
"Sya.. kamu dari tadi nungguin Nathan?" Ratna berbisik pada Raisya takut Nathan mendengar obrolannya.
"Tadi ada perawat yang menyusul ke sini." Ungkap Raisya jujur.
"Mmm... kok mau Sya? Apa kamu ada rasa?" Ratna ingin mengetahui isi hati sahabatnya itu.
"Alasan kemanusiaan." Jawab Raisya tidak mau bertele-tele.
"Mmm... emang kamu sudah gak dendam Sya?" Ratna kembali bertanya.
"Sudah malam. Aku ngantuk banget. Sudah dua kali aku dibangunkan. Aku mau lanjut tidur bukan mau bergosip." Raisya langsung berbaring di sofa sambil memeluk Michel yang berada di sampingnya. Sofa di ruangan itu memang bisa dibuka menjadi sofa bed.
"Aku juga mau tidur tapi meluk kamu. Sudah lama aku tidak bisa berpelukan kaya gini." Ratna memeluk Raisya gemas. Dua sahabat itu tidur terlelap di sofa bed bersama Michel.
Ya semenjak menikah memang kedua sahabat ini tidak pernah lagi tidur bersama. Selain ada pasangan juga kesempatan seperti ini hampir tidak ada. Jadi momen menginap di rumah sakit dijadikan sebagai reuni keakraban antara kedua sahabat itu.
Nathan yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Raisya tersenyum bahagia melihatnya tertidur nyaman bersama Michel juga Ratna. Ada rasa iri dalam hatinya karena pengalaman seperti mereka hampir tidak pernah dirasakannya. Ingin sekali Nathan mempunyai momen seperti itu apalagi tidur sambil dipeluk mesra.
Nathan seperti bocah kecil yang rindu belaian. Sejak kecil memang Nathan dibesarkan dengan penuh kekerasan bukan dengan kasih sayang. Jadi tidak heran dia mempunyai karakter kasar dan kurang peka.
Tapi semenjak kehadiran Raisya juga Michel, dia banyak belajar lebih kalem. Mengubah kebiasaan kasarnya itu tidak mudah. Dia berharap kehadiran Raisya sekarang mampu membantunya menjadi lebih baik.
Rasa sayang yang kini hadir di hati Nathan benar-benar membuatnya bahagia. Ada baiknya bisa berkumpul dengan mereka. Menikmati kebersamaan dan kebahagiaan.
Nathan bukannya tidur malah sedang berpikir. Dia sedang memikirkanbagaimana caranya untuk bisa kembali pada Raisya. Dia tak ingin kehilangan Raisya dan ingin mengembalikan kepercayaan Raisya padanya seperti waktu itu. Andaikan dia tidak mengatakan hal-hal buruk waktu itu, mungkin sampai sekarang Raisya akan menjadi miliknya.
Dia berjanji pada dirinya akan menebus kesalahannya dan sedikit demi sedikit akan mengubah sikapnya yang arogan.
Akankah janji Nathan terbukti?
Hari berganti pagi. Ratna, Raisya juga Michel sudah melakukan shalat tadi di mushola secara bergantian. Mereka sekarang sedang menikmati sarapan paginya bersama-sama.
Raisya menyuapi bubur Arsel, lalu beralih menyuapi bayi besar yang sedari tadi menunggu giliran disuapi. Pipi Raisya merah merona, karena mata Nathan tidak mau lepas menatapnya.
"Mmm bisa tidak kamu tidak menatapku terus-terusan?" Raisya tidak nyaman ditatap seperti itu.
"Tidak. Aku ingin menikmati pemandangan indah yang selalu aku rindukan selama ini." Nathan mendadak menggombal setelah tadi malam dia belajar dari mbah google jurus menaklukan perempuan.
__ADS_1
"Ishh.. " Raisya menyebikan bibirnya.
"Jangan manyun seperti itu, bikin aku gemes." Nathan berbisik, takut terdengar oleh Ratna juga Michel.
"Ih apaan sih kamu?" Raisya merasa aneh melihat Sikap Nathan yang tiba-tiba berubah jadi begitu.
"Aku ingin segera sembuh Sya..!" Nathan memegang tangan Raisya yang sedang menyinduk bubur dalam mangkok.
"Ih lepasin! Malu kelihatan orang." Raisya agak melotot protes pada Nathan.
"Bagus malah keliatan. Agar mereka mendukung kita rujuk." Senyum Nathan mulai menggoda.
"Siapa juga yang mau rujuk?" Tolak Raisya yang belum memikirkan ke arah sana.
"Aku.. " Nathan langsung mencubit punggung tangan Raisya karena greget melihat wajah Raisya menekuk.
"Aww.. sakit tau." Raisya menggosok punggung tangannya yang sudah memerah karena dicubit.
"Eh bos papa nakal ya!" Arsel yang melihat ibunya meringis langsung melayangkan protes.
"Baik bun.. " Michel langsung mendekati Raisya dan mengambil mangkok yang sedang dipegang Raisya.
"Yah.. Sya... " Nathan terlihat kecewa. Tapi dia langsung tersenyum kembali melihat Michel mau menyuapi dirinya.
"Anak daddy tambah cantik ya." Nathan melancarkan kegombalan nya untuk meraih simpati Michel.
"Ih.. lebay." Michel cemberut.
"Jangan cemberut dong! Daddy kangen sama kamu.. uhuk uhuk... " Nathan terbatuk-batuk karena terlalu banyak bicara.
"Daddy.. " Michel langsung panik melihat wajah Nathan merah karena sesak.
"Kenapa Chel?" Raisya segera menghampiri ranjang Nathan.
Mata Nathan berair dan menatap Raisya. Nafasnya agak tersenggal-senggal. Raisya langsung mengelus kening Nathan untuk memberinya ketenangan. Benar ajaib. Batuknya langsung mereda dan nafasnya mulai teratur.
"Jangan membiarkan daddy kamu banyak bicara Chel! Dia bakal batuk-batuk. Nanti sakit ke arah lukanya." Raisya membiarkan Michel yang meneruskan menyuapi Nathan.
__ADS_1
Raisya kembali duduk di sofa. Dia sedang berpikir baik buruknya kejadian yang baru saja terjadi. Dia tak mungkin terlalu dekat dengan Nathan. Dia sedang menyesali perbuatannya tadi malam yang memberi lampu hijau dengan melanggar norma agama yang berkaitan hubungannya dengan lain muhrim. Dia memijat pelipisnya karena pusing.
"Sya.. kamu sakit?" Ratna melihat Raisya merenggut.
"Sedikit agak pusing." Jawab Raisya tidak bisa berbohong.
"Istirahatlah! Biar aku yang menunggu Arsel. Sebentar lagi Irwan datang. Kamu bisa pulang dulu bersama Michel." Ratna tak ingin Raisya banyak pikiran. Selain Arsel pastinya dia juga berpikir tentang Nathan mantan suaminya.
"Aku tidur dulu sebentar ya!" Raisya membaringkan tubuhnya karena sakit kepalanya bertambah nyeri. Mungkin tidurnya terganggu dan banyak pikiran.
"Kenapa tante? Bunda sakit?" Michel menghampiri Ratna menanyakan keadaan Raisya yang terlihat sakit.
"Iya. Sakit kepala. Mungkin kelelahan. Michel kamu tidak sekolah? Apa mau diantarkan tante?" Ratna tidak mau Michel bolos sekolah.
"Tante bisa bantu Michel untuk izin ke sekolah? Michel kasihan lihat bunda kelelahan seperti itu. Michel mau bantu jagain daddy di sini." Anak itu merasa kasihan pada ayahnya kalau harus ditinggal sendirian. Apalagi kondisinya sangat lemah dan mengkhawatirkan.
"Iya.. tante minta nomor guru kamu. Nanti tante telepon. Tapi.. kamu nggak capek sayang? Kalau capek pulang saja nanti sama tante. Sebentar lagi om Irwan kesini menggantikan tante.
"Tidak tante Michel mau menunggu daddy di sini." Michel bersikukuh ingin menunggu di rumah sakit.
Ratna mengusap punggung Michel "Anak baik."
Nathan mengamati pembicaraan antara Michel dan Ratna. Hatinya merasa sakit melihat kebaikan Michel pada dirinya meski dia sudah menyakiti hati anak itu.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan dari pintu.
"Papih.. " Nathan terkejut melihat tuan Robert muncul diikuti Reza.
Ratna langsung berdiri memberi hormat. Michel langsung menciun punggung tangan tuan Robert sebagai tanda hormat.
"Apa yang terjadi?" Tuan Robert nampak cemas melihat Nathan.
__ADS_1