
Wajah dokter Ferdi merah menyala, begitupun matanya. Dia menahan marah, kesal juga sedihnya menjadi satu setelah mendengarkan apa yang baru saja dikatakan pak Kardi.
Dokter Ferdi berdiri sambil mengangkat tas peralatan terapinya.
Ada rasa sakit yang sedang menusuk-nusuk hatinya. Setelah mendengarkan kenyataan yang selama ini dicari-carinya. Dulu dia berharap orang tuanya datang. Kini setelah tahu malah dia sangat membencinya. Kenapa dia tega menyimpan dirinya di panti meski itu permintaan dari istrinya. Dan dokter Ferdi saat ini tidak mempercayainya. Mana ada permintaan bodoh seperti itu. Jangan-jangan ayahnya Raisya yang sekarang diketahui bahwa dia ayah sambungnya, sedang membuat kebohongan agar dosa-dosanya dimaafkan.
"Saya permisi." Dokter Ferdi pun meninggalkan kamar itu dengan kemarahan yang besar. Dia berjalan dengan pikiran benang kusut.
Raisya yang khawatir akan dokter Ferdi langsung turun dari ranjang hendak menyusul dokter Ferdi.
"Mah.. Raisya pergi dulu. Nanti kita bicara lagi." Raisya setengah berlari mengejar dokter Ferdi yang sudah masuk. ke dalam mobilnya.
Raisya segera membuka handle mobil yang belum sempat dokter Ferdi menguncinya. Raisya duduk di jok sebelah kiri dokter Ferdi.
"Ngapain kamu?" Bentak dokter Ferdi. Wajahnya yang tadinya manis berubah garang. Emosinya sedang tinggi. Dokter Ferdi menatap tajam ke arah Raisya. Raisya hanya melihat ke depan tanpa mau melihat ke arah dokter Ferdi.
"Turun kamu!" Bentuknya sekali lagi sampai memekakkan telinga Raisya.
"Aku tidak akan turun. Kak Ferdi yang harus turun!" Raisya dengan tegas membalikkan kata-kata dokter Ferdi. Raisya pikir dokter Ferdi harus turun agar bisa mendengarkan sampai tuntas apa yang akan dibicarakan ayahnya.
"Baik.. jangan salahkan jika kamu celaka!" Dokter Ferdi menyalakan mobilnya lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Raisya sesekali meringis melihat dokter Ferdi menjalankan mobilnya seperti pembalap liar.
__ADS_1
"Kak istigfar! Bawa mobilnya jangan kaya kesetanan begini!" Inilah kekhawatiran Raisya kenapa dia harus mengikuti dokter Ferdi. Dia takut emosi dokter Ferdi tidak stabil dan mencelakai dirinya sendiri.
Sampailah mobilnya terparkir di sebuah hotel mewah. Dokter Ferdi turun dari mobilnya. Di berjalan masuk ke dalam. hotel yang kemarin sudah disewanya untuk menginap demi menyusul. Raisya ke Bandung. Dokter Ferdi tidak menghiraukan Raisya yang sedang mengikutinya dari belakang.
Ceklek pintu kamar hotel terbuka setelah dokter Ferdi membukanya dengan kartu kunci magnet yang biasa ada di hotel-hotel.
"Kak.. pulanglah ke rumah! Jangan begini kak!" Cegah Raisya menarik tangannya dokter Ferdi.
"Heh? Maksudnya pulang kemana? Dari dulu rumah ku di panti. Aku telah dibuang sejak lagi demi kalian. Terus sekarang kamu menyuruh aku pulang ke rumahmu yang besar itu agar menyaksikan kebahagiaan kalian di atas penderitaan ku. Maksudmu begitu?" Sarkas dokter Ferdi yang pikirannya dipenuhi rasa marah, kecewa dan sedih.
"Bukan begitu kak.. kita kan jadi keluarga mari sama-sama memaafkan bapak. Aku tahu kakak sangat menderita. Tapi apakah begini caranya kakak menyelesaikan setiap masalah?" Raisya melirik kiri kanan, takutnya ada yang melihat dan mendengarkan pembicaraannya dengan dokter Ferdi.
"Lebih baik kamu pergi dari sini! Aku tak akan memaafkan kalian semua!" Ucap dokter Ferdi akan menutup pintu hotel.
"Kak.. tolonglah! Jangan begitu! Bagaimana caranya agar kakak bisa memaafkan bapak?" Raisya melihat dokter Ferdi dengan wajah penuh permohonan.
"Apa kamu bisa menebus kesalahan bapak? Hah?" Dokter Ferdi mendekati Raisya. Dia terus maju mendekati Raisya dengan penuh amarah yang sedang ditumpangi bisikan syetan.
Raisya melihat wajah dokter Ferdi berubah agak seram, menjadi ketakutan. Langkah Raisya terus mundur seiring langkah dokter Ferdi yang terus maju. Yang akhirnya Raisya langkah Raisya pun mentok di dinding hotel.
"Apa yang akan kakak lakukan padaku?" Raisya begitu ketakutan melihat wajah dokter Ferdi bernafsu. Sekarang sudah tidak ada jarak antara dirinya juga dokter Ferdi.
"Katanya kamu ingin aku memaafkan?" Sekarang kening dokter Ferdi sudah menempel di kening Raisya.
__ADS_1
Raisya menutup mata lalu mengangguk polos. Dia tidak tahu apa yang sedang merasuki tubuh dokter Ferdi sekarang.
"Baik.. aku akan memaafkan kalian dengan cara kamu harus membayarnya." Entah apa maksud dokter Ferdi berkata begitu. Dan secepat kilat dokter Ferdi menghimpit badan Raisya yang sudah menempel di tembok. Dengan nafsu yang sedang ditumpangi syetan dokter Ferdi hilang akal
Dia langsung menyambar bibir Raisya dengan kasar. Lalu membuka jilbab yang sedang dipakainya. Bibirnya yang sedang***** Raisya tangannya langsung menotok bagian-bagian tertentu agar Raisya tidak melawan.
Ya Allah... apa yang sedang dilakukan kak Ferdi? Dia seperti kesetanan begini.
Setelah berhasil menotok bagian tertentu di tubuh Raisya, dia membuka baju Raisya dengan paksa dan kasar.
Panutannya semakin beringas. Sebelah tangannya langsung membuka pengait yang menutupi bagian dada Raisya. Dan dia melemparkan asal penutup itu.
Ingin sekali Raisya menjerit. Tapi anehnya suaranya tidak keluar begitupun tangannya terasa lemas tak mampu melawan karena dokter Ferdi dengan pengetahuannya dengan mudah melemahkan Raisya.
Raisya hanya bisa mengeluarkan air matanya. Dia sangat menyesal. karena telah menyusul dan memaksa masuk ke dalam kamar hotel yang menyebabkan dokter Ferdi hilang akal.
Sakit.. itu yang sedang diteriakkan dalam pikirannya. Ini kali kedua dia harus kehilangan kehormatannya. Bedanya dulu ketika waktu melakukannya dia sudah dalam keadaan menikah, tapi sekarang? Jangan katakan hubungan ini adalah halal. Ini yang akan disesali seumur hidupnya. Kehormatan yang direnggut paksa karena kemarahan dan kekecewaan oleh orang yang ada di depannya.
Raisya hanya bisa berderai air mata dan memanjatkan doa berharap ada keajaiban.
Dokter Ferdi yang sudah berkabut nafsu bejat, kini semakin berani membuka bagian bawah baju Raisya. Tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Setelah berhasil melucuti pakaian Raisya. Dia mengangkat tubuh Raisya yang sudah lemah dan membaringkannya di ranjang mewah hotel yang telah di sewanya.
Secepat kilat dokter Ferdi menyamakan keadaan. Kini tak ada sehelai benang pun yang menempel di badannya. Dia naik ke atas ranjang menarik selimut agar menutupi tubuh keduanya. Dia mengungkung badan Raisya penuh damba. Di mulai mencumbu Raisya penuh harap, dia tak mempedulikan Raisya yang sudah pingsan karena trauma yang pernah menimpanya. Dokter Ferdi tak mau berhenti merasai setiap inci tubuh Raisya dengan nafsunya yang bejat. Dan sampai puncaknya dia hanya bermain sendirian tanpa balasan.
__ADS_1