Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Arsel sakit


__ADS_3

Setibanya di rumah, Michel mengajak main si kembar juga Arsel. Suara gelak tawa anak-anak turut menghangatkan suasana rumah Ratna. Irwan semakin senang di rumahnya ada tiga anak yang cantik, satu anak tampan dan lucu sedang bermain.


"Sya.. kamu tidak apa-apa?" Ratna melihat Raisya agak murung.


"Entahlah Rat. Aku bingung." Raisya menoleh ke samping.


"Bicaralah! Aku akan setia mendengarkan semua keluhanmu." Ratna menggenggam tangan Raisya. Dia ingin sekali memberikan dukungan pada sahabatnya ini.


"Aku.. harus bagaimana ya Rat? Tadinya aku ingin bersembunyi dari Nathan. Tapi sekarang malah anaknya mendekat padaku." Mata Raisya berkaca-kaca. Orang yang selama ini dibencinya malah datang kembali.


Raisya tahu Nathan bukan tipe orang yang gampang menyerah.


"Berdamailah Sya.. biar kamu hidup tenang. Mencoba membuka diri jangan terus-terusan menyimpan dendam. Kasian juga Arsel. Dia pasti membutuhkan sosok ayah." Ratna mengusap punggung tangan Raisya agar Raisya bisa membuka hatinya.


"Menurut kamu, aku harus bagaimana?" Raisya terlihat pasrah. Rasanya tubuh dan pikirannya lelah.


"Ya.. kamu mencoba membuka diri kamu. Apa kamu berminat menikah kembali? Kamu masih muda. Mumpung Arsel masih kecil, kalau sudah besar urusannya suka beda Sya.. " Ratna tidak mau Raisya terus hidup sendiri.


"Kenapa? Kamu keberatan aku tinggal bersama kamu?" Rasa sensitif Raisya muncul.


"Bukan begitu Sya.. Aku seneng kamu tinggal disini. Tapi pikirkan juga masa depan Arsel. Atau kamu mau terus terang pada Nathan bahwa dia anaknya?" Ratna ingin tahu apa yang dipikirkan Raisya.


"Kamu kok kaya gitu sih Rat? Kamu bosen sama aku ya? Dari dulu aku sudah membuka hati Rat. Kamu tidak tahu bagaimana dia kalau sudah cemburu. Dia beberapa kali membunuhku Rat. Bahkan kamu tidak mengerti bagaimana dia menyakitiku." Raisya meneteskan air mata mengingat perlakuan Nathan.


Tanpa mereka sadari Michel menguping percakapan antara Raisya dan Ratna. Awalnya Michel ingin ke toilet, tapi begitu dia mendengar Raisya menyebut Arsel ada kaitannya dengan ayahnya, dia malah berdiri si belakang partisi yang menjadi penghalang antara ruang makan dan toilet.


Arsel adikku?


Michel terdiam. Dia membayangkan bagaimana penderitaan Raisya hidup sendiri membesarkan adiknya. Pasti ada alasan kenapa bundanya tidak sampai menikah lagi dan tidak memberitahukan Arsel adalah putranya.


"Michel... katanya kamu mau ke toilet?" Irwan memergoki Michel di dekat pintu toilet.


Ratna dan Raisya terhenyak mendengar suara Irwan menegur Michel.


"Sya.. " Ratna menatap Raisya takut Michel mendengarkan pembicaraannya barusan.


"Eh.. om. Aku baru mau ke toilet tadi aku haus om." Jawab Michel bohong. Dia buru-buru masuk ke toilet menuntaskan urusannya.


"Oh.. " Irwan tidak mencurigai apapun sampai dia mendekati dua perempuan yang sedang duduk di meja makan.


"Lah.. kalian kenapa melihatku seperti itu? Ada yang aneh?" Irwan agak mengerutkan dahinya melihat Raisya dan Ratna melihatnya penuh curiga.

__ADS_1


"Mmm.. " Ratna membisikkan sesuatu pada telinga Irwan.


"Apa?" Irwan langsung menoleh ke belakang.


Dilihatnya pintu toilet yang belum terbuka.


"Bagaiamana ini?" Ratna agak ketar-ketir takut Michel menguping isi pembicaraannya.


"Tenang.. jangan panik!" Irwan terdiam. Ketiga orang itu terdiam dalam kekhawatiran. Khawatir jika Michel mengetahui rahasia Raisya dan apa reaksi selanjutnya. Akankah dia bicara dengan ayahnya atau dia akan menutup mulut.


"Papa... Arsel nangis." Panggil Si kembar membuyarkan ketiga orang yang sedang terdiam.


"Kenapa sayang?" Tanya Irwan.


"Dia muntah.. " Lapor Riri.


"Muntah?" Irwan langsung berdiri dan berlari ke dalam ruangan yang khusus untuk bermain disusul Ratna juga Raisya.


"Arsel... " Teriak Raisya langsung mengambil alih Arsel dari pangkuan Irwan.


"Sya... panas." Irwan memegang kening Arsel yang terasa panas.


"Kenapa sayang? Tadi gak apa-apa." Panik Raisya samil memeluk Arsel yang mulai lemas karena habis muntah.


"Mmm.. baik Nyonya."


"Sya... tolong dibaringkan dulu! Mungkin Arsel masuk angin." Ucap Ratna agar Raisya tidak panik.


"Bun.. kenapa Arsel?" Michel yang baru selesai dari kamar mandi ikut panik setelah melihat Raisya berderai air mata sambil menggendong Arsel ke kamar tidur.


"Kamu jagain si kembar ya! Tante sama om Irwan mau bantu dulu bunda kamu." Ucap Ratna agar Michel tidak ikut-ikutan panik.


"Iya tan.. tapi kenapa Arsel tante?" Michel mulai berkaca-kaca merasakan kekhawatiran.


"Ga pa-pa. Mungkin Arsel masuk angin." Ratna menepuk bahu Michel lalu menyusul Raisya ke kamarnya.


Michel mengangguk lalu mengajak si kembar bermain.


"Rara.. tadi Arsel kenapa?" Michel penasaran dengan keadaan Arsel yang tiba-tiba saja seperti sakit. Padahal barusan dia tidak apa-apa.


"Arsel tadi muntah kak Michel." Rara menjawab dengan antusias.

__ADS_1


"Muntah? Tadi kan ga pa-pa?" Michel masih kaget.


Si kembar saling memandang, mereka tidak tahu apa-apa.


"Sya ini baju gantinya!" Ratna langsung membawakan baju ganti Arsel dari dalam lemari.


"Coba gosok dulu Sya pakai obat gosok, agak mualnya berkurang!" Irwan langsung cekatan membawa obat kayu putih agar bisa mengosok Arsel sebelum menggantinya dengan baju baru. Baju Arsel sudah penuh dengan muntahan. Wajah anak itu terlihat sayu dan lemas.


"Iya baik." Raisya langsung menggosok badan Arsel. Yang digosok terlihat pasrah. Arsel terkukai lemas.


"Kita bawa ke rumah sakit saja Sya!" Biar diperiksa. Suhu badannya hampir 40." Irwan baru saja memasukkan thermometer ke dalam telinga Arsel.


"Iya Sya! Aku bantu bereskan baju-baju ganti ya?" Tawar Ratna.


Raisya mengangguk setuju.


Ratna mencari baju-baku Arsel dan juga baju-baju Ratna, takutnya Arsel harus menginap.


Tak lama kemudian Ratna memasukan semua barang yang dibutuhkan ke dalam tas.


"Kamu tunggu di rumah saja! Biar aku sama Raisya pergi ke rumah sakit." Ucap Irwan menyuruh Ratna untuk tinggal di rumah.


"Iya. Baik-baik ya Sya! Kamu juga ya sayang." Ratna mengelus lembut kepala Arsel.


"Terimakasih kasih ya Rat. Aku titip Michel." Raisya pamit pergi.


"Iya. Kamu yang sabar ya!" Ratna menepuk bahu Raisya dan mengantarkannya sampai mobil.


"Assalamu'alaikum." Irwan mengecup kening Ratna pamitan untuk membawa Arsel ke rumah sakit. Dia khawatir Arsel terkena Virus.


"Waalaikumsalam.. Hati-hati di jalan sayang... " Ucap Ratna mensuport suaminya.


"Iya."


Ratna masuk kembali ke dalam rumah. Melihat si kembar juga Michel yang sedang duduk di ruangan keluarga.


"Tante... bagaimana dengan Arsel? Tanya Michel yang masih kelihatan cemas.


"Kalian doakan ya, agar Arsel cepat sembu! Sekarang kak Arsel sudah dibawa ke rumah sakit." Imbuh Ratna.


"Iya ma." Ucap si kembar menjawab kompak.

__ADS_1


Tanpa diketahui Ratna, Michel telah mengirimkan pesan singkat pada Nathan.


__ADS_2