Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Bohong yang baik


__ADS_3

Raisya begitu marah mendengar ada mengatakan kurang baik pada Michel.


Michel hanya diam. Dia tak mau memperpanjang urusannya. Dengan pindah sekolah saja, dia susah senang.


"Michel kok diem aja? Mama sedang bertanya sama kamu." Raisya biasanya tidak pernah semarah ini kalau bicara dengan Michel.


"Udahlah ma.. Michel gak mau memperpanjang urusan. Kan katanya Michel mau pindah? Ya usah selesai ma." Michel malas berdebat. Alih-alih. nanti malah merusak suasana.


"Mmm.. lihat aja nanti. Mamah akan labrak tuh anak biar mulutnya diam seumur hidup." Ancam Raisya.


"Ih.. mama kaya berani aja!" Michel tidak percaya kalau Raisya berani melabrak orang. Setahunya Raisya orang yang lemah lembut.


"Eh.. kamu gak percaya? Tanya aja sama tante Ratna bagaimana mama dulu. Mama sering belain tante Ratna kalau ada yang buli. Cuman kamu tidak tahu aja." Raisya kembali menyalakan kembali.


"Mmm... " Michel hanya berdehem, dalam hatinya sedang tersenyum menantikan aksinya besok.


Tak lama kemudian sampailah mobil. yang dikendarai di halaman rumah mendiang Nathan.


"Wah.. sudah lama ya.. mama tidak lihat rumah ini. Rasanya masih sama." Raisya begitu turun tidak langsung masuk. Dia malah melihat-lihat sekeliling rumah itu.


"Nyonya... " Bi Siti menghambur keluar saking gembiranya mendengar kabar kedatangan Raisya di rumah itu.


"Bi Siti... " Raisya tersenyum melihat Bi Siti menyambutnya.


"Apa kabar nyonya? Bibi kangen banget nyonya.. " Bi Siti tak henti-hentinya memeluk melepas, memeluk melepas sambil matanya berkaca-kaca melihat Raisya.


"Baik. Alhamdulillah bi. Bibi sama mang gimana kabarnya?" Raisya balik bertanya.


"Baik.. alhamdulillah. Yuk masuk nyonya! Maaf bibi tidak tahu nyonya akan datang. Jadi bibi tidak masak apa-apa." Bi Siti memang tidak tahu sama sekali tentang rencana kedatangan Raisya bersama kedua anaknya ke rumah Nathan.


"Tidak apa-apa bi. Santai saja! Kita baru saja makan." Ucap Raisya masih kenyang.


"Bi Siti masih duduk di samping Raisya memperhatikan wajahnya dengan detail. Ditambah melihat anak laki-laki yang bagus saja datang dengan Michel. Mereka sedang asik berkeliling melihat-lihat rumah sambil memperkenalkannya pada Arsel.

__ADS_1


"Nyonya tambah cantik saja. Bibi benar-benar kagum sama nyonya." Bi Siti melihat Raisya yang tambah berisi dan tidak lagi krempeng seperti dulu semakin terlihat segar.


"MasyaAllah... bi Siti juga tambah cantik." Raisya tersenyum menggoda bi Siti.


"Ah.. nyonya. Bibi bukan cantik.. tapi semakin tua semakin keriput." Keduanya tertawa senang.


"Tidak terasa ya nyonya ternyata saya sudah hampir empat tahun lebih tidak bertemu nyonya. Eh pulang-pulang sudah bawa anak tampan." Bi Siti memperhatikan Arsel yang sedang dituntun Michel.


"Iya bi.. waktu rasanya begitu cepat berlalu. Perasaan baru kemarin saya tinggal disini." Raisya mengehela nafas.


"Iya.. nyonya. Saya juga tidak menyangka. Ternyata nyonya panjang umur. Allah sayang sama nyonya. Nyonya kan orangnya baik." Ucap bi Siti masih membayangkan kenangan masa lalu yang dulu pernah terjadi di rumah ini. Bi Siti adalah saksi hidup yang melihat kejadian semuanya. Mulai Michel kecil, lalu kecelakaan Raisya dari tangga. Terus pernikahan Raisya yang tidak jelas, sampai pada kematian Nathan. Rumah ini banyak tragedi yang tidak menyenangkan.


"Ah.. bibi lupa.. belum kasih air sama nyonya. Nyonya pengen dibikinin apa?" Bi Siti merasa malu membiarkan majikannya tanpa dijamu.


"Apa saja bi. Kalau ada yang seger." Raisya merasa haus sekali dan badannya juga merasa lelah. Dia menselonjorkan kakinya ke atas meja.


"Eh.. nyonya malah tidur? Kasian mungkin kecapean. Apalagi habis beres-beres pindahan." Bi Siti menaruh jus dan potongan buah di atas meja dan menjauhkannya dari kaki Raisya. Bi Siti mendekati Michel yang sedang berada di halaman belakang. Mereka asik melihat kolam ikan yang sekarang sudah banyak dihuni ikan-ikan.


"Eh non Michel.. ini adiknya?" Bi Siti menyapa Michel.


"Acel.. " Arsel dengan cadel memperkenalkan dirinya pada bi Siti.


"Eh.. cep Arsel ganteng pisan. Meni lucu ya adik non Michel." Bi Siti gemas sekali melihat Arsel.


"He he.. iya bi. Ganteng mirip daddy." Ucap Michel mengingat ayahnya.


"Iya.. non Michel juga tambah cantik." Bi Siti ikut memuji agar Michel tidak sedih mengingat mendiang ayahnya.


"Lanjutkan mainnya ya! Bi Siti mau masak dulu buat makan malam. Eh.. jangan berisik ya.. mamanya lagi bobo di kursi." Ucap bi Siti mengingatkan Michel juga Arsel.


"Iya bi. Terimakasih." Jawab Michel sambil tersenyum.


"Gimana kamu bakal betah ga di rumah ini?" Michel bertanya pada Arsel.

__ADS_1


"Mmm... betah. Tapi.. Acel gak punya teman kak." Arsel yang biasa bermain dengan si kembar pastinya merasakan kesepian jika tidak ada teman bermain.


"Tenang aja! Nanti kakak ajak jalan-jalan sekitar komplek. Disini banyak teman-teman sebaya kamu. Apalagi kalau sore. Mereka suka pada bermain di luar." Michel yang pengalaman lama di rumah ini pernah diajak bermain oleh baby sitternya dulu.


"Asikk.. Acel bisa naik sepeda kak? Bisa main mobil-mobilan?" Arsel senang sekali dengan permainan otomotif.


"Bisa.. tapi... nanti kalau mama sudah beli. Kan kita di sini gak punya mainan. Kecuali boneka-bonekaan." Michel terkekeh-kekeh tertawa.


"Ah.. bocen. cikembal lala dan lili juga cuka main boneka melulu. Acel cuka cama papa Ilwan maen cepeda cama mobil." Arsel masih belum bisa melupakan kenangannya bermain dengan Irwan rupanya.


"Sabar.. nanti kalau mama sudah gak cape, bisa minta beliin sepeda. Kakak juga mau main sepeda. Jadi nanti kita beli dua, atau bisa beli tiga sama mama. Kalau libur sekolah kita bisa bersepada keliling komplek." Seru Michel bersemangat.


"Asikkk... " Arsel bersorak gembira.


Kring


Kring


Kring


Suara panggilan handphone mengagetkan Raisya yang tertidur di atas sofa ruang keluarga. Dia segera merogoh benda pipihnya.


"Halo Assalamu'alaikum." Degub jantung Raisya masih belum stabil. Dia tidak melihat identitas penelpon.


"Waalaikumsalam. Raisya kamu dimana?"Jacky agak kaget, karena suara Raisya terdengar serak.


" Eh.. Jack? Iya.. aku.. sedang di rumahnya Nathan." Jawab Raisya gugup.


"Nih papih pengen ngomong. Udah sore belum. juga pulang." Terdengar nada suara Jacky semu kesal.


"Oh.. iya. Halo pih." Raisya menegakkan duduknya.


"Kamu dimana? Kok belum pulang?" Tuan Robert was-was karena sudah sore tapi Raisya dan anak-anak belum pulang.

__ADS_1


"Maaf pih.. Raisya tidak sempat mengabarkan. Raisya... sama anak-anak ada di rumahnya Nathan. Tadi anak-anak pengen pulang ke sini." Bohong Raisya.


__ADS_2