Dan untuk persiapan produksi dan undangan para tamu bagaimana? Sudah dipersiapkan?"
"Sudah pak! Setiap klien sudah di daftar pak! Dan ada permintaan penambahan kuota dari Singapura pak! Kemarin ada temannya pak Adam. yang siap membeli produk dengan uang muka 70 persen kalau memang produk kita memakai model artis Korea. Karena diperkirakan akan terjadi lonjakan permintaan jika memang berhasil."
"Oke. Untuk kunjungan formalitas ke gerai utama apakah sudah dipilih gerai mana yang akan dipakai sesi ketemu fans?
__ADS_1
"Sudah pak!" Bahkan dari beberapa gerai luar meminta khusus dan mereka siap menanggung operasional kita jika diperkenankan untuk mengunjungi bersama model."
"Baik. siapakan nanti kunjungan yang akan kita manfaatkan untuk meningkatkan pemasaran. Seperti Bali, lombok dan daerah-daerah yang paling disukai para pelanggan."
"Baik Pak. Nanti akan saya laporkan kembali tentang kerjasama produk kita juga persiapan ke depan setelah semuanya sudah fix."
"Baik. Laporan segera buatkan mana yang sudah mana yang masih progres dan mana yang belum sama sekali." Nathan mengulang apa saja yang mesti disiapkan semua team.
"Baik pak!" Serempak mereka menjawab.
"Aku akan meeting dengan pak menteri. Jika ada yang penting dan ingin ditanyakan silahkan hubungi Reza. Nathan berdiri dan rapat team selesaikan.
"Michel Daddy berangkat dulu ya mau rapat
Kamu tak apa-apa menunggu disini?" Michel yang sedang tidur selonjoran sambil melihat i-padnya melirik pada ayahnya. Mata Nathan malah melihat Raisya yang sudah kembali ke mejanya. Netra anak kecil itu mengikuti arah tatapan ayahnya. Lalu dia bangkit mendekatkan bibir munggilnya ke telinga Nathan yang posisinya sedang duduk di sofa.
"Daddy naksir tante Raisya ya?" Nathan langsung menoleh melihat Michel.
"Cantik." Lalu Nathan meniup. telinga Michel perlahan untuk menggodanya.
"Ih geli... " Michel langsung memegang telinganya yang ditiup halus.
"Sudah daddy tinggal. Jangan nakal ya! Nanti kalau mau tidur sama makan minta mbak Ina! Jangan minta gendong tante Raisya!" Pesan Nathan sebelum meninggalkan ruangan.
"Baik daddy.. " Michel langsung memeluk kaki Nathan yang jangkung. Anak itu benar lucu dan menggemaskan.
"Mbak Ina. Jangan sampai makannya terlewat. Dan satu lagi nanti siang suruh tidur siang!" Aura diktator nya terdengar jelas memerintah.
Reza dan Nathan keluar dari ruangan berlalu menemui rapat.
"Ah.. bebas. Gue mau keluar dulu ya! Cek lapangan. Kamu Tedi kerjakan yang ini, ini. dan kalau sudah kasih ke Raisya agar dibuatkan laporan. Nanti simpan berkasnya di meja! Irawan membagi tugas yang harus dilakukan.
__ADS_1
"Oke!" Serempak menyahut.
"Eh.. gue nanti izin ya jam 11. Ada keperluan dulu. Nanti jam 1sudah ada di. ruangan lagi." Raisya meminta izin pada Irwan.
"Tapi elu beresin dulu laporan minimal satu. Ntar bapak beruang dateng ada yang mesti dibaca juga. Kali enggak elu jadi santapan!" Ancam Irwan serius.
"Oke bawahan beruang." Raisya langsung berkutat dalam komputer.
"Kaya elu bukan bawahannya aja!" Irwan langsung melengos.
"Tante... " Michel mulai kesal. dengan I-padnya.
"Iya ada apa anak cantik?" Raisya membungkuk mensejajarkan posisinya dengan Michel.
"Michel mau gendong!" Dia membentangkan tangannya.
"Duh.. tante gak bisa ngangkat yang berat dulu Michel!" Tolak Raisya yang baru dia hari ini keluar dari rumah sakit. Tangannya tidak boleh ngangkat yang berat-berat.
"Tante.. " Michel memelas.
"Mbak Ina bagaimana ini?" Raisya bingung.
"Kayaknya ngantung bu Raisya. Kalau dipangku sebentar bagaimana? Nanti kalau sudah tidur biar saya tidurkan di ruang pak Nathan." Ina baby sister Michel meminta bantuan Raisya.
"Angkat sama mbak Ina kesini! Tangan saya gak boleh dulu mengangkat yang berat-berat." Keluh Raisya.
"Iya." Michel diangkat lalu dibaringkan dipangkuan Raisya. Dia segera menyusup ke dada Raisya seperti bayi yang sedang minta ditelonin.
"Hah.. elu udah pantes Sya jadi emak-emak! Kayanya sih gantiin emaknya bocah itu!" Tedi tertawa melihat Raisya memangku Michel.
"Berisik! Anak beruang ngantuk nih!"
__ADS_1