Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
ketakutan


__ADS_3

"Gak usah takut! Daddy disini sayang." Nathan memegang tangan Michel dan menyeka ujung kelopak mata Michel.


"Mommy jahat daddy... sering mukulin Michel. Katanya mommy benci Michel. Hik hik hik." Anak itu malah menangis.


"Itu cuman mimpi Michel. Ayo bobo lagi! Ini masih malam. Daddy masih ngantuk." Nathan yang baru saja memejamkan matanya agak sedikit pusing karena terbangun mendengar suara Michel.


"Daddy.. tidur disini sama Michel!" Michel merajuk ingin ditemani Ayahnya.


"Baik.. Ayah tidur disini. Michel tidur ya!' Nathan naik ke ranjang anaknya lalu mendekap Michel. Michel tersenyum senang. Keduanya pun tertidur dengan pulas.


Sampai keesokan paginya, matahari sudah naik dan masuk ke tirai-tirai jendela rumah sakit, menghangatkan ruangan. Nathan masih tertidur pulas karena tadi malam dia baru tidur jam 1 dini hari. Matanya seolah lengket dibuka.


Para perawat sudah mengontrol ke dalam ruangan, begitupun petugas OB membersihkan setiap kamar pasien agar ketika visit dokter sudah terlihat rapih dan bersih.


Sarah masuk ke ruangan Michel bersama Adam, karena pagi ini Sarah diantarkan suaminya.


"Ya ampun lihat!" Sarah menunjuk Nathan yang masih meringkuk sambil mendekap Michel. Michel yang merasa nyaman pun masih tertidur dengan tenang.


"Damai. Dia terlihat tenang tertidur pulas." Adam melihat interaksi ayah dan anak begitu polos tertidur di ranjang pasien.


"Dia gak akan berangkat kerja?" Sarah melirik Adam yang sudah rapih sedangkan Nathan masih meringkuk di alam mimpinya.


"Mungkin dia tidurnya malam. Tak biasanya juga dia jam segini masih begitu." Adam melihat kebiasaan Nathan tepat waktu. Menduga karena menunggui Michel tidurnya terganggu dan jam 8 masih asik tertidur.


"Kamu tidak kepingin Sar punya anak?" Adam yang sudah kangen ingin kehadiran buah hati, tiba-tiba dia berbicara membahas anak.


"Iya kepingin tapi tidak sekarang. Aku ingin pendidikan spesialis selesai dulu. Paling ya sekitar setahunan lah kalau lancar."


"Sambil aja Sar.. kan bisa!" Entahlah hari ini Adam tak biasanya membahas soal anak yang membuat Sarah sensitif.


"Kita kan dulu sudah komitmen. Jika kamu mau nikah sama aku, janjinya mau menunggu sampai pendidikan aku selesai. Kalau kamu gak sabar kamu boleh cari yang lain!" Sarah melengos meninggalkan Adam di ruangan Michel.


Nathan mendengar samar-samar pembicaraan Adam dan Sarah akhirnya mengerjapkan mata.

__ADS_1


"Sudah siang ya?" Nathan melihat Adam yang sedang duduk di sofa.


"Jam 8. Sebentar lagi visit dokter. Kamu tidak ingin pergi ke kantor?"


"Iya aku pulang dulu. Nunggu Ina datang." Nathan turun dari ranjang Michel.


"Ina sejak tadi sudah ada di luar. Kamu cepetan cuci muka keburu Michel bangun!" Adam yang tadi melihat Babysitter Michel duduk di luar ruangan sedang menunggu Nathan bangun. Dia rupanya tidak berani membangunkan majikannya yang sedang pulas tidur.


"Baiklah. Aku berangkat duluan. Tadi aku mengantarkan Sarah sampai rumah sakit." Adam berdiri meninggalkan ruangan begitu pula Nathan bergegas ke kamar mandi untuk siap-siap berangkat ke kantor.


Senin pagi hari pertama kerja semua orang berlomba untuk sampai ke tempat kerja dengan memacu jalanan yang lumayan padat.


Jacky sudah sampai lebih awal di kantor.


"Bu Mia belum datang Hes?" Adam melihat ruangan bu Mia masih kosong.


"Sudah. Dia tadi ke gudang. Katanya mau mencocokkan hasil laporan Raisya di lapangan."


"Ohh.. "


"Dia izin sakit." Jacky menjawab.


"Lah.. sakit apa? Katanya kemarin pulang kampung. Sakit apa dia?"


"Sakit hati." Jacky menjawab dengan candaan.


"Lah yang bener kalau jawab. Sakit hati elu kali?" Komputer telah menyala Hesti pun fokus ke layar komputer kembali.


"Masih lama tidak ya bu Mia?" Jacky menanyakan bu Mia.


"Lah telepon aja! Yang namanya rapat gak bisa diprediksi apalagi ini langsung diperiksa. Bagian gudang gila kali sudah kongkolingkong sama suplier barang. Beli barang stokan doang! Lah entar dia jual murah. Gue heran kenapa selama ini bu Mia gak curiga ya? Malah si Raisya yang bikin laporan." Hesti mendongakkan kepalanya ke arah Jacky yang masih berdiri di samping kubikelnya.


"Pernah, cuman mungkin dia lupa ketumpuk masalah lain." Bela Jacky pada Hesti.

__ADS_1


"Eh.. si Raisya sakit apaan sih. Kok elu tahu dia sakit?" Kepenasaranan Hesti malah bertambah.


"Ya sakit lah. Emang dia gak boleh sakit?"


"Iya sih. Dia biasanya rajin banget jarang mengeluh sakit. Jadi gue heran aja denger Raisya sakit."


"Iya gue mau izin sekalian besok ada perlu. Jadi mau nyelesein tugas dulu sekarang yang belum kelar." Jacky berjalan menuju ruangannya.


"Iya selamat bekerja. Dan jangan lupa berdoa!"


Dua jempol diacungkan Jacky memberi balasan pada Hesti. Mereka fokus mengerjakan tugas masing-masing.


Nathan masuk ke ruangan agak terlambat. Reza sudah siap dengan beberapa agenda juga laporan untuk ditandatangani Nathan.


"Maaf pak. Nanti kita akan rapat dengan klien dilanjut dengan pemeriksaan untuk kontrak model. Katanya pak Adam sendiri yang menentukan modelnya. Anda bisa bicara langsung bicara jika tidak setuju dengan pemilihan model untuk produk perusahaan." Terang Reza sambil menyodorkan profil model dan berkas kontraknya.


Nathan belum membuka berkas yang diberikan Reza. Dia malah mengamati para staffnya.


"Ratna gak masuk?" Nathan melihat meja Ratna masih kosong dan rapih.


"Tadi dia telepon katanya mau cuti pak!"


"Cuti? Apa maksudnya?"


"Mmhh.. kebetulan selama dia bekerja memang cutinya belum diambil pak." Reza agak sedikit bingung melihat reaksi Nathan.


"Suruh dia masuk! Banyak pekerjaan malah cuti seenaknya."


"Mmh.. tapi pak." Reza menghentikan bicaranya membuat Nathan mendongak ke arah Reza dengan mata tajam dan wajah tak senang.


"Tapi apa?" Nathan menginginkan alasan yang jelas agar dia bisa menerima cutinya Ratna.


"Raisya sakit parah ada yang mukulin pak! Ratna mengancam saya dengan bukti pesan terakhirnya. Terpaksa saya izinkan cutinya." Wajah Reza ketakutan melihat Nathan. Apalagi Ratna mengancam Reza akan melaporkan ke polisi. Beberapa foto Raisya pun sudah dikirimkan pada Reza sama halnya dengan Jacky yang mengirimkan pada Nathan. Kini Reza sedang diliputi rasa cemas dan ketakutan. Bahkan dia sendiri menduga Nathan ada kaitannya dengan penganiayaan Raisya. Walaupun Reza hanya mengandalkan feel dan bukti yang ada. Bagaimana kalau memang Nathanlah pelakunya? Otomatisasi Reza akan terlibat di dalamnya sebagai orang yang menjebak Raisya datang ke. rumah sakit.

__ADS_1


"Sudahlah!" Nathan tak mau memperpanjang alasan cuti Ratna.


"Maaf pak, bagaimana kalau mereka melaporkan ke kepolisian? Akankah saya terseret? Saya kan waktu itu disuruh bapak untuk memanggil Raisya ke rumah sakit."


__ADS_2