Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Sebait rasa


__ADS_3

Jam sudah menunjuk pada angka 7. Semua karyawan sudah keluar dari perusahaan. Hanya beberapa orang saja yang masih ada di dalam kantor. Biasanya OB dan para security.


"Assalamu'alaikum." Pak Boy OB, melongo dari pintu. Dia sedang memeriksa ruangan divisi keuangan. Tak biasanya lampu sama mesin printer masih menyala.


"Waalaikumsalam. Eh pak Boy." Raisya menoleh ke arah pintu.


"Mbak Raisya belum pulang?" Pak Boy mendekatinya sambil membawa sapu dan pengki yang biasa ditenteng kemana-mana.


"Belum pak. Lagi lembur." Jawab Raisya.


"Oh. Mau pak Boy buatkan minuman?" Pak Boy yang sudah akrab tidak sungkan untuk membantu siapa saja yang membutuhkannya. Jadi gak heran kalau pak Boy banyak yang menyukai.


"Oh boleh pak. Kalau bapak tidak keberatan." Jawab Raisya yang masih asik mengumpulkan kertas-kertas yang keluar dari mesin printer.


"Susu coklat kan?" Pak Boy langsung menebak kesukaan Raisya.


"Tahu aja. Iya pak. Soalnya kalau kopi ntar gak bisa tidur." Jawab Raisya yang sedikit lagi selesai mengerjakan tugasnya.


"Oke." Pak Boy langsung berlalu ke pantry yang ada di ruangan keuangan. Setiap ruangan divisi dilengkapi dengan toilet dan pantry masing-masing.


"Aku mau shalat dulu biar nanti sampai di kostan langsung bisa tidur." Gumam Raisya sambil berlalu menuju toilet.


"Mbak.. ini susunya!" Pak Boy menyimpan gelas. susu itu di meja Raisya.


"Eh kemana mbak Raisya?" Mata pak Boy mengedar.


"Oh... ternyata dari toilet."


"Kenapa pak?"


"Eh gak mbak. Ini mbak susunya mumpung masih hangat." Pak Boy memberitahu Raisya bahwa susu buatannya sudah selesai dibuatkan.


"Oh iya terimakasih pak!" Raisya langsung menyeruput.


"Wah pas." Raisya memuji susu buatan pak Boy.


"Wah mbak Raisya masih suka susu ya walau sudah segede ini?" Pak boy sedikit tertawa.


"He he.. bukanya pak Boy juga kaya bayi kalau ketemu istri." Candaan orang dewasa keluar dari mulut Raisya.


"Eh mbak Raisya.. jangan dibahas kan belum menikah!" Pak Boy sedikit malu mendapatkan candaan Raisya.


"He he.. aku shalat dulu ya pak!" Raisya segera menggelar sajadah lalu shalat isya.

__ADS_1


"Wah beruntung jodoh yang dapetin mbak Raisya. Sudah cantik, pintar, sholehah lagi." Pak Boy memuji Raisya sambil menyapu membersihkan ruangan.


"Mbak Raisya masih lama?" Pak Boy bertanya pada Raisya yang terlihat sudah menyelesaikan shalatnya.


"Sebentar lagi pak. Tinggal ngebundel kertas laporan." Jawab Raisya sambil melipat mukena dan sajadahnya.


"Oh."


"Kenapa? Pak Boy sudah selesai membersihkan ruangan ini?" Tanya Raisya.


"Sudah mbak. Tinggal mematikan lampu dan menguncinya. Kecuali mbak Raisya mau menginap disini." Pak Boy terkekeh menertawakan Raisya.


"Ih.. pak Boy. Menginap disini sendirian gak mau. Takut." Raisya menggidikkan bahunya.


"Takut apa mbak? Ada penampakan?" Pak Boy kembali bercanda.


"Untung penampakannya pak Boy. Bagaimana penampakan dari yang punya perusahaan. Ntar aku diminta uang jasa menginap deh!" Raisya tertawa.


"He he bisa aja mbak Raisya. Tapi... pak Boy gak habis pikir ya mbak. Kenapa pak Adam sering menginap di kantor? Bukannya dia punya rumah gede? Apa enaknya tidur di kantor? Sudah sendirian he he gak ada yang ngekepin lagi." Pak Boy kembali tertawa.


"Mungkin perkerjaannya lebih banyak pak. Contohnya aku nih. Kalau banyak kerjaan gak mungkin bisa pulang cepat. Kalaupun sudah selesai, keburu capek badan pak! Lebih baik tidur di kantor daripada di jalan kelelahan, ntar kecelakaan gimana?" Bela Raisya yang merasakan beratnya menjadi orang kantoran.


"Iya ya mbak. Mending kaya pak Boy aja ya.. he he gak banyak mikir tapi duit juga gak banyak. Yang penting happy." Dengan pemikiran sederhananya pak Boy menyatakan pendapat.


'Iya ya mbak. Jadi bos harus pintar tapi capeknya juga lebih dari pak Boy." Pak Boy mengernyitkan dahinya.


"Iya pak. Apapun profesi kita. Yang kita butuhkan adalah bersyukur. Kalau tidak bersyukur tetap aja merasa kurang." Cicit Raisya sudah selesai membundel kertas laporannya.


"Ya betul mbak." Pak Boy manggut-manggut.


"Pak. Boleh gak minta tolong pesankan ojeg online?" Raisya meminta pak Boy memesan ojeg online. Karena saat ini Raisya tidak memegang handphone.


"Oh bisa mbak. Lah handphone mbak kemana?" Pak Boy heran.


"Hilang pak!" Jawab Raisya.


"Wah.. ?" Pak Boy melongo.


"Aku sudah selesai kok pak. Sekarang mau turun ke bawah." Raisya menyimpan dokumen itu di meja Jacky agar besok pagi bisa dibaca.


"Baik mbak. Kita turun bareng aja! Biar mbak ada temennya." Pak Boy keluar mengikuti Raisya setelah sebelumnya mematikan lampu ruangan dan mengunci ruangan itu.


"Terima kasih ya pak!" Raisya keluar dari lift bersama pak Boy.

__ADS_1


"Iya sama-sama. Ojeg nya sudah ada di depan mbak!" Terang pak Boy.


"Oke."


Tanpa sepengetahuan Raisya, sepasang mata sedang membuntuti Raisya sambil menghisap rokok. Setelah jaraknya lumayan dekat. Dia menarik tangan Raisya.


"Eh.. " Raisya terkejut begitu tangannya ada yang menarik. Raisya langsung menoleh.


"Jacky.. "


"Ikuti aku!" Wajah Jacky terlihat tidak ramah.


"Tapi aku sudah pesan ojeg." Tolak Raisya.


"Cancel!"


"Gak bisa. Dia sudah menunggu." Raisya agak bingung karena ojeg onlinenya sudah menunggu di depan mata.


"Tunggu disini!" Jacky melangkah mendekati ojeg pesanan Raisya. Terlihat dia mengeluarkan uang satu lembar dari dompetnya lalu memberikannya pada tukang ojeg. Wajahnya terlihat senang menerima pemberian Jacky.


Jacky kembali menggenggam tangan Raisya dan menuntun ke area parkir.


"Hei lepasin tanganku!" Raisya merasa tak nyaman, tangannya digenggam erat seperti itu.


Jacky akhirnya melepaskan genggamannya.


"Kenapa kamu mengcancel ojegnya?" Raisya bingung dengan sikap Jacky yang tiba-tiba berubah menjadi dingin.


"Dia seneng kok. dicancel." Jawab Jacky sambil membuka pintu mobilnya.


"Masuk!" Jacky menyuruh Raisya masuk ke dalam mobilnya.


Raisya masih mematung melihat mobil yang ada di depannya.


"Apakah perlu kupaksa masuk?" Jacky setengah memaksa.


"Eh iy iya aku masuk." Raisya duduk di samping Jacky dan masih merasa bingung. Kenapa juga dia harus masuk ke mobil ini.


Jacky yang melihat Raisya agak bingung langsung memasang Safety belt nya. Dan sesuatu tak terduga kepalanya malah beradu dengan Jacky, karena kaget.


"Awww.. " Raisya meringis.


"Sakit? Coba ku lihat!" Jacky yang merasa bersalah langsung mendekati kepala Raisya melihat bagian yang terkena benturan.

__ADS_1


Jarak antar Jacky dan Raisya begitu dekat membuat masing-masing merasakan aura aneh. Dag dig dug jantung yang tak begitu beraturan dan sulit dikendalikan.


__ADS_2