Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Ada apa denganku?


__ADS_3

Mata Ratna menatap tajam pada sepasang insan yang sedang mendekati mobil Jaguar yang terparkir di area VIP.


"Sya.. "


"Rasya!" Ratna menaikkan intosnasi suaranya.


"Ya?" Raisya menatap kosong pada Ratna sedangkan sepasang netra Ratna sedang menilik Raisya yang terlihat menyimpan sendu.


"Kamu gak pa-pa kan?" Ratna seolah membaca apa yang dirasakan Raisya sekarang.Tapi tetap saja dia ingin memastikan perasaan Raisya yang terlihat tidak baik-baik saja setelah keduanya melihat Jacky dan wanita itu.


"Hh?" Raisya terlihat linglung tak bisa menjawab pertanyaan Ratna. Sebentar melihat Ratna lalu kembali memperhatikan Jacky.


Sebuah irisan perih baru saja mengenai hati Raisya begitu melihat adegan Jacky membukakan pintu untuk wanita itu sambil tersenyum senang.


"Apakah dia sedang membagi rasa itu dengan dia? Atau akulah yang telah mengambil rasa itu dari mereka?" Itu yang berkumandang dalam hati Raisya saat ini. Mempertanyakan rasa itu sebenarnya milik siapa?


Ratna menarik tangan Raisya lalu mengarahkan dirinya ke tempat parkir. Sahabatnya ini tak ingin Raisya terus melihat tontonan yang mungkin saja sedang menoreh luka.


"Sya.. kamu gak mau masuk?" Ratna menegur Raisya yang masih berdiri mematung di depan pintu mobilnya sedangkan netranya mengikuti mobil Jaguar yang baru saja melewatinya. Ada lambaian yang sedang berkibar berharap dia menatap dirinya dan menjadi ratu di hati pria itu. Mobil itu menghilang dari pandangan Raisya begitu bergabung bersama di jalanan besar.


"Iya gue masuk." Raisya membuka pintu lalu duduk di samping Ratna sambil memakai safety belt.


"Aku tadi melihatnya di toilet." Bibir Raisya tiba-tiba bergerak tanpa ada yang bertanya.


"Gue malah lihat dia di berkasnya pak Nathan." Jawab Ratna tanpa ragu.


Sepanjang perjalanan tak ada lagi pembicaraan antara Ratna dan Raisya. Keduanya memilih diam tak ingin membahas Jacky maupun wanita itu. Entahlah malam itu seperti habis ide pembicaraan antara Ratna dan Raisya. Biasanya mereka selalu heboh apalagi sudah hampir seminggu ini keduanya tak bertemu.


"Ma kasih ya traktiran nya!" Ucap Raisya begitu mobil Ratna sampai si depan kostan nya dengan nada lemah.


"Sama-sama. Eh Sya.. Elu besok mau masuk gak? Kalau mau, biar gue jemput." Tawar Ratna ingin mencairkan suasana. Ratna tak ingin melihat Raisya bersedih.


"Ntar gue kabarin!' Jawab Raisya sambil membuka safety belt. Dia membuka handle pintu lalu keluar.


"Dah.. Assalamu'alaikum." Suara Raisya terdengar melemah kurang semangat.


"Waalaikumsalam." Netra Ratna terus mengekori Raisya sampai punggungnya hilang tak terlihat lagi.

__ADS_1


Reaksi Raisya mendadak dingin. Biasanya ketika Raisya berpisah dari Ratna jarang sekali berjalan memunggunginya. Kalau pun iya dia pasti akan berulang kali membalikkan badannya menoleh pada Ratna sambil melambai-lambai kan tangannya.


Tidak seperti malam ini. Dia berjalan lurus tanpa menoleh lagi pada Ratna yang setia melihatnya sampai Raisya benar-benar masuk. Ratna melihatnya dengan tatapan penuh pertanyaan.


Apakah Raisya cemburu pada wanita itu? Jangan-jangan Raisya memang menyukai Jacky sejak awal.


Setelah Raisya tak lagi terlihat Ratna berlalu melaju kan mobilnya kembali pulang ke rumahnya.


Sementara itu Raisya masuk ke dalam kostannya lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan lesu. Mau bilang kecewa, rasanya Raisya tak pantas. Mau bilang baik-baik saja, kenyataannya hati Raisya seperti sedih melihat Jacky bersama wanita itu. Apalagi dia sepertinya bukan saingannya.


Raisya mengambil benda pipih yang masih baru pemberian pak Adam waktu di dirawat di rumah sakit. Raisya membuka layar handphonenya dan membuka aplikasi penyimpanan nomor. Raisya sudah mengisi ulang data-data penting dan nomor-nomor yang biasa banyak berhubungan dengan Raisya.


Tling


Tling


Tling


Sebuah notifikasi datang dari pesan whatsapp.


"Raisya. Ini gue kirimkan beberapa file buat kamu pelajari. Kata Ratna kamu sekarang sudah keluar dari rumah sakit. Kapan ngantor lagi? Gue sepi eung.. " Sebuah pesan masuk dari Hesti.


"Sya... kata Ratna kalian abis makan-makan. Teganya kalian gak ngajak aku? Tapi gak mengapa, babang cakep dambaan semua wanita tidak akan tega marah sama neng cantik seperti dirimu. Terlalu sayang jika rindu ini dihabiskan untuk memarahimu." Pesan gombal masuk dari kak Hendrik.


Spontan Raisya mengangkat kedua ujung bibirnya ke atas mengulaskan sebuah senyuman setelah membaca pesan dari Hendrik.


Raisya membalas kalimat pendek untuk Hesti juga bu Mia dengan 'Iya Asiaaap.'


Raisya mengetikkan kalimat agak panjang pada Hendrik


"Wah gombalan cap dua kelinci begitu dahsyat menyentuh kalbu para wanita lemah. Untung kalbuku masih dibungkus kak. Tidak terbuai rayuan pulau kelapa yang terseok-seok angin ke sana kemari." Pesan langsung centang biru tandanya pesan langsung dibaca.


tut


tut


Suara panggilan langsung masuk. Sebuah nama cap dua kelinci terpampang di layar handphone Raisya.

__ADS_1


Raisya tak langsung mengangkatnya. Malah terlihat ragu.


klik


"Assalamu'alaikum." Ucap Raisya yang akhirnya mengangkat panggilan Hendrik.


"Waalaikumsalam. Kok lama jawabnya Sya?" Hendrik langsung melayangkan protes.


Raisya sedang memutar ide untuk menjawab protesnya Hendrik.


"He barusan aku lagi nyari helm dulu kak, biar tidak ketiban kelapa dari sebuah pulau yang ada cap dua kelinci." Kilah Raisya menjawab protes dari Hendrik.


"Sembarangan.. cap itu dua kelinci cocoknya untuk Cassanova sayang. Kak Hendrik gak celap celup sana sini layaknya sang Cassanova cukup nyelup hati neng Raisya aja."


"Waduh neng Raisya bukan teh manis apalagi teh tarik yang bisa dicelup." Raisya terkekeh menertawakan lawakan pembicaraannya dengan Hendrik.


"Eh sayang... mulai besok kakak kalian antar jemput ya. Sekalian kakak mau mencari apartemen buat investasi."


"Terimakasih kak. Tapi tidak pake sayang. He he."


"Ya udah. Selamat istirahat ya!. Assalamualaikum." Hendrik mengakhiri teleponnya.


Raisya mulai membuka file-file yang dikirimkan Hesti untuk dikerjakan. Malam ini Raisya memilih untuk mengalihkan konsentrasinya pada pekerjaan.


Di lain tempat Jacky sudah mengantarkan seseorang sampai hotel.


Tling


Tling


Sebuah notifikasi masuk ke layar handphonenya sebelum Jacky meneruskan menyetir.


Jacky membuka layar handphonenya. Dan membaca isi pesan.


"Jangan bermain api! Atau kamu akan menyesal."


"Raisya?" Jacky mengerutkan dahinya membaca pesan itu. Jacky berpikir mengingat-ingat kejadian yang telah lalu.

__ADS_1


"Bukannya ini nomor Raisya yang lama? Kok bisa aktif lagi? Bukannya handphonenya hilang? Mungkinkah Raisya sedang bersandiwara?"


Jacky berbicara sendiri dengan seribu pertanyaan dalam pikirannya setelah membaca pesan itu.


__ADS_2