Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Menyimpan rasa


__ADS_3

Ratna terkesima dengan pesona laki-laki yang ada di depannya yang tak lain adalah bosnya yang baru. Sejenak dia tak bisa mengendalikan perasaannya ketika netra keduanya saling memandang.


Pesona Nathan bagai magnet yang bisa menarik siapa saja yang melihatnya. Aura innernya memang kuat membuat siapapun yang disekelilingnya gampang terpesona. Ditambah memang Nathan mempunyai kecerdasan dibanding saudara-saudaranya. Tak heran banyak yang mengaguminya. Sebab itulah ayahnya mempercayakan perusahaan cabang Amerika padanya daripada kedua saudaranya.


Di usia yang terbilang masih muda 28tahun dia sudah bisa memimpin perusahaan besar yang membawahi perusahaan yang lainnya. Nathan memang mempunyai karakter memimpin yang baik menurun dari sifat tuan Robert.


Ratna menarik pandangannya dengan cepat dari Nathan. Laki-laki itu kembali menatap ke depan.


"Kamu kerjakan laporan setiap penjualan dari semua gerai dalam tiga tahun terakhir. Dan bikin survei apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan masing-masing gerai." Nathan bicara tegas dan dingin.


"Pak kita mampir dulu untuk makan siang, sebelum kunjungan ke tiap gerai." Reza memberitahukan Nathan karena mobilnya sudah terparkir di sebuah restoran mewah sesuai seleranya.


Seorang pelayan langsung menyambut dan mengarahkan ketiganya di dua meja yang berbeda.


Reza sudah mempelajari kebiasaan Nathan yang memang tidak suka satu meja dengan bawahannya jika makan atau pun sedang menerima jamuan.


"Kamu mau pesan apa?" Reza menawarkan Ratna untuk memilih menu.


Ratna melihat sebuah buku menu yang dikemas cantik layaknya sebuah agenda oleh pelayan restoran.


"Miinumnya Green latte dan chicken chess pakai nasi." Pesan Ratna pada pelayan.


"Baik."


"Anda?" Pelayan menanyakan pesanan pada Reza.


"Kopi americano less sugar, steak and potato.


"Baik. Saya permisi!" Pelayan itu segera berlalu dari hadapan Reza dan Ratna.


Ratna sesekali melihat Nathan yang sudah duduk di ruangan khusus. Terlihat dia sesekali menyesap rokok dan mengepulkannya ke udara. Pandangan Ratna seolah tidak bisa terlepas dari pesona laki-laki yang sedang menyendiri itu.


"Fokus! Pak Nathan tidak suka bekerja dengan orang yang gampang gerogi." Reza mengingatkan Ratna. Dia mengamati gerak-gerik Ratna yang sedang mengamati Nathan dari kejauhan.


"Baik." Jawab Ratna tak banyak bicara.


Ratna mengambil handphonenya. Dia teringat pada Raisya yang biasa makan siang bersama. Ratna mulai mengetikkan sesuatu.

__ADS_1


"Beb... maafin gue ya. Kayanya makan siang kita hari ini berpisah. Gue diajak bos survei pasar. Dan ntar pulangnya gue gak bisa nganter elu. Soalnya gue tak tahu bakal beres jam berapa." Pesan itu segera dikirim.


Tling


Sebuah notifikasi terdengar. Ratna kembali mengirimkan pesan.


"Sipp👍" hanya pesan singkat yang tertera di layar handphone Ratna.


"Eh... gue kirim 1meter elu kirim 1cm, pelit banget." Pesan itu dikirim Ratna kembali pada Raisya sebagai bentuk protes.


Lama Ratna melihat layar handphone nya tapi hanya centang dua yang dia lihat dalam pesan WhatsApp nya. Berarti Raisya belum membaca pesannya.


Makanan segera datang lalu keduanya pun fokus dengan pesanannya masing-masing.


Nathan terlihat berbicara dengan seorang pelayan. Pelayan itu terlihat menganguk-angguk menerima arahan dari Nathan. Entah apa yang sedang dibicarakan Nathan dengan pelayan itu.


Yang jelas Ratna hanya mencuri-curi pandang disela dia menyuapkan makanannya.


Setelah ketiganya selesai makan siang. Teza membayar tagihan pada kasir. Netranya tertuju pada billing pesanan diluar yang dipesannya.


"Maaf.. boleh saya tanya. Kalau yang ini dipesan pisah punya siapa?" Reza menunjukkan struk billing yang dianggapnya agak janggal.


"Oh.. " Reza hanya mengatakan oh. Dahinya mengernyit sedang mengingat-ingat sebuah nama asing.


"Memangnya ada pegawai baru yang bernama Michel di bagian keuangan?" Reza berkata dalam hati.


Ah masa bodo. Toh yang pesan bos. Kali aja bos baru nyimpen orang di bagian keuangan.


Pekik Reza yang tak mau ribet memikirkan tagihan tadi.


Dilain tempat anak bule bernama Michel sepertinya sudah bosan melihat chanel anak yang hampir dua jam ditontonnya. Dia melihat pada Raisya yang masih sibuk membaca laporan neraca keuangan yang harus segera dilaporkan pada Direktur Utama.


Di ruangan itu hanya ada Hesti dan Raisya. Jacky dan bu Mia atasannya masih bekerja di luar ruangan setelah tadi ada rapat penyambutan dan rapat direksi.


"Sya.. kamu lapar gak?" Hesti bicara agak keras dari dalam kubikelnya.


"Lumayan."

__ADS_1


"Lumayan apa? Lumayan laper apa lumayan kenyang?" Hesti kembali berbicara.


"Saya lagi nanggung nih!" Raisya fokus pada pekerjaannya.


"Elu.. kalau udah kerja fokus sama angka lupa tuh perut harus diisi. Tuh bobot juga elu itung biar nambah dikit berat badan lu!" Protes Hesti.


"Iya.. duluan aja kalau mbak Hesti laper!"


"Itu anak elu gak protes dari tadi?" Hesti yang sudah ada di depan kubikel Raisya menatap bocah bule manja dengan tatapan khawatir.


"Eh iya saya lupa.. ada bocah. Ampir aja anak orang gue parak.. " Cicit Raisya baru ingat disampingnya ada Michel.


"Mau bareng ke kantin?" Hesti menawarkan untuk makan bersama.


"Kayanya saya pesan aja deh. Soalnya takut bocah ini menjerit-jerit nanti bikin suasana rusuh." Tolak Raisya.


"Ya udah mau dipesanin apa? Biar ntar aku suruh pak Boy nganter pesanan elu kesini?" Hesti merasa kasian melihat Raisya berusaha karena harus mengurus bocah bule itu.


"Aku tak tahu, dia makanannya apa? Tadi pagi dikasih roti. Kalau sekarang masa iya dikasih roti lagi?" Raisya sedang menimbang-nimbang keputusan untuk pemesanan makanan untuk Michel.


"Emangnya dia anak siapa sih Sya..?" Hesti akhirnya penasaran juga.


"Anak nemu." Cicit Raisya asal.


"Lah.. nemu.. ntar disangka elu nyulik baru tau rasa." Hesti mengerucutkan bibir nya.


"He he.. iya deh, Maaf mbak jadi repot ya.. Raisya sih mau sekalian sholat mbak disini. Soalnya repot males, harus ke kantin ke mushola bawa bocah ini. Males denger petir menggelegar." Cicit Raisya sambil tertawa.


"Ya udah.. mau pesan apa jadinya? Soalnya gue mau ke bawah sekarang. Eh si Ratna gak nyamper elu?" Hesti baru ingat biasanya Raisya selalu bareng sama Ratna.


"Dia lagi survei pasar mbak sama bos baru." Raisya agak sedikit lemas. Mengingat kejadian tadi pagi.


"Oh."


"Ya udah mbak. Saya pesan ayam tepung aja deh sama roti. Minumnya teh manis dingin sama dan jus jeruk dingin.


" Ya udah gue duluan ya Sya! Pesanan elu ntar gue titipin ke pak Boy."

__ADS_1


"Iya mbak. Ma kasih banyak."


Hesti berlalu dari hadapan Raisya. Sementara Raisya membuka laci.


__ADS_2