
"Lebay kamu!" Baron hendak melemparkan sesuatu ke arah Tedi. Untung Tedi buru-buru pergi dari ruangan itu sebelum terkena serangan balik dari Baron. Dia tertawa cekikikan di balik pintu. Reni sang sekertaris menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan bos dan asistennya yang agak gesrek. Dia senang sekali menggoda duda keren yang masih menjomblo sampai sekarang.
Sepeninggal Tedi Baron melanjutkan membaca berkas-berkas yang dibuat Raisya. Dia kagum dengan kinerja Raisya yang cekatan. Mungkin kebiasaan Raisya yang selalu totalitas dalam bekerja membuat hasilnya juga maksimal.
Di lain tempat Jacky duduk di kursi kebesarannya dengan gelisah. Setelah mendapatkan kabar bahwa Raisya sudah bekerja di perusahaan PT. Sentosa Jaya abadi hatinya tidak tenang.
Jacky menyewa seseorang untuk melaporkan apa saja yang dilakukan Raisya selama bekerja, bertemu siapa saja dan pergi ke mana saja. Dia berubah posesif sekali setelah bercerai.
Jacky hanya bisa melihat Raisya dari kejauhan. Dalam lubuk hati yang paling dalam, Jacky masih sangat mencintai Raisya. Dia tak rela kalau seseorang dekat dengan dia apalagi sampai menikah dengan Raisya. Jacky berharap suatu saat hubungannya akan berangsur-angsur membaik dengan Raisya. Setelah perjuangannya hak asuh Arsel yang gagal, Jacky sedikit putus harap. Apa yang bisa dilakukannya untuk membuat hati Raisya luluh kembali ke pangkuannya? Dia tak mungkin juga berbuat kasar yang bisa saja membuat Raisya malah menjauh.
Setiap hari Jacky sengaja mengirimkan makan siang ke kantor Raisya. Tapi siang ini menurut kurir yang biasa mengirimkan makanan Raisya sedang tak ada di tempat. Jacky semakin gelisah.
Kemana Raisya pergi? Apa dia makan di luar? Lalu bersama siapa? Kemana aku harus mencarinya?
Itu yang ada dibenak Jacky saat ini. Gelisah dan takut Raisya pergi dengan seseorang.
Diambilnya benda pipih yang tergeletak di meja. Jacky menghubungi seseorang yang disuruh untuk mengawasi Raisya.
"Halo."
"Iya halo."
"Kamu lagi dimana?" Tanya Jacky penasaran. Dia berharap orang suruhannya ini bisa mengawasi Raisya dengan benar.
"Saya sedang di restoran xxx daerah xxx pak." Jawab seseorang di seberang telepon.
"Apa dia ada di sana?" Tanya Jacky penasaran.
"Iya pak. Tapi sayang mereka masuk ke ruangan VIp yang tak bisa saya awasi gerak-geriknya." Nada kecewa terdengar dari mulut orang suruhannya Jacky.
__ADS_1
"Mereka?" Jacky mengerutkan dahinya. Bertanya-tanya dengan siapa kira-kira Raisya pergi.
"Iya. Bu Raisya pergi dengan pemilik perusahaan dan asistennya. Saya kirimkan fotonya." Orang suruhan Jacky segera mengirimkan beberapa foto begitu tadi Raisya terlihat masuk bersama Baron dan juga Tedi.
Ada rasa panas dalam hati Jacky begitu melihat laki-laki ganten juga mapan yang terlihat dewasa yang sedang berjalan berdampingan dengan Raisya.
"Aku akan ke sana sekarang. Kamu awasi terus mereka. Kalau bisa kamu sewa ruangan yang bisa mendengarkan isi pembicaraan mereka!" Jacky tak mau ketinggalan informasi tentang Raisya. Rasanya dadanya akan meledak di penuhi api cemburu karena Raisya berjalan dengan laki-laki yang diketahui sebagai pemilik perusahaan.
Jacky kembali menatap foto-foto yang dikirimkan orang suruhannya. Penampilan Raisya yang meningkat drastis membuat Jacky semakin tak bisa lepas pandangannya dari Raisya. Dulu Raisya hanya berpenampilan sederhana. Kalaupun pernah berpenampilan seksi, itu Raisya lakukan dulu semasa sebagai selebgram.
Tapi setelah pensiun, Raisya kembali ke mode awal yang sederhana. Tapi setelah bercerai dari Jacky, Raisya mengubah gaya dan kebiasaannya. Mulai pergi ke salon untuk perawatan, olahraga rutin untuk menjaga berat badannya, juga mengubah gaya pakaiannya menjadi fashionable. Itu semua membuat Raisya semakin cantik juga energik.
Jacky segera melajukan mobilnya di atas rata-rata menuju restoran yang tadi disebutkan orang suruhannya.
Tak lama kemudian Mobil mewah Jacky pun terparkir di depan restoran. Dia melangkah cepat setengah berlari ke ruangan yang telah dipesannya lewat orang suruhannya.
Jacky masuk ke dalam ruangan dan menajamkan telinganya di balik dinding untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Apa bapak perlu alat ini?" Orang suruhan Jacky mengeluarkan alat stetoskop untuk membantu pendengaran agar pembicaraan mereka bisa terdengar.
Jacky mengambil alat itu dan dengan tak sabar. Buru-buru dia menempelkan alat itu di dinding.
Di ruangan sebelah tiga orang membahas tentang penemuan yang kemarin sudah di audit Raisya. Ternyata selama ini ketika perusahaan Baron ingin mengaudit, dan setiap kali itu juga Sinta selalu mengajukan kenalannya untuk membantu mengaudit. Tapi tidak pernah ditemukan ada hasil kejanggalan.
"Jadi.. apa ada kaitannya dengan bu Sinta pak?" Tedi melihat Baron yang sedang merenung serius.
"Kita tidak bisa langsung menyimpulkan hal itu sebelum menemukan bukti di lapangan." Ucap Baron.
"Jadi anda berencana akan survei ke bawah?" Tedi penasaran apakah bosnya itu akan keluar kota dan meninjau langsung ke lapangan.
__ADS_1
"Ya aku rasa begitu. Aku akan turun langsung dan mencari bukti dari kerugian perusahaan selama ini. Kalau dibiarkan perusahaan kita diambang bangkrut." Baron menyesal telah mempercayakan perusahaan di bawah Sinta dan ayahnya. Ternyata selama ini mereka mengambil keuntungan yang besar dari penggelapan keuntungan perusahaan yang dimanipulasi.
"Apa.. anda akan pergi sendiri atau akan ditemani..?" Pandangan Tedi mengarah pada Raisya.
Raisya yang sedang dipandang seperti itu merasa kikuk.
"Aku.. membutuhkan kamu untuk membuat laporan. Sepertinya aku akan membawamu bu Raisya." Jawab Baron yang memang membutuhkan tenaga Raisya untuk menemukan bukti-bukti kerugian perusahaan.
"Oh.. jadi bapak gak perlu saya lagi ya kalau sudah ada bu Raisya?" Asisten gesrek itu menggoda Baron.
"Elu.. jadi pengganti gue di perusahaan! Biar nanti kalau gue butuh koordinasi jadi gampang." Ucap Baron agak kesal karena merasa malu digoda di depan Raisya.
"Oh.. iya. Dikira bapak mau ngedate tidak ngajak saya." Tedi nyeletuk begitu saja yang membuat kulit wajah Baron yang putih merona kemerahan.
"Wajah bapak kenapa pak?" Tedi gak habis-habisnya membuat Baron malu.
Plakk...
Dia memukul bahu asisten gesreknya dengan dokumen yang sedang dipegangnya.
"Bibir dikondisikan!" Ucap Baron sambil melotot ke arah Tedi.
"Oke.. oke. Kondisi aman terkendali pak." Jawab Tedi sambil mengusap-ngusap bahunya yang memang tidak terlalu nyeri.
Raisya hanya terdiam memperhatikan kedua orang yang ada di depannya.
"Bu Raisya sudah punya pacar belum?" Tiba-tiba Tedi menoleh ke arah Raisya membuat Raisya kaget dengan pertanyaan di luar pekerjaannya.
"Apa?" Jawab Raisya gugup.
__ADS_1
"Bu Raisya sudah punya pacar belum? Kalau belum, boleh saya pe de ka te?" Tedi yang memang gesrek tak ada malu-malunya menanyakan hal pribadi pada Raisya.
"Tedi... " Baron membentak Tedi yang dirasa dia sudah bersikap tidak sopan.