
Rumah tuan Robert tak henti-hentinya menerima tamu ucapan turut berduka cita. Selain tamu sekitar rumah, beberapa kolega, kerabat juga teman dekat mengantri untuk mengucapkannya.
Raisya yang masih digandeng Ratna matanya sudah bengkak karena menangis. Sesuai wasiat terakhirnya Nathan dimakamkan di kuburan palsu Raisya yang dulu pernah dibuat tuan Robert.
Michel dari duduk menemani Raisya. Dia tak bisa berbuat apa-apa untuk meringankan kesedihan Raisya. Dia pun tak kalah jauh bersedihnya.
Arsel yang tidak tahu apa-apa hanya kelihatan bingung. Dari tadi Arsel hanya mau digendong Irwan. Dia belum mengerti kenapa orang-orang menangis dan berduka.
"Papa.. Acel mau sama mama!" Ucapnya pada Irwan.
"Boleh.. Tapi jangan rewel ya! Mamanya lagi sedih." Pesan Irwan pada anak. yang tidak tahu apa-apa.
"Kenapa mama sedih pa? Acel kan gak nakal?" Jawab Arsel bingung.
"Iya.. mama kamu baru kehilangan daddy kamu sayang... " Irwan mengelus lembut Arsel.
"Daddy Arsel kenapa pa?" Arsel yang belum dekat dengan Nathan merasa biasa saja, berbeda dengan Irwan yang sudah dianggapnya sebagai ayahnya.
"Daddy kamu sudah dipanggil Allah sayang.. " Irwan memeluk anak Nathan yang tampan dan juga menggemaskan.
Aku akan menjagamu sayang. Jangan khawatir Nathan! Aku akan tetap menjadi ayahnya Arsel tanpa kekurangan sedikitpun. Aku akan mencintainya sebagaimana aku mencintai anakku sendiri.
Irwan berjanji pada dirinya sendiri akan menyayangi Arsel seperti anaknya sendiri.
Setelah hari duka itu, Raisya tinggal bersama tuan Robert. Meski tidak jadi rujuk tapi tuan Robert merasa bertanggung jawab atas cucunya.
"Raisya.. biar aku yang antarkan Michel dan Arsel sekolah!" Jacky dengan sungkan menawarkan diri untuk mengantarkan Michel juga Arsel sekolah. Karena sudah dua minggu ini mereka bolos sekolah.
Raisya hanya terdiam tidak menjawab apapun yang dikatakan Jacky. Setelah tinggal di rumah tuan Robert dia tidak banyak bicara juga tidak banyak kegiatan. Selama seminggu ini kegiatannya hanya pergi ke makam Nathan lalu mengurung diri di kamar tanpa ada satu pun yang menegurnya. Penghuni rumah ini sepertinya mengerti apa yang dirasakan Raisya.
"Bagaimana Michel? Arsel?" Jacky tidak berputus asa malah menanyakan pada anak-anak yang sedang sarapan pagi untuk siap-siap berangkat ke sekolah.
__ADS_1
"Michel.. gimana bunda." Michel melihat pada Raisya yang sedang tertunduk tak berani mengangkat wajahnya.
"Acel mau.. sama bunda.. " Anak ini dari awal tidak pernah rewel. Kematian Nathan sepertinya tidak banyak pengaruh pada Arsel.
"Oh.. berarti om harus bawa bawa bunda ya biar bisa antar keduanya." Jacky meneguk susu yang sebagai penutup dari sarapannya.
Uhuk.. Uhuk..
Raisya terbatuk ketika Jacky mengatakan akan membawanya.
"Makannya pelan-pelan Ra.. " Jacky melihat pada Raisya dan menyodorkan air putih.
"Terimakasih kasih." Raisya meneguk air yang baru saja disodorkan Jacky.
"Sebaiknya kamu cari kegiatan Raisya! Biar pikiran kamu tidak terus bersedih. Kamu bisa temani mamih belanja atau sekedar ngumpul sama-sama teman-temannya." Tuan Robert menyarankan Raisya untuk mencari kegiatan agar tidak banyak memikirkan kepergian Nathan.
"Iya pih." Jawab Raisya pendek.
"Atau kamu mau bekerja lagi di perusahaan?" Tuan Robert menawarkan Raisya untuk masuk kembali bekerja.
Dalam wasiat terakhir Nathan memang semua hartanya diberikan pada Raisya, Michel juga Arsel. Termasuk rumah yang dulu pernah ditempati Nathan sudah diberikan atas nama tiga orang.
"Tapi kamu di sana nanti sendirian. Kalau ada apa-apa bagaimana?" Tuan Robert benar-benar khawatir kalau Raisya hanya tinggal bertiga tanpa ada laki-laki yang menjaganya.
"Atau.. Raisya ingin pulang ke Bandung bagaimana pih?" Raisya bersikukuh ingin keluar dari rumah tuan Robert.
"Mmm.. maafin papih ya! Kamu pasti tidak nyaman tinggal disini. Tapi.. papih harus memikirkan sekolah Arsel dan juga Michel.. Raisya. Kalau kamu pindah ke Bandung, bagaimana dengan tanggung jawab papih sama Nathan? Nanti papih juga akan disalahkan sama keluarga kamu." Tuan Robert sepertinya tidak setuju dengan Raisya.
Raisya terdiam. Ada benarnya juga apa yang dikatakan tuan Robert tapi dia memang tidak bisa terus tinggal bersama di rumah ini.
"Mmm.. aku ada usul pih." Jacky dengan santainya menanggapi pembicaraan antara Raisya dan tuan Robert.
__ADS_1
"Apa?" Dagu tuan Robert bergerak menunggu jawaban Jacky.
"Kalau Jacky... menikah dengan Raisya bagaimana?" Dengan santainya Jacky malah tersenyum.
"Jacky... " Ibunya Jacky melotot menanggapi jawaban Jacky.
"Emang kenapa mih? Terus terang saja sebelum kedatangan Nathan kesini, Jacky sudah menyukai Raisya mih. Jacky sudah mengalah cukup lama. Lalu sekarang Jacky punya tanggungjawab menjaga Michel dan juga Arsel. Apa mamih senang kalau Raisya menikah dengan laki-laki lain sementara dia juga harus meninggalkan Arsel juga Michel di sini? Mereka gak bisa dipisahkan mih!" Jacky panjang lebar menyatakan isi hatinya yang sudah lama dipendam.
"Sudah-sudah.. disini ada Michel dan Arsel. Tidak baik kita bertengkar di depan mereka." Tuan Robert agak bingung.
"Kamu untuk sementara tinggal saja disini Raisya. Kami akan menjaga kamu. Jika kamu sudah merasa baikan nanti kita akan bicara lagi." Ibunya Jacky menengahi pembicaraan panas di meja.
"Baik mih." Raisya mengiyakan apa yang disarankan mamihnya Jacky.
Ngapain juga sih Jacky ngomong kaya gitu. Gak etis banget. Orang masih berduka juga dia malah ngomongin kawin.
Raisya hanya bicara dalam hati.
"Ayo pangeran tampan mau digendong om tidak?" Jacky mendekati Arsel yang sudah selesai makan.
"Mau. Acel mau naik kuda. Om jadi kudanya kaya kemalin." Sejak Arsel tinggal di rumah tuan Robert Jacky banyak meluangkan waktu mengajaknya bermain agar Arsel betah tinggal.
"Ayuu." Jacky memberikan punggungnya untuk dinaiki Arsel. Anak itu dengan senang langsung mengalungkan tangannya ke leher Jacky.
"Ayoo Bidadari.. kita berangkat. Tolong bantu om bawakan tas Arsel sayang!" Michel tak banyak. bicara. Wajahnya datar. Dia langsung berdiri dan membawa tas bekal Arsel di tangannya. Setelah itu Michel mendekati tuan Robert dan istrinya.
"Oppa.. Omma.. saya berangkat dulu." Michel bergantian mencium tuan Robert dan istrinya.
"Iya sayang. Hati-hati ya!" Tuan Robert mengelus lembut kepala Michel.
"Assalamu'alaikum." Beralih ke Raisya mencium punggung tangan Raisya dengan takzim. Raisya mencium pucuk kepala Michel dengan sayang.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Jawab Raisya.
"Eh.. Arsel belum salam sama mama ya?"