Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Tranfer


__ADS_3

"Kiriman psikopat."


Jacky langsung menghamburkan semua makanan yang ada dalam mulutnya.


"Ih jorok kamu!" Ratna membentak, merasa jijik muntahan Jacky berserakan di lantai.


"Lagian elu gak bilang Ini dari awal. Kalau tahu gue buang ke tong sampah." Dengus Jacky sambil mengelap mulutnya pakai tisu.


"Lah.. elu main embat aja sih! Lagian elu kaya lapar banget."


"Emang gue lapar. Gue langsung pergi kesini gak sempet ngisi perut. Ya udah gue panggil dulu OB buat membersihkan lantainya." Jacky berdiri lalu memanggil OB.


Tak lama kemudian OB datang membersihkan muntahan Jacky yang berserakan di lantai.


"Elu masih lapar? Gue pesenin makanan. Biar yang ini kasih aja ke OB. Gue males menerima pemberian dia." Ratna menghempaskan badannya di sofa.


"Biar gue yang pesen. Elu mau apa?" Jacky melirik Ratna yang ada di sampingnya.


"Belum laper."


"Jangan nunggu laper! Nanti males keluar." Jacky keukeuh ingin memesan makanan.


"Gampang tinggal pesan Jacky. Gak usah ribet!"


"Gue mau keluar dulu ada urusan. Jadi biar sekalian gue beliin." Terang Jacky.


"Lu maun kemana sih?"


"Kepo! Urusan laki!"


"Elu.. jangan macem-macem! Ntar gue susah gimana?" Ratna mencemaskan Jacky.


"Enggak. Gue mau tanya-tanya, katanya ada bengkel tulang yang bagus. Gue mau panggil kesini tapi gue juga bingung ntar dokter marah gak sama gue? Takutnya malah gue disalahin."


"Oh. jadi elu mau panggil tukang bengkel tulang ke rumah sakit?"


"Iya. Biar penyembuhannya lebih cepet. Kata supir gue dia tahu bengkel tulang bagus. Dulu sodaranya pernah tabrakan sampai patah tulang. Tapi bisa normal lagi. Gue mau coba tapi bingung.. eung!"

__ADS_1


"Gini aja! Besok kan Raisya ditransfer. Bagaimana pas keluar dari sini kita bawa dulu ke sana? Kalau elu mau panggil sekarang suruh dilihat aja dulu! Besok dibenerin. Gimana?"


"Iya udah gue setuju." Jacky berdiri.


"Elu mau makan apa?'


"Hokben sama pizza."


"Oke. Gue berangkat dulu!"


"Iya..Ati-ati di jalan!"


"Oke." Jacky berjalan lalu keluar ruangan pergi sesuai rencananya, memanggil bengkel tulang.


"Rat.. Jacky pergi kemana?" Dari tadi Raisya mendengar pembicaraan Ratna dan Jacky tapi tak berani ikut bicara.


"Ke tukang bengkel tulang Sya. Buat membantu elu lebih cepet sembuh. Kasian kan elu terbaring tiga hari disini. Kan pengen juga elu gerak." Ratna duduk di samping Raisya.


"Elu gimana? Apa yang dirasa?" Ratna menanyakan keadaan Raisya.


"Lebih baik Rat. Gue hanya bisa berdoa sama Allah pemilik jasad kita, Dia lebih tahu kerusakan tubuh kita dan dengan kekuatan-Nya dia mudah sekali menyembuhkan kita. Tugas kita kan sudah berikhtiar dengan datang ke dokter. Gue pasrahin semuanya sama Allah untuk penyembuhannya.


"Dilatih Rat. Banyak dzikir. Setiap kita merasa sakit terus aja berdzikir. Pasrah meminta tolong sama Allah sang Maha Pencipta. Titik pasrah kita harus full Rat. Jadi hati dan pikiran kita bisa lebih tenang. Percaya seratus persen padaNya. Jangan mengutamakan iktiar di atas doa. Doa dulu baru ikhtiar. Setiap manusi diuji dengan kemampuannya. Jadi tinggal sabar dan berusaha. Selebihnya kita pasrahkan sama Allah Rat."


"Iya Sya! Gue beruntung punya temen kaya elu Sya! Jangan tinggalin gue ya Sya!" Ratna mengelus tangan Raisya. Sebenarnya dia ingn sekali memeluk Raisya dengan erat tapi hal itu tak mungkin dia lakukan. Karena Raisya harus tidur terbaring bedrest.


"Maaf.. sekarang jadwal pemeriksaan ya! Salah satu perawat masuk ke ruangan diikuti dokter yang menangani Raisya.


"Sekarang kita ke ruangan rongsen ya sama USG untuk melihat perkembangan nona Raisya." Dokter itu memberitahu Ratna juga Raisya.


"Baik dok! Saya boleh ikut?" Ratna melihat dokter menanyakan apakah dirinya boleh ikut menemani Raisya.


"Boleh. Anda teman pasien?" Dokter balik bertanya.


"Iya."


"Bagus. Nona Raisya punya teman yang setia menunggu. Mudah-mudahan jadi suport bagi pasien untuk cepat sembuh ya!" Dokter tersenyum memberikan motivasi positif untuk pasien dan walinya.

__ADS_1


"Aamiin dok! Semoga dia cepat sembuh dok! Dia orangnya kuat dok! Saya yakin dia bisa cepat sembuh."


"Bagus. Banyak berdoa juga ya! Dokter dan yang lainnya hanya bisa berikhtiar selanjutnya tergantung pasien. Seberapa kuat dia ingin sembuh dan juga seberapa besar dia bisa berdoa." Dokter memberi suport bagi Raisya agar banyak berdoa.


"Iya dok!" Ratna mengiyakan.


"Oke kalau begitu kita ke ruang rongsen dulu melihat kondisi tulang yang terkena benturan. Nanti kita USG untuk hasil operasinya."


Dua perawat mendorong blankar Raisya menuju ruang rongsen. Ratna berjalan mengikutinya dari belakang.


"Masya Allah hasilnya bagus nona Raisya. Penyembuhannya terbilang cepat. Kalau mau dipindahkan sekarang juga pasien sudah bisa." Dokter memperlihatkan hasil rongsen di layar dan USG nya.


"Oh begitu ya dok?" Ratna sangat senang mendengar kabar dari dokter mengenai perkembangan kesehatan Raisya.


"Iya. Saya kagum. Biasanya pasien paska operasi bisa pulih seperti ini dalam jangka seminggu. Ini malah baru dua hari sudah menunjukkan hasil yang baik. Bersyukurlah ya! Semua atas kuasa yang di atas. Anda bisa sembuh bukan karena dokter karena hakekatnya Allah jua yang menyembuhkan."


"Baik dok! Kalau begitu saya siap-siap untuk memindahkan teman saya ke Jakarta. Saya sedang menunggu teman saya yang satu lagi."


"Baik. Dan satu lagi. Jika anda membutuhkan laporan. Ini saya sudah buatkan jika sewaktu-waktu anda mau melaporkan ke pihak. kepolisian. Dan surat rujukan tentang kesehatan nona Raisya sudah disiapkan untuk persiapan tranfer."


"Baik dokter. Saya ucapkan banyak terima kasih atas bantuan anda."


"Iya sama-sama. Semoga lekas sembuh ya nona Raisya." Dokter tersenyum memberi doa dan dukungan."


"Aamiin."


Tak lama kemudian Jacky datang dan mengurus semua administrasi rumah sakit.


"Rat.. elu langsung pulang aja. Biar nanti sopir gue yang antar elu ke rumah. Gue ikut Raisya naik ambulan."


"Baiklah. Entar gue nyusul ya ke rumah sakit."


"Iya. istirahatlah dulu. Biar elu fit."


"Oke!"


Setelah menempuh perjalanan selama 2jam akhirnya Raisya sampai di rumah sakit Jakarta. Perawat membawa Raisya ke ruangan yang telah dipesan Jacky. Sarah sudah menunggu di dalam ruangan.

__ADS_1


"Oh jadi ini hasil karya dia? Ya ampun..Nathan!" Sarah tak menyangka Nathan nekad.


__ADS_2