Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Lingkaran takdir


__ADS_3

Laki-laki yang menolong Raisya dikenal bernama Anwar. Sesuai dengan yang tertera di atas kertas sang wali pasien. Dia terpaksa harus menjadi wali pasien karena membawa Raisya yang pingsan ke rumah sakit. Hatinya merasa iba ketika melihat Raisya pingsan di sisi trotoar dengan basah kuyup terkena air hujan.


Dia sedang merenung bagaimana caranya menghubungi keluarga Raisya. Karena dia merasa bertanggung jawab harus menghubungi keluarga Raisya dan menyampaikan kondisinya sekarang.


Tiba-tiba terlintas ide ketika melihat handphone Raisya yang tergeletak di atas nakas. Dengan perlahan-lahan dia mengambil handphone yang tergeletak di atas nakas untuk membuka memorinya.


Begitu tangannya terjulur, suara Raisya mengagetkannya. Untung dia tidak mempunyai riwayat penyakit jantung, kalau tidak, dipastikan dia akan pingsan juga.


"Apa yang sedang anda lakukan?' Tanya Raisya penuh curiga melihat laki-laki itu akan mengambil handphonenya.


"Maaf.. anda sudah sadar?" Anwar langsung menoleh ke arah kasur dan gugup bertanya.


"Siapa anda? Dan kenapa mau mengambil barang saya tanpa izin?" Raisya menatap tajam ke arah Anwar karena tidak suka ada orang yang ketahuan seperti seorang pencuri.


"Maaf. Jangan salah paham! Saya ingin menghubungi keluarga anda. Jadi saya mengambil handphone anda tanpa izin. Saya yang tadi menolong anda di jalanan, nama saya Anwar." Ucap Anwar sambil menundukkan pandangan antara malu juga kaget ketahuan mengambil barang tanpa seizin pemiliknya.


"Saya tak mempunyai keluarga. Jadi tidak usah menghubungi siapapun!" Ketus Raisya. Dia tak mau siapapun tahu kalau kondisinya menyedihkan seperti sekarang. Padahal dia membutuhkan bantuan orang terdekat untuk menolongnya saat ini.

__ADS_1


"Mmm.. baik. Mohon maaf jika saya tidak sopan!" Anwar tidak berniat jahat ataupun tidak sopan pada Raisya. Justru dia ingin membantu menghubungi keluarganya. Dia tetap harus meminta maaf karena orang di depannya merasa tidak nyaman atas sikapnya barusan.


Ruangan sejenak hening. Raisya maupun Anwar tak berani berbicara. Mereka sedang berbicara dengan pikiran masing-masing yang dipenuhi kebingungan. Yang satu bingung akan nasibnya. Yang satu bingung harus mengambil sikap bagaimana.


"Mmm... maaf saya permisi mau keluar dulu!" Anwar akhirnya memecahkan keheningan. Dia pun mempunyai kecemasan yang lain selain memikirkan Raisya, yaitu istrinya tercinta. Anwar ingin keluar dari ruangan itu karena tidak nyaman harus tinggal di dalam ruangan berduaan tanpa muhrim. Makanya dia mengambil inisiatif untuk permisi untuk keluar dan akan menghubungi istrinya.


Raisya tak menjawab sedikitpun. Rasa sakit di badan juga di hatinya membuat Raisya tak mau beramah tamah pada siapapun. Masih membekas kejadian pagi ini sampai tadi siang. Semuanya seperti datang begitu cepat tak bisa diprediksi. Jacky yang perhatian juga romantis mendadak jadi membencinya setelah salah faham. Semua janji manis Jacky seperti gula-gula yang habis manis lalu tinggal angan.


Anwar yang melihat reaksi Raisya yang dingin pun tak menghiraukannya. Tugasnya hanya menolongnya, lebih dari itu biarkan dokter saja yang akan mengurusnya. Apalagi orang yang ditolongnya seperti bermasalah. Bukannya berterima kasih malah menjadi dingin dan jutek. Anwar pun keluar ruangan hendak mengabari istrinya yang sedang di rumah. Khawatir istrinya bertanya-tanya akan keterlambatan pulang dirinya yang tak biasa.


Sepeninggal Anwar. Raisya yang merasa sedih dan rapuh. Dia menangis sendirian di dalam ruangan menumpahkan segala isi hatinya yang terasa sesak. Terlihat bahunya naik turun terisak menangisi nasibnya yang kurang beruntung. Dia tidur miring membelakangi pintu dan sesekali dia menghapus air matanya dengan ujung selimut yang tersampir di badannya.


"Halo.. Rat. Apa Raisya sudah ada menghubungi kamu?" Tanya Jacky cemas.


"Kenapa? Sekarang khawatir? Lalu tadi kenapa hah? Sebenarnya ada masalah apa sih sampe Raisya dateng ke rumah gue hujan-hujanan? Gue heran sama elu Jacky!" Terdengar helaan nafas kesal dari seberang telepon. Rasa marah Ratna masih bertengger apalagi sosok Jacky yang sudah lama ia kenal akrab sekarang malah berubah menyebalkan.


"Entar gue ceritain. Sekarang gue tanya, gimana ada kabar tentang Raisya gak?" Dengan nada memaksa Jacky bertanya pada Ratna. Jacky dan Nathan memang mempunyai sifat beda tipis. Sama pendendam nya dan sama emosian nya. Bedanya Jacky mungkin tidak pakai kontak body jika marah.

__ADS_1


"Gue masih nyari. Usaha donk jangan pengen instan! Kalau sampai ada apa-apa dengan Raisya, gue gak bakal diam Jacky." Ratna memutus sambungan handphone karena ada panggilan dari yang lain.


"Iya halo kak Sarah." Jawab Ratna mengubah nada bicaranya.


"Ratna.. Raisya ada sama kamu gak?" Sarah panik setelah diberitahu Adam mengenai pernikahan Raisya yang baru tiga hari itu. Sejak tadi Sarah menghubungi Raisya tapi teleponnya tidak aktif. Dia sangat cemas sekali. Satu-satunya orang yang dekat dengan Raisya adalah Ratna. Makanya Sarah kepikiran mungkin Raisya akan datang ke rumah Ratna.


"Mmm... maaf kak. Raisya gak ada disini. Aku baru sampai rumah langsung cek CCTV-nya. Tadi dia sempet nelepon kak waktu aku masih di Bandung. Suaranya kedengeran gemetaran. Makanya aku langsung pulang takut ada apa-apa dengan Raisya. Ternyata tadi waktu hujan dia datang kesini kak. Tapi sekarang aku juga bingung harus mencarinya kemana." Ratna terdengar lesu tidak mendapati sahabatnya di rumahnya.


"Iya. Kakak juga bingung. Di telepon tidak aktif. Kakak akan keluar sekarang mau mencari Raisya. Katanya sih tadi pagi Raisya di rawat di rumah sakit. Kemungkinan kalau dia terdengar gemetaran dia kehujanan, sakitnya bisa saja kambuh. Kakak mau mencari di rumah sakit sekitar deket rumah kamu. Barangkali dia sakit terus dia pergi ke rumah sakit. Soalnya kakak bingung kemana lagi akan mencarinya. Di Bandung juga gak ada." Terang Sarah yang sudah menghubungi ke sana kemari.


"Ah... kenapa gak kepikiran sama aku kak. Ya udah kita sama-sama mencarinya kak." Ratna jadi bersemangat kembali setelah mendapat ide dari Sarah.


"Baik. Kalau begitu kita janjian mau datang ke rumah sakit mana dulu nih? Kira-kira yang deket dari rumah kamu." Tanya Sarah.


Ratna memberitahu beberapa rumah sakit terdekat darinya. Sarah keluar rumah setelah mendapatkan izin dari suaminya. Dia tak bisa marah pada siapapun atas masalah ini. Yang dia pikirkan saat ini bagaimana menemukan Raisya dulu. Sarah bisa membayangkan bagaimana Raisya harus menanggung beban mental sendirian setelah mendapatkan pelecehan dari Ferdi. Lalu sekarang di talak Jacky.


Malang temenan nasibmu dek..

__ADS_1


Sarah hanya bergumam. Dia ingin Raisya menemukan bahagianya tapi bagaimana? Sarah kira dengan menikah dengan Jacky, Raisya akan bahagia.


__ADS_2