
"Ayo cepet katakan!" Nancy menaikan intonasi bicaranya.
"Kan mamih punya detektif. Ngapain lagi nanya sama aku mih?" Jacky tak mau terus terang.
"Kamu mulai mau sembunyi-sembunyi. Mau mamih hukum?"
"Ampun mih! Takut!" Jacky bergelayut manja di tangan Nancy.
"Mmhh.. pura-pura ya! Sudah nanti mamih cari sendiri informasinya." Nancy bangkit dari ranjang Jacky.
"Top markotop mamihku yang cantik seeropa." Jacky mengacungkan 2 jempolnya.
"Ah.. gombal!" Nancy berlalu dari kamar Jacky.
Jacky terkekeh melihat sikap ibunya yang masih saja protektif. Padahal Jacky sudah cukup dewasa. Tapi di mata ibu, anak adalah tetap anak walau dia sudah bisa bikin anak lagi.
Jacky membaringkan tubuhnya di kasur. Lalu membuka layar handphonenya. Mengetik pesan pada seseorang.
"Rat.. kamu sudah tidur? Raisya gimana Rat?" Pesan segera terkirim. Dan centang dua terlihat dilayar handphonenya.
Tidak ada jawaban.
Jacky kembali mengetik pesan.
"Rat.. kamu sudah tidur? Kok gak dijawab?" Pesan segera terkirim. Centang dua kembali terlihat di layar handphonenya.
Tidak ada jawaban.
"Nih beneran sudah tidur gitu? Gue coba VC ah.. kali aja diangkat." Jacky bergumam sendiri.
Jacky mengalihkan mode menjadi VC.
klik..
Muncul wajah Ratna, matanya terlihat sembab. Jacky langsung terkejut melihat wajah Ratna seperti itu.
"Rat... lu nangis? Kenapa Rat? Raisya mana? Apa yang terjadi sama Raisya?" Jacky membrondong Ratna dengan pertanyaan. Langsung panik takut ada apa-apa dengan Raisya.
"Elu ganggu gue aja Jack! Gue lagi nonton drakor." Terlihat wajah Ratna kesal karena tontonannya terpotong oleh telepon Jacky.
"Ya elah.. gue kira ada apa. Elu nonton drakor sampe mewek-mewek gitu?" Jacky masih melongo melihat wajah Ratna yang sembab.
Aneh sekali pecinta drakor. Sampe mengorbankan diri sebegitunya. Apa ramenya sih?
Jacky bergumam dalam hati.
"Ya udah gue tutup! Gue mau lanjut." Ratna berniat menyudahi telepon VC dari Jacky.
__ADS_1
"Eh tunggu dulu. Gue mau tanya kabar Raisya?"
"Dia ada, lagi tidur. Barusan sudah pemeriksaan dokter jaga. Hasilnya lumayan ada peningkatan. Dua hari harus bedrest dan tidak boleh banyak pikiran." Terang Ratna.
"Arahin dong ke Raisya! Gue pengen lihat langsung Rat!" Pinta Jacky pada Ratna meminta mengarahkan handphonenya pada wajah Raisya.
"Ih elu nyusahin deh!" Ratna bergerak dari sofa mengarahkan Video call nya pada Raisya. Dia tak berani bersuara takut Raisya terganggu. Lalu kembali ke sofanya.
"Sudah puas lihat nya?" Rasa kesalnya masih terlihat.
"Sorry gue ganggu elu!" Jacky tersenyum meminta maaf.
"Emang."
"Elu jelek Ratna jangan mewek Unfaedah!" Sela Jacky yang melihat perubahan wajah Ratna yang memang aslinya cantik jadi sembab.
"Biarin! Emang gue pikirin!"
"Eh... dibilangin malah melawan. Yang mikirin sih bukan gue, tapi kantong kresek di rumah gue." Jacky terkekeh memikirkan lawakannya sendiri.
"Eh sembarangan ya! Elu mau gue daftarin jadi heater baru tau rasa lho!"
"Lah gitu aja ngambek. Mau nyari oppa plastik? Ada fans juga di rumah gue." Jacky mau menggoda lagi Ratna.
"Sudahlah! gue gak minat sama kresek di rumah elu. Mending gue nyari sendiri di Korea. Kapan gue dibawa ke cabang sana ya?" Ratna melamun sesuatu karena perusahaan pak Robert memang ada cabangnya juga di Korea.
"Elu beneran mau ketemu para oppa kresek itu? Gue bisa kok antar elu kesana!" Jacky menawarkan Ratna.
"Eh aslinya! Entar kita ngambil cuti kalau Raisya sudah benar-benar sembuh. Kita jalan kesana."
"Beneran Jacky?"
"Iya.. "
"Awas ya kalau dusta! Elu gue daftarin jadi heater."
"Ya ampun elu dendam banget sama gue. Dasar cewek kresek!"
"'Jacky... " Ratna berteriak tak sadar teriakannya membangunkan Raisya.
"Ratna... gue kaget! Raisya menegur Ratna karena jantung Raisya berdetak lebih cepat ketika dia langsung bangun karena kaget mendengar teriakan Ratna.
"Lah seperti suara Raisya Rat?" Handphonenya masih menyala suara Raisya terdengar oleh Jacky.
"Iya. Elu mau cek lagi?"
"He he.. kalau elu gak keberatan."
__ADS_1
"Kalau iya, terus elu emang mau apa?" Nada tantangan Ratna jelas terdengar Jacky sebagai candaan.
"Lah elu gitu aja gak ikhlas. Pamrih banget sih lu sama temen lu sendiri. Gue kan peduli Rat sama Raisya."
"Lah peduli kalau ada maunya. Gue gak ngijinin elu deket sama Raisya. Elu mah sholehnya kagak jelas. Ngerokok iya, mabok iya, yang enggak.. ngaji sama shalat kan?"
"Ya ampun elu kok ngebahas itu sih Rat! Iya gue akuin gue gak sholeh.. tapi banyak salahnya. Puas lu?" Jacky sedikit tersinggung dengan perkataan Ratna.
"Ya udah bentar aja! Gue mau nonton nih nanggung." Ratna turun dari sofa mendekati Raisya.
"Sya.. tuh si Jacky penasaran pengen liat elu katanya." Ratna mengarahkan kamera handphonenya pada Raisya.
"Assalamualaikum. Apa Jacky? Gue baik-baik aja. Terima kasih ya jack udah nolongin gue! Sekarang elu tidur! Ini sudah malem. Lagian elu besok kerja kan? Izinin gue ya ke bu Mia!" Raisya walaupun pandangannya tidak begitu jelas tetap menatap kamera agar Jacky tidak khawatir. Padahal. matanya sedikit kabur mungkin akibat memar karena pukulan.
"Waalaikumsalam. Iya entar aku minta izin sama bu Mia. Besok elu sama Ratna dulu ya! Entar lusa gue ke Bandung lagi."
"Gak usah bolak balik Jack! Gue udah agak baikan kok. Perut gue juga udah agak mendingan." Terang Raisya biar Jacky tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Iya baik. Selamat beristirahat! Cepet sembuh juga ya! Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Pembicaraannya pun berakhir.
"Rat kamu belum tidur?"
"Belum. Gue lagi nonton Sya."
"Jangan terlalu malam. Nanti subuh elu kesiangan."
"Iya. Satu jam lagi udahan kok!" Ratna pergi lalu kembali ke atas sofa dan kembali nonton drakor kesukaannya.
"Tuh anak kalau sudah asik nonton lupa waktu." Raisya bicara pelan mengomentari kebiasaan Ratna yang demam drakor.
Malam terus maju ke peraduan. Ratna akhirnya membaringkan tubuhnya di atas sofa. Begitu pun Raisya dia tertidur pulas kembali.
Di lain tempat Nathan tidak bisa tidur. Dia selalu gelisah jika sedang tidur. Apalagi sekarang sedang menunggu Michel. Sesekali Michel terbangun lalu kembali tertidur.
Nathan baru bisa memejamkan matanya setelah lewat dari jam 12. Baru saja dia tertidur dia dikejutkan oleh suara Michel yang mengigau.
"Mommy jangan pukuli aku! Ampun mommy... Sakit mommy... Michel sakit... "
Suara itu terdengar oleh Nathan. Dia segera mendekati Michel.
"Michel... ini daddy sayang... kamu mimpi buruk?" Nathan membangunkan Michel.
Michel pun mengerjapkan matanya mengumpulkan kesadarannya.
"Daddy... Michel takut daddy... "
__ADS_1
"Michel takut apa sayang? Kan ada daddy disini!"
"Michel.. gak mau ketemu mommy.. dia jahat daddy."