Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Kartu debit


__ADS_3

uwek.. uwek.. Raisya mulai morning sickness. Setiap bangun tidur perutnya seperti dikocok dan memaksa dia harus mengeluarkan isi perutnya. Rasa pahit, lemas juga pusing sedang dialami Raisya sekarang. Dia mulai kepayahan setiap kali muntah-muntah. Dia bersandar di kursi dengan wajah lesu dan lemas.


Dengan setia sepasang suami istri ini membuatkan teh jahe atau air madu hangat untuk mengurangi rasa mualnya Raisya.


Mereka yang belum mempunyai momongan merasa harus membantu Raisya untuk ikut merasakn bagaimana susahnya seorang perempuan mengandung. Dengan begitu, jika nanti mereka takdir Allah mempercayakan pada mereka seorang anak, sudah ada pengalaman mengurus ibu hamil.


"Mbak ini diminum dulu! Biar perut mbak mendingan." Aisyah memberikan air jahe plus madu hangat ke tangan Raisya. Aisyah pun mengelus-ngelus punggung Raisya meski tidak membantu meredakan mualnya, tapi sedikitnya ada rasa nyaman dirasakan Raisya dalam batin.


"Terimakasih Aisyah. Maaf aku jadi merepotkan." Lirih Raisya yang merasakan lemas. Raisya meneguk air jahe itu sedikit demi sedikit dan akhirnya habis juga.


"Habis ini mau makan apa mbak? Biar Aisyah siapkan." Aisyah begitu antusias mengurus Raisya. Apalagi suport suaminya juga ikut mendukung agar Raisya bisa dibantu selama hamil mudanya.


"Aku enek Aisyah.. rasanya aku mual terus." Raisya melirik lemah ke arah Aisyah.


"Bagaimana kalau saya buatkan salad mbak? Coba ya! Perut mbak harus diisi biar gak mual terus. Anak dikandung mbak juga harus makan, biar tetap sehat." Aisyah menyemangati Raisya.


Raisya hanya mengangguk lemah. "Aku mau tiduran dulu ya! Pusing." Raisya berdiri sambil berpegangan pada tembok. Aisyah menuntun tangannya yang satu mengapitnya agar Rat tidak jatuh.


Setelah memuntahkan isi perutnya Raisya tertidur kembali di ranjang. Dia merasa beruntung ada orang yang mau berbaik hati padanya di saat dia sangat lemah. Tadinya dia berencana mencari kost-kostan, tapi melihat dirinya payah seperti itu, sepasang suami istri itu mencegahnya. Untungnya pak rt mengizinkannya untuk tinggal lebih lama karena alasan kemanusiaan.


"Mas Anwar sudah sarapan?" Tanya Aisyah yang dari sibuk mengurus Raisya.


"Sudah. Tadi mas makan roti. Kasian kalau Aisyah harus bikin nasi goreng. Nanti mbak Raisya harus muntah lagi karena enek bau bawang." Anwar begitu pengertian setelah melihat penderitaan ibu hamil yang kepayahan.


Dari kejauhan Anwar melihat dua wanita yang sedang duduk, ada rasa kasihan melihat Raisya kepayahan karena mabok hamil muda.


Sepertinya kalau Aisyah hamil akan seperti itu. Kasihan para ibu. Jangan sampai aku menyakiti perasaan perempuan. Melihat muntah begitu saja aku sungguh tak tega.

__ADS_1


"Maafin aku ya mas. Tadi jadi gak sempat menyiapkan sarapan buat mas." Aisyah memeluk suaminya manja.


"Gak pa-pa sayang. Mas gak masalah. Ada roti kok. Nanti mas bisa makan di kantin. Mas gak tega jika lihat kamu kaya mbak Raisya. Kayanya menderita banget." Anwar balas memeluk Aisyah lalu mengecupnya lembut.


"Namanya juga jihad mas. Sebagai istri harus sabar. Sebagai suami harus lebih sayang lagi sama istri." Ucap Aisyah.


"Iya. InsyaAllah. Kamu jaga mbak Raisya ya! Kamu juga jaga diri. Mas berangkat dulu." Anwar menguraikan pelukannya dari Aisyah.


"Baik mas. Hati-hati di jalan!" Aisyah mengambil punggung tangan suaminya lalu menciumnya dengan takzim.


Anwar pun berangkat kerja diantar Aisyah sampai pintu. Setelah mobil yang dikemudikan suaminya pergi, Aisyah kembali ke dapur membuatkan salad untuk Raisya.


"Assalamualaikum." Aisyah mengetuk perlahan pintu kamar Raisya.


"Waalaikumsalam." Raisya membuka mata melihat ke arah pintu. Rumah Aisyah memang tidak terlalu besar. Karena ini komplek sederhana, tapi rumahnya nyaman dan bersih enak untuk ditinggali. Seperti kamar yang sedang ditempati Raisya sekarang ini. Hanya ada kasur single dan satu lemari dan kaca cermin. Tak banyak peralatan karena ukuran kamarnya memang cukup untuk barang itu saja.


Raisya pun bangun dari tidurnya.


"Maafkan aku ya Aisyah. Aku jadi tidak enak hati sama kamu." Raisya benar-benar malu sudah merepotkan sepasang suami istri itu.


"Gak pa-pa mbak." Aisyah tersenyum. Sampai saat ini Aisyah belum bisa tahu banyak mengenai siapa Raisya. Karena Raisya lebih banyak diam dan tak banyak bicara.


"Biar aku makan sendiri saja Aisyah." Raisya tak mau disuapi oleh Aisyah.


"Baik. Ini mbak." Aisyah pun menyodorkan piring yang berisi salad pada Raisya.


Raisya pun menyuapkan salad buatan Aisyah. Ada rasa segar di mulutnya setelah salad itu masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Aisyah." Panggil Raisya dengan segan.


"Iya mbak?" Aisyah menatap Raisya.


"Ini.. ada kartu ATM mbak. Pakailah! Ini kode pin nya." Raisya memberikan sebuah kartu debit miliknya pada Aisyah dengan secarik kertas kecil yang berisi nomor pinnya.


"Apa ini mbak?" Aisyah melihat pada benda yang diletakkan pada telapak tangannya.


"Ambillah untuk keperluan kalian selama mbak disini. Mbak malu harus merepotkan kalian terus-menerus." Raisya merasakan ketulusan pasangan suami istri mengurusnya.


"Jangan mbak! InsyaAllah kami masih ada uang untuk mencukupi kebutuhan kami. Simpan saja untuk kebutuhan mbak!" Aisyah kembali menyodorkan kartu itu pada Raisya.


"Terimalah! Mbak gak mau kalian mengeluarkan biaya untuk mbak. InsyaAllah dalam kartu ini banyak saldonya. Jadi mbak ingin kalian mengambil apa yang telah kalian keluarkan untuk mbak." Ucap Raisya sambil mengembalikan kartu debit miliknya.


"Baiklah mbak. Saya akan bicara dulu dengan mas Anwar. Jika mas Anwar mengizinkan saya baru bisa menggunakannya. Tapi jika tidak, maaf saya tidak mau mbak." Aisyah tahu kalau dia memegang kartun itu pastinya berat. Bukan hanya sekedar uang, tapi fitnahnya juga besar juga godaannya.


"Kalau begitu teleponlah suamimu! Mbak juga pengen denger apa kata suami kamu Aisyah." Raisya tak mungkin terus-menerus tinggal gratisan di rumah orang. Selain Aisyah sudah mengurus Raisya, masa iya dia juga harus mengeluarkan uang untuk kebutuhannya. Sedangkan Raisya mempunyai uang yang cukup lumayan banyak.


"Baik mbak. Saya coba telepon ya!" Aisyah pun menghubungi suaminya di depan Raisya.


"Assalamu'alaikum mas." Ucap Aisyah memulai mengucap salam.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa dek?" Tanya Anwar agak serius.


"Ini mas. Aisyah mau tanya pendapat mas Anwar. Mbak Raisya menitipkan kartu debitnya di Aisyah. Katanya untuk membeli kebutuhan dan keperluan kita, juga kebutuhan mbak Raisya. Menurut mas Anwar bagaimana?" Aisyah menunggu jawaban dari suaminya tentang kartu debit yang diberikan Raisya.


"Mmm.. menurut mas. Pakailah kartu itu untuk kebutuhan Mbak Raisya saja! InsyaAllah kebutuhan kita sudah tercukupi. Dan untuk apa. kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita Aisyah?" Jawab Anwar memberikan jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2