Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Suprise


__ADS_3

Setelah dinyatakan sehat, Raisya diperkenankan pulang. Wajah Raisya pun terlihat semangat. Semua berkat para orang-orang baik yang selalu menyemangatinya. Teman baik itu memang diperlukan apalagi di saat hati kita sedang lemah dan sedang diuji. Teman baik adalah rejeki yang yang tak terukur nilainya.


Nampak Aisyah sedang membereskan tas dan apa saja yang harus dibawa. Beberapa baju juga peralatan selama Raisya di rumah sakit sudah rapih dikemas Aisyah untuk persiapan pulang.


Aisyah begitu totalitas mengurus Raisya padahal dia bukan saudara ataupun teman. Dia adalah orang asing yang tidak sengaja telah menolong Raisya waktu itu. Tapi kebaikannya melebihi teman ataupun saudara.


Dengan telaten dia mengurus Raisya mulai dari hamil, lalu sakit sampai sekarang sudah sembuh. Baginya Raisya sudah menjadi saudaranya sendiri. Begitu pun Raisya, dia telah merasakan ikatan batin yang kuat antara dirinya dengan sepasang suami istri itu. Dia bersyukur memiliki teman yang begitu menyayanginya. Tanpa terasa mata Raisya berkaca-kaca melihat kebaikan Aisyah padanya. Dia berjanji pada dirinya, jika suatu saat nanti dia mempunyai kesempatan, dia ingin sekali membalas kebaikan suami istri itu.


Raisya banyak belajar dari keduanya. Mereka yang lahir ditakdirkan yatim piatu dan sekarang belum dikaruniakan anak tapi keduanya tak pernah terlihat mengekuh. Bahkan mereka selalu berpikiran positif juga baik hati mau menolong siapapun yang membutuhkan sesuai dengan kemampuannya.


Kebetulan hari itu Anwar tidak bisa datang ke rumah sakit karena harus kerja. Ratna dan Irwan sengaja menjemput Raisya dan kini sedang membereskan administrasi rumah sakit bersama Reza.


Hari itu Jacky mengutus Reza untuk menyelesaikan biaya rumah sakit dan menyiapkan tempat tinggal buat Raisya. Bukan tidak ingin Jacky datang ke rumah sakit, tapi dia sedang mengantarkan Sherly berobat juga.


Jacky sengaja membeli rumah di samping Aisyah untuk Raisya tanpa sepengetahuan Raisya sendiri. Mungkin hanya itu yang bisa dia lakukan untuk saat ini. Jacky ingin memulai memberi tanpa menuntut apapun. Kalau dia tidak ditakdirkan bersama dengan Raisya, setidaknya dia ingin menebus kesalahannya pada Raisya dan ingin hidup berdamai.


"Sudah siap?" Ratna melongok dari pintu ruangan yang kebetulan terbuka.


"Sudah mbak.. " Jawab Aisyah yang sedang duduk di samping Raisya.


Ratna dan Irwan masuk ke ruangan lalu duduk di depan Raisya dan juga Aisyah. Sedangkan Reza sudah pergi kembali ke kantor.


"Ayo.. kalau kalian sudah siap kita pergi!" Ajak Irwan menoleh pada ketiga perempuan yang ada di ruangan itu silih berganti.


"Mmm." Jawab Raisya menoleh ke arah Aisyah. Aisyah mengangguk. Ratna dan Irwan berdiri dan diikuti Aisyah juga Raisya. Semua barang dibawa Irwan sedang ketiga perempuan itu menggandeng Raisya.

__ADS_1


Akhirnya semuanya meninggalkan ruangan dengan hati bahagia. Dan mereka pergi ke arah parkiran untuk menaiki mobil yang akan dikemudikan Irwan.


Irwan memasukkan barang-barang ke bagasi mobil dan membukakan pintu untuk ketiga perempuan itu.


"Silahkan tuan putri semua. Kalian masuk! Biarkan pangeran yang menutup pintu!" Senyum Irwan menggoda tiga perempuan yang baru saja naik mobil.


Setelah ketiga masuk, Irwan pun menutup pintunya. Dia benar-benar memanjakan ketiga perempuan itu seperti ratu.


Ketiga perempuan itu terkekeh di dalam mobil karena melihat sikap Irwan yang posesif pada mereka.


Mobil pun melaju ke rumah Aisyah. Dua puluh menit berlalu, akhirnya mobil mereka pun sampai dan masuk ke halaman sebuah rumah.


Raisya menoleh ke kanan ke kiri merasakan aneh. Kenapa mobil yang dikendarai Irwan tidak terparkir di depan rumah Aisyah.


"Iya.. rumahnya diperlebar mbak." Terpaksa Aisyah berbohong pada Raisya. Sengaja rumah itu di satukan satu pagar dan ada pintu yang bisa tembus ke rumah masing-masing.


"Oh.. Syukurlah." Raisya tidak mencurigai apapun mengenai rumah yang dibeli Jacky untuknya.


Lalu mereka pun berjalan beriringan masuk ke rumah yang baru saja di renovasi.


"Assalamu'alaikum." Ucap Aisyah sambil membuka pintu.


"Waalaikumsalam... " Jawab orang yang ada di dalam rumah.


"Mama... " Arsel, si kembar juga Michel langsung berlarian memeluk Raisya. Raisya yang baru saja masuk tentu saja kaget melihat anak-anak ada di dalam rumah. Raisya pun balas memeluk haru semuanya. Raisya mencium satu persatu pucuk kepala mereka dan tak terasa matanya berair meneteskan cairan bening dari kedua kelopak matanya.

__ADS_1


"Ayo... anak-anak sini!" Aisyah segera mengajak anak-anak untuk duduk di sofa agar Raisya bisa istirahat dengan tenang.


Ratna menuntun si kembar dan Michel membawa Arsel mengikuti arahan Aisyah.


"Mbak.. istirahat dulu! Mau lihat kamar mbak? Aku juga sudah menyiapkan kamar anak-anak mbak. Mau lihat?" Aisyah ingin memperlihatkan semua rumah pada Raisya. Jacky telah sepakat dengan Anwar juga Aisyah untuk menyembunyikan pembelian rumah itu pada Raisya.


"Bagus lho ma.. aku juga suka." Ucap Michel tersenyum. Sebelumnya dia sudah melihat kamarnya juga kamar Arsel yang telah di desain khusus agar bisa nyaman dan betah.


"Oh ya?" Raisya melebarkan matanya melirik pada Michel.


"Bener ma.. nih lihat kamar mama! Mama suka gak?" Ucap Michel mendahului membuka pintu kamar Raisya. Semua orang mengikuti dari belakang ingin tahu juga isi rumah itu.


"Weis.. enak banget kamarnya. Apa benar ini kamarnya Raisya?" Ratna melihat ke arah Aisyah ingin meyakinkan apa benar itu kamarnya Raisya. Dalam hatinya ada kecurigaan, kenapa juga Aisyah harus repot-repot membeli rumah itu lalu mendesain khusus untuk Raisya dan anak-anak nya.


"Benar mbak.. ini kamarnya mbak Raisya. Apa mbak Raisya suka?" Netra Aisyah melihat pada Raisya.


Raisya yang melihat kamar itu agak kurang nyaman dengan perlakuan Aisyah dan Anwar yang telah mengistimewakan dirinya. Dia tak ingin banyak merepotkan pasangan suami istri itu lebih banyak.


"Senang.. bagus. Cuman.. kayanya terlalu berlebihan deh Aisyah. Aku jadi gak enak." Ucap Raisya bukannya tidak senang mendapatkan keistimewaan itu. Tapi dia tahu ini pasti mengeluarkan biaya tidak sedikit, dan yang pasti merepotkan keduanya.


"Ini hadiah buat mbak. Toh nyawa tidak bisa dibeli dengan uang. Ini sebagai ungkapan kebahagiaan kami melihat mbak Raisya bisa pulih. Jadi mbak gak usaha begitu. Anggap kami adalah keluarga mbak juga." Ucap Aisyah akhirnya harus membuat drama agar Raisya percaya bahwa semua itu adalah hadiah dari keduanya.


"Mmm.. tapi ini rasanya berlebihan untu aku Aisyah. Aku kan hanya menumpang hidup sama kamu." Raisya lagi-lagi merasa tidak enak hati.


"Jangan begitu mbak.. ini rejeki mbak. Jadi jangan menolak kebaikan orang!" Ucap Aisyah memeluk Raisya penuh sayang.

__ADS_1


__ADS_2