
Ibu tirinya Jason yang bernama Nadia hanya terdiam melihat sikap anak dari madunya bersikap seperti itu. Meski dia membencinya tapi hati nuraninya masih bisa bicara. Perlahan-lahan tangannya mengulur lalu mengusap bahu Jason yang sedang bersimpuh.
"Aku restui." Dengan lirih bibir perempuan yang masih cantik di usianya melewati setengah abad itu mengatakan sesuatu yang tak diduga Jason.
Jason mengangkat wajahnya karena benar-benar kaget. Perempuan yang selama ini memusuhinya akhirnya mengatakan sesuatu yang tak diduganya.
"Terimakasih ma... " Jason memeluk perempuan itu sambil menangis. Rasa haru itu ternyata telah mengalahkan ke laki-laki an nya. Semua orang ikut kaget melihat ke arah Jason dan Nyonya besar di rumah itu. Mereka tak menyangka ternyata perempuan itu bisa tulus mengatakan dia merestui anak madunya untuk menikah. Acara haru itu benar-benar suatu momen yang sangat berharga di keluarga itu. Sekian tahun mereka seperti perang dingin, ternyata sikap Jason yang sopan juga ikhlas telah meruntuhkan tembok kebencian yang selama ini menjulang tinggi.
"Mmm.. " Nyonya Nadia mengangguk tanpa banyak bicara. Jason pun melepaskan pelukan nya dari ibu tirinya itu lalu menyeka air mata nya.
Setelah keduanya merestui pernikahan Jason. Ayahnya Jason menyuruh mereka calon pengantin untuk bermalam di rumahnya. Masih banyak yang ingin dibicarakannya dengan sang putra juga dengan calon menantunya. Rasa rindu yang selama ini ditahan-tahan tak mampu dibendung lagi. Ayahnya Jason ingin bicara banyak dengan Jason juga Raisya sebagai ayah. Yang selama ini kehadiran nya selalu absen. Keduanya akhirnya bicara secara privasi di ruangan kerja yang biasa dipakai bekerja di rumah. Tepatnya setelah mereka makan malam. Ayah Jason ingin berbicara secara pribadi dengan Jason dan juga Raisya tanpa orang asing.
"Kalian sudah sejauh mana merencanakan pernikahan dan rencana ke depannya?" Tanya ayahnya Jason memulai pertanyaan.
"Kami.. baru berencana meminta restu dulu yah. Setelah itu baru kami akan menentukan tanggal pernikahan. Tapi... kami sudah berencana, jika restu semuanya selesai kami akan menggelar acara pernikahan sederhana seminggu ke depan." Jawab Jason memastikan rencana terpendeknya.
"Apa tidak terlalu buru-buru? Pernikahan pastinya butuh persiapan kan?" Ayahnya Jason ingin memastikan Jason tidak gegabah dalam menentukan keputusan.
"Tidak yah. Kami ingin menggelar acara sederhana saja. Cukup keluarga dan teman dekat saja yang hadir. Kami hanya butuh doa dari orang-orang terdekat. Kakaknya Raisya juga ikut membantu segala persiapan, tinggal menentukan tanggalnya saja jika sudah selesai semuanya. Kami menginginkan acara yang khidmat bukan mewah." Jawab Jason meyakinkan rencananya sudah disiapkan.
"Baiklah kalau itu sudah keputusan kamu. Lalu setelah menikah apa rencana mu ke depan?" Tanya Ayah-nya Jason tak mau putranya nanti malah tidak mempunyai kepastian karir karena sebentar lagi ada yang harus diberi nafkah lahir batin.
__ADS_1
Jason melihat ke arah Raisya.
"Saya akan bicarakan setelah menikah yah! Kalau Jason ingin Raisya nyaman. Kalau Raisya mau ikut ke tempat kerja Jason, ya.. Jason tinggal nanti menyiapkan segalanya. Tapi kalau Raisya nyamannya ingin dimana, nanti Jason akan persiapkan juga. InsyaAllah kalau bekal materi Jason masih mempunyai tabungan. Dan jika harus mencari kerja baru atau wiraswasta, Jason pun tidak akan keberatan selama Raisya nyaman tinggal bersama Jason." Jawab Jason yang memang belum mempunyai rencana apapun tentang rencana setelah menikah. Hal itu menunggu Raisya terlebih dahulu.
"Nah.. kalau kamu sendiri bagaimana?" Ayahnya Jason beralih melihat Raisya.
"Saya.. ingin menikmati dulu kebersamaan dengan Jason. Mengingat saya bukan perempuan single. Saya sudah mempunyai putra dari pernikahan sebelumnya." Jawab Raisya baru mengungkapkan identitasnya.
Ayahnya Jason terdiam. Dia tidak menyangka kalau Raisya adalah seorang janda beranak satu. Itu sungguh diluar dugaan nya.
Dia mengusap wajahnya karena bingung.
"Apa ayah keberatan kalau Jason menikahi seorang janda? Jason sudah mempertimbangkan dengan matang yah sebelum mengajak Raisya menikah. Disini Jason yang berniat ingin melindungi Raisya. Jadi tidak ada paksakan." Jason selaku laki-laki harus bisa membela calon istrinya di hadapan siapapun.
"Mmm.. tidak. Ayah tidak keberatan. Kalau boleh tahu, kamu bercerai atau ditinggalkan mati?" Ayahnya Jason ingin tahu lebih banyak.
"Keduanya. Suami saya yang pertama meninggal karena sakit. Lalu saya menikah lagi dengan adiknya karena desakan keluarga mertua agar anak saya ada yang menjaga. Dan saya diceraikan oleh suami saya karena kesalahpahaman. Dan.. sekarang mantan suami saya sudah menikah lagi." Jawab Raisya jujur apa adanya.
"Mmm... terus anakmu sekarang dimana?" Tanya Ayahnya Jason yang selama ini belum juga dikaruniai cucu. Dia berharap dari pernikahan Jason akan cepat dikaruniai seorang cucu sebagai penerus ahli warisnya ke depannya. Karena dia tahu anak pertama nya seorang yang mandul dan tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga.
"Anak saya... tinggal dengan mertua saya. Berhubung dia adalah cucu laki-laki pertama dan disiapkan sebagai penerus bisnis mereka." Jawaban Raisya cukup membuat ayahnya Jason kembali berpikir.
__ADS_1
"Apa nama perusahaan mertuamu?" Tiba-tiba terbersit untuk menanyakan silsilah keluarga mantan keluarga Raisya. Ayahnya Jason agak khawatir jika kedepannya akan mengancam bisnisnya juga jika terlibat konflik.
"Global Corporation."
"Tuan Robert Alberto? Apakah dia mertuamu?" Ayahnya Jason terperanjat mendengar nama perusahaan yang baru saja disebutkan Raisya.
"Iya. Beliau mantan mertua saya. Sampai sekarang saya masih berhubungan baik dengan keluarga mereka. Anda mengenalnya?" Raisya balik bertanya.
"Ya.. tentu saja. Kami adalah patner bisnisnya. Kami juga pemasok bahan baku ke perusahaan mertuamu itu." Jawab Ayahnya Jason terus terang.
"Oh.. " Raisya tak bisa bilang apa-apa lagi.
"Ayah kenal sama tuan Robert?" Jason ikut kaget juga ternyata dunia itu terlalu sempit untuk dijelajahi.
"Ya.. tentu saja. Kami saling mengenal." Jawab ayah Jason tidak ragu.
Sejenak ruangan itu hening. Mereka bertiga bingung harus berkata apa lagi. Untung nya Jason langsung bicara untuk memecahkan keheningan di ruangan itu.
"Ayah jangan khawatir! Itu masa lalu Raisya. Mereka juga masih berhubungan baik. Selama ini Raisya selalu menjaga hubungan dengan mertuanya dengan mengalah agar tidak ada perseteruan perebutan anak. Makanya Jason ingin sekali menjaga Raisya selamanya yah. Jason sangat menyayangi Raisya." Jawab Jason sambil melihat ke arah Raisya. Raisya tersenyum di dalam hatinya dia merasa terharu melihat sikap Jason yang melindunginya.
"Anda jangan khawatir jika nantinya bisnis Anda terganggu. Kami baik-baik saja tidak ada masalah dengan keluarga Alberto. Karena kami dua bersaudara sama-sama menikah dengan keluarga itu. Kakak saya Sarah menikah dengan putra pertama dari keluarga pak Robert." Jawab Raisya meyakinkan ayahnya Jason.
__ADS_1