
Nathan membaringkan Raisya di ranjang. Jantung Raisya berdetak tidak karuan dikala dada bidang Nathan begitu dekat dengan tubuhnya.
Raisya sedang meyakinkan dirinya atas pilihannya untuk menerima pernikahan itu menjadi sungguhan.
Kalau ditanya tentang perasaannya pada Nathan, dia belum bisa menjawab dengan pasti. Karena setiap kekaguman yang tumbuh dalam dirinya malah akan jadi layu seiring sikap Nathan yang arogan.
Nathan berdehem, mencairkan suasana yang kaku.
"Kenapa jantungku berdebar seperti ini? Tapi anehnya tadi aku bersama Sherly malah biasa saja." Ungkap Nathan lagi-lagi tidak mengenali jenis emosi yang sekarang hadir.
Sebenarnya jantung Nathan sama halnya seperti Raisya. Dag dig dug lebih cepat, bahkan alat pendeteksi di pergelangannya sudah memunculkan berwarna.
Sampai saat ini Nathan belum mendapatkan laporan dari institut mengenai arti warna yang muncul akhir-akhir ini. Biasanya Nathan memeriksa gejala itu dari laporan yang diberikan institut.
Nathan tak bisa menahan gejolak yang datang begitu saja dari dalam dirinya. Perlahan Nathan menarik diri lalu duduk sambil memikirkan sesuatu. Lalu berdiri membuka laci nakas mengambil butiran-butiran pil yang sudah dia siapkan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
"Raisya tak boleh punya anak. Cukup Michel saja." Itu yang terbersit dalam pikiran Nathan.
"Minum pil itu! Aku tak mau punya anak lagi." Nathan melemparkan obat itu tepat di muka Raisya dengan sinis.
"Tapi mas..." Raisya terdiam sambil menunduk bingung.
"Tapi apa?" Nathan dengan muka tak ramah melihat Raisya.
"Saya alergi obat." Jawab Raisya.
"Pasang alat kek, mikir dikit tuh otak!" Nada bicaranya pedas sekali seperti mi Korea level 20 saja.
"Aku kan masih...." suaranya tercekat. Merasa malu untuk mengatakan 'Perawan'
"Kamu bego apa bodoh sih?" Nathan mendengus kesal mendengar istrinya terlalu banyak membantah keinginannya.
"Sebenarnya aku yang bego? Apa dia yang bodoh sih?" Raisya bergumam dalam hatinya sambil menahan sakit hati. Walaupun pahit Raisya berusaha bersabar.
Baru malam pertama saja, bukannya madu yang bisa ditelan malah yang keluar racun berbisa yang bikin mati rasa.
__ADS_1
Nathan yang tadinya ingin memulai ritual pelepasan seolah menahan diri. Ya keinginannya untuk tidak mempunyai anak setelah Michel memang sudah direncanakan sejak jauh hari.
Malam ini dia hanya butuh pelepasan, tapi apa boleh buat akhirnya dia harus menhan hasratnya yang sudah naik ke ubun-ubun.
"Keluar kamu!" Nathan mengusir Raisya agar keluar dari kamarnya.
Raisya turun dari ranjang lalu melengos tak berani berdebat. Dia memilih tidur terpisah dan turun kembali dari lantai dua masuk ke kamarnya kembali.
"Hiks hiks hiks...Raisya kembali menangis. Padahal tadi tangisnya sudah mereda. Mulut Nathan memang pedas kalau sudah bicara, apalagi kalau sedang kesal.
"Aku tak menyangka kalau dia tak menginginkan anak lagi. Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Raisya menangis sambil menunduk. Niat baik ingin memulai pernikannya selalu mendapatkan kendala.
Tak berselang lama adzan berkumandang. Raisya segera menyeka air matanya. Sedih, sakit begitu menyayat hati ketika Nathan menyebitkan dia tak menginginkan seorang anak lagi. Kepada siapa sekarang Raisya bisa mengadu. Keluh kesah yang dialaminya tak bisa diadukan manusia.
Raisya segera mengambil air wudhu. Meluruhkan segala sedihannya bersama cucuran airmatanya yang terus saja meleleh.
Dia melakukan shalat subuh dengan khusyu seolah sedang berbincang dengan Sang Khalik atas permasalahannya.
"Ya Allah.. tunjukkan pada hatiku agar aku bisa mengikuti jalan yang benar. Mudahkan segala urusanku. Lembut kan hati suamiku. Tumbuhkan pada kami saling mencintai. Jika Engkau berkenan atas pernikahan kami maka langgeng kan dan harmonis kan pernikahan kami. Ampuni kami yang telah lalai dan juga banyak dosa. Tapi jika pernikahan ini tidak membawa kebaikan maka pertemukan kami dengan pasangan yang akan membuat kami bahagia dunia akhirat." Itulah doa yang Raisya panjatkan dalam shalatnya.
"Adem rasanya ada yang membaca Al-Quran." Ucap bi Siti yang mendengarkan Raisya yang sedang membaca Al-Quran. Kebetulan bi Siti hendak menyapu dan melewati kamar Raisya.
Sinar matahari mulai malu-malu muncul dari persembunyian. Raisya keluar dari kamarnya dan memakai stelan baju olahraga.
"Nyonya mau lari pagi?" Ucap bi Siti melihat Raisya yang sepertinya sudah siap melakukan olahraga.
"Iya bi. Suntuk tidak ada kegiatan. Jadi aku mau lari pagi dulu mumpung masih sepi." Raisya berusaha semangat mencari kegiatan.
"Iya nyonya. Biar bugar. Tapi tidak dengan pak Nathan?" Tanya bi Siti.
Raisya mendongak. melihat ke arah kamar Nathan. "Sepertinya masih tidur bi." Jawab Raisya.
"Aku berangkat dulu ya bi. Aku sebentar kok. Nanti saya pulang sebelum pak Nathan bangun." Pamit Raisya sambil meneguk teh manis hangat yang sudah disiapkan bi Siti di atas meja makan.
"Hati-hati ya nya!" Ucap bi Siti sambil melihat punggung Raisya yang berjalan keluar dari rumahnya.
__ADS_1
Raisya melambaikan tangannya.
"Pagi nyonya!" Seorang satpam menyapa Raisya.
"Pagi mang." Raisya tersenyum membalas sapaan satpam yang ada di rumahnya.
Mang Syarif membuka pintu pagar gerbang untuk nyonya rumah. Raisya pun langsung joging pergi meninggalkan rumah Nathan.
"Wah... nyonya terlihat energik. Sayang.. bulan madunya dihabiskan dengan joging. Dasar pak Nathan, istri secantik itu malah dianggurin." Mang Syarif berbicara sendiri mengomentari hubungan majikannya yang aneh.
Sementara di kamar Nathan.
Setelah mengusir Raisya dari kamarnya Nathan membaringkan tubuhnya di kasur. Dia tidak bisa tidur. Banyak yang dipikirkannya. Mulai dari Raisya, Sherly juga Michel.
Baru menjelang pagi ketika Raisya pergi joging dia baru bisa tertidur lagi.
Ceklek Raisya membuka pintu kamar. Dia melihat ke arah ranjang.
"Hhmmm... dia masih tidur rupanya." Raisya bergumam dalam hati.
Perjuangan Raisya tidak kendor. Sekarang Raisya sedang membawa nampan yang berisi sarapan untuk Nathan. Dilihatnya jam sudah diangka semmbilan. Matahari pun mulai memaksa masuk. ke dalam kamar. Gorden-gorden masih tertutup karena pemilik kamar masih terlelap dalam mimpinya.
Raisya membuka gorden yang ada di kamar Nathan agar matahari pagi bisa masuk dengan sempurna ke dalam kamar. Tak lupa Raisya membuka jendela-jendela dan mematikan AC kamar.
Nathan menggeliat karena mendengar suara-suara yang ditimbulkan Raisya. Dia menyipitkan matanya ke arah Raisya. Lama-lama matanya terbuka lebar.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" Dia bertanya dengan ketua.
"Aku membawakan sarapan untukmu mas." Raisya tersenyum. Dia berusaha melupakan apa yang sudah menyakiti perasaan hatinya. Dia ingin menguatkan mentalnya untuk berjuang menundukkan Nathan.
Nathan bangkit dari tempat tidurnya.
"Mau mandi air hangat?" Tawar Raisya pada Nathan.
"Gak usah!"
__ADS_1