Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Sama-sama menunggu


__ADS_3

"Bunda... apa. yang terjadi dengan daddy?" Michel menangis dalam pelukan Raisya. Dia kaget tiba-tiba ayahnya ada di ruang operasi. Padahal tadi masih berkomunikasi lewat pesan.


Mereka duduk berdua tepatnya di depan ruang operasi. Menunggu hasil operasi Nathan dengan berharap-harap cemas. Ribuan doa dilantunkan dalam hati agar yang didoakan selamat sesuai harapan.


Raisya dan Michel sama-sama menangis. Raisya tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi dengan Nathan langsung pada Michel. Selain dia takut, dia pun memang tidak siap menanggung perasaan bersalah.


Sekarang rasa bersalah sedang menyelinap masuk di hati Raisya. Andaikan dia tidak memperlakukan Nathan seperti itu, mungkin Nathan tidak akan nekad. Tapi apalah daya, nasi sudah jadi bubur. Sekarang yang bisa dilakukan Raisya adalah dengan banyak berdoa memohon panjang umur dan selamat untuk Nathan, ayah Michel dan Arsel.


"Sya... " Ratna menghampiri dan langsung memeluknya. Memberi dukungan moril pada sahabatnya.


"Sabar ya sayang..." Ratna mengelus lembut dibalas dengan pelukan Michel.


Lampu berubah menjadi hijau menandakan operasi telah selesai. Dokter keluar dari kamar operasi dan langsung disambut oleh Raisya ditemani Ratna.


"Bagaimana dok?" Raisya bertanya dengan penuh harap.


"Alhamdulilah berjalan lancar. Tapi pasien sedang masa observasi, belum bisa ditengok. Nanti kalau masa kritisnya sudah aman akan dipindahkan ke ruang perawatan." Penerangan dokter cukup membuat semua bisa bernafas dengan lega.


"Alhamdulillah... Terima kasih dok!" Ratna mewakili Raisya mengucapkan terima kasih pada dokter yang telah menangani Nathan.


"Iya sama-sama." Dokter berlalu dari hadapan mereka bertiga.


"Sya.. kamu istirahat dulu! Biar Arsel, Irwan yang menunggu. Michel sama bunda pulang ya!" Ratna tak ingin Raisya kelelahan.


"Aku... mau disini saja Rat. Aku tidak tenang kalau harus meninggalkan Arsel." Raisya menolak permintaan Ratna. Mana mungkin dia meninggalkan Arsel sendirian.


"Aku juga tante. Aku mau menunggu daddy sadar. Bagaimana nanti kalau daddy mencari aku." Michel tidak tenang juga kalau belum melihat kondisi ayahnya.


"Ya sudah.. nanti kita bergilir saja ya. Aku akan menemani kamu dulu. Sementara Irwan akan pulang dulu." Ratna tak ingin melihat Raisya sendirian.


"Sikembar bagaimana?" Raisya mengkhawatirkan sikembar karena harus ditinggalkan.

__ADS_1


"Ga pa-pa ada mama sama pa-pa, Irwan kan pulang dulu Sya." Terang Ratna menenangkan Raisya agar tidak mengkhawatirkan anak-anaknya.


"Maafkan aku ya Rat.. jadi merepotkan kamu." Imbuh Raisya yang tak enak hati sudah banyak merepotkan Ratna. Karena selama ini Ratnalah yang membantu Raisya bangkit dari keterpurukan setelah bercerai dengan Nathan.


"Ga pa-pa Sya.. kaya siapa aja. Itulah gunanya teman. Aku juga tidak ingin menyesali kesalahan aku yang telah lalu sama kamu. Aku ingin persahabatan kita bisa bertahan sampai akhir hayat kita." Ratna mengelus punggung sahabatnya.


"Baiklah.. kita semua ke ruangan Arsel. Kita bisa istirahat di sana sambil menunggu kondisi Nathan. Dasar Nasib harus ketemu dia lagi." Keluh Ratna yang pernah mengalami hal-hal sulit pada masa itu.


Ketiga masuk ke ruangan Arsel. Terlihat Irwan duduk di tepian ranjang sedang menyuapi Arsel yang sudah terbangun.


"Eh.. anak mama sudah bangun?" Raisya langsung memasang muka sumringah lalu disambut Arsel yang membentangkan tangannya minta dipeluk.


"Mama.. " Anak lucu itu kini sudah ada sedikit tenaga setelah mendapatkan bantuan infusan dan makan. Sekarang sudah tidak muntah lagi. menurut dokter Arsel kena gejala typus.


"Sya.. kamu nggak apa-apa. aku tinggal?" Irwan meminta izin pulang dahulu. Selain ada beberapa pekerjaan dia juga membutuhkan istirahat.


"Gak pa-pa Wan.. Maafin aku ya.. sudah merepotkan kalian." Ungkap Raisya mengutarakan ketidak enakan nya.


"Iya terimakasih." Raisya tersenyum bahagia melihat pasangan suami istri sahabatnya ini sangat kompak.


"Arsel.. cepat sembuh ya.. Jangan rewel sama mama ya! Papa mau pulang dulu." Ucap Irwan sambil mengelus kening Arsel lalu menciumnya dengan sayang.


Arsel mengangguk. Lalu bibirnya bergerak "Papa aku juga mau pulang ikut papa.. " Ucap Arsel yang merasa tidak nyaman berada di rumah sakit.


"Iya... nanti kita pulang ya, kalau kamu sudah sembuh. Papa mau kerja dulu ya. Kamu sama mama dan bunda dulu disini. Besok papa. datang lagi, oke?" Irwan merasakan kasihan dengan Arsel terpaksa harus tega meninggalkannya di rumah. sakit.


Arsel mengangguk lemah. Wajahnya jadi murung mendapatkan penolakan dari Irwan.


"Duh anak papa yang cakep kenapa murung? Senyum dong biar papa nya semangat cari uangnya!" Irwan memeluk Arsel sebelum meninggalkan ruangan.


"Papa janji ya dateng lagi kecini!" Arsel rupanya tidak rela ditinggalkan.

__ADS_1


"Iya papa janji. Doakan ya biar papanya sehat dan bisa bekerja cari uang yang banyak." Irwan menciumi Arsel kembali agar anak itu senang.


Sekarang wajah Arsel sudah tidak lagi murung.


"Kamu mau ikut om Michel?" Irwan melihat pada Michel yang sedang duduk di sofa bersama Ratna.


"Enggak om. Aku mau menunggu daddy." Jawabnya lirih. Michel tidak tenang jika belum bertemu ayahnya. Baru juga dua hari meninggalkannya sudah ada accident.


"Oh.. sini sayang.. om peluk dulu biar kamu dapat kekuatan cinta." Irwan sangat penyayang pada semua anak-anak. Tak heran Arsel selalu menempel.


Michel mendekat lalu berpelukan deng Irwan.


"Jadi anak yang sabar ya! Semoga daddy kamu cepet sembuh dan cepet sadar. Om yakin kamu anak yang baik." Irwan melepaskan pelukannya.


Michel mengangguk lemah.


"Rat.. aku pulang dulu ya beb.. jaga baik-baik. Kalau ada apa-apa kabari aku!" Irwan memeluk istrinya dan menciuminya beberapa kali untuk memberi kekuatan cinta pada sang istri tercintanya.


"Iya. Ayang.. Hati-hati ya. Titip sikembar semoga mereka tidak rewel." Ratna yang memutuskan untuk tinggal di rumah sakit memberikan doa pada suaminya.


"Iya aku tinggal dulu. Assalamualaikum." Irwan berlalu meninggalkan mereka untuk pulang dulu.


"Michel.. kamu sudah ngantuk?" Raisya melihat mata Michel sudah agak sayu.


Michel tersenyum tipis, tidak berani mengungkapkan dengan jujur.


"Ayo tidur dengan bunda disini!" Raisya menawarkan pahanya untuk Michel. Dengan senang hati Michel langsung menjatuhkan kepalanya di paha Raisya. Tanpa menunggu lama Michel langsung tertidur. Raisya mengelus lembut kepalanya dan mengamati detail wajah abg itu dengan penuh kasih. Perlahan dia mengganti pahanya dengan bantalan sofa.


Raisya mendekati Ratna yang sedang berjaga di pinggiran ranjang.


"Rat.. kamu istirahat gih! Biar aku jaga Arsel. Dia sudah mulai mengantuk." Raisya berniat menidurkan Arsel berikutnya, setelah tadi menidurkan Michel di sofa.

__ADS_1


__ADS_2