Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Haruskah aku bersembunyi?


__ADS_3

"Coba lihat?" Michel meminta bukti, tak langsung mempercayai begitu saja perkataan ayahnya.


"Nih... lihat lucu ya? Ada boneka-boneka nya." Nathan menunjukkan handphone Raisya yang casingnya ciri khas perempuan. Pink, asesoris boneka lampu yang menggantung pada sisi ujungnya.


"Ih iya lucu Daddy.. " Michel tersenyum sambil membolak-balikan handphone.


"Tapi.. " Wajah Michel seperti berpikir.


"Kenapa?" Nathan melihat Michel seperti menatap aneh.


Michel melihat ayahnya, menatap lamat-lamat wajah ayahnya dengan seksama.


"Beneran ini handphonenya tante? Terus kenapa handphone ini ada di Daddy?" Pertanyaan Michel seolah ingin memastikan ayahnya tidak berbohong. Padahal Nathan sedang membuat satu kebohongan demi kebaikan anaknya.


"Sebentar daddy cas dulu handphonenya. Nanti pasti ada foto tante di dalamnya. Tante sengaja menyimpan handphonenya di daddy karena tantenya gak bisa ketemu Michel. Katanya tante mau ketemu Michel kalau Michel nya sudah tidak rewel. Terus tidak minta gendong-gendong, gak jerit-jerit. Baru tantenya mau ketemu Michel lagi." Terang Nathan membuat skenario memanfaatkan kerinduan Michel pada Raisya. Anak lucu itu hanya manggut-manggut di atas pangkuan ayahnya mencerna setiap kalimat yang sedang diluncurkan ayahnya. Padahal kalau anak itu tahu, dia sedang dibohongi dan dimanfaatkan. Begitu melihat Raisya yang dengan tulus mau menjaganya, hati Michel seolah terpaut menemukan sosok yang lama dia rindukan.


"Hhmm." Michel menatap handphone Raisya sambil berpikir. Anak ini terlalu banyak menyimpan kekecewaan dari masalah orang tuanya. Makanya dia mengidap tantrum, akibat emosi negatifnya penuh.


"Daddy gak bohong kan?" Michel dengan suara pelan menatap Nathan.


Nathan langsung memeluk Michel seolah ingin membungkam pertanyaan anaknya.


"Sekarang kita tidur yuk! Daddy ngantuk Handphonenya biar Dady cas ya! Besok pagi kita lihat lagi handphonenya bareng Michel." Ajak Nathan mengakhiri pembicaraan dengan Michel.


"Daddy janji ya gak bohongin Michel!" Pertanyaan itu kembali dilontarkan.


"Hhhm."


"Nih!" Michel menyodorkan Handphone Raisya ke tangan ayahnya.


"Anak baik!" Nathan mengucek rambut Michel. lalu bangkit dari ranjangnya mengisi daya handphone. Lalu kembali ke ranjang mengajak tidur Michel dengan memeluknya. Tak lama kemudian keduanya tertidur dengan mimpinya masing-masing.

__ADS_1


Di lain tempat Jacky menatap langit-langit kamarnya. Dia memikirkan apa yang tadi diucapkan Raisya. Semenjak pertemuan dengan Raisya dulu di divisi Marketing Jacky sudah menyukainya. Itulah sebabnya ketika Jacky dipindahkan ke bagian keuangan dia meminta bu Mia untuk memindahkannya juga. Dia tak mau Raisya berpisah dengannya. Dengan begitu dia lebih mudah untuk tetap bersama-sama.


Jacky merasa perasaannya tak bersambut manakala melihat Raisya malah sepertinya dingin-dingin saja, tidak peka dengan semua perhatian Jacky selama ini.


Begitupun dengan handphone pemberian Jacky. Raisya menolaknya membuat Jacky tersinggung. Banyak wanita yang berharap diberi ini malah menolak. Jacky juga merasa kesal pada sikap Raisya yang mau mengambil resiko mengasuh Michel.


Apakah dia harus berterus terang siapa dirinya? Apalagi setelah mendengar pernyataan Raisya ingin menikah dengan bos yang punya perusahaan. Bisa jadi dia bercanda, tapi itu sepertinya masuk ke dalam hati Jacky. Tadinya Jacky tak begitu ambisius untuk menjadi pimpinan perusahaan tapi kini, dia sedang berpikir ulang.


Padahal sebelumnya ayahnya pernah menawarkan untuk menggantikan posisi kakaknya Adam yang akan dipindahkan ke Amerika. Tapi Jacky lebih memilih bagian keuangan. Katanya males sibuk juga gak berminat untuk menjabat.


Sejak dulu memang Jacky bercita-cita menjadi dokter bukan jadi pebisnis makan dari itu dia tidak terlalu ambisius untuk mengambil alih perusahaan. Tapi apalah daya mempunyai ayah seorang diktator. Dia menyerah dan tak mampu melawan keinginannya.


"Ra.. kenapa sih kamu? Apa kamu gak bisa sekali saja menatap aku sebagai laki-laki? Walau aku tahu sejak kamu bekerja denganku tak ada satu laki-laki pun yang dekat denganmu. Tapi aku malah khawatir jika di hatimu menyimpan satu laki-laki yang aku gak tahu." Jacky berbicara sendiri. Apakah dia harus menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya yang selama ini dia sembunyikan.


Jacky menekan satu nomor yang selama ini telah mendominasi hidupnya.


"Pih.. katanya papih mau ngasih mobil baru? Sekarang aku butuh mobilnya." Jacky menagih sesuatu yang pernah ditolaknya.


"Tapi pih.. aku baru butuh sekarang!"


"Hhmm. Kamu mau yang sama atau mau merk yang lain?"


"Aku mau mobil yang sama yang waktu itu papih mau kasiin ke aku."


"Besok kamu pilih aja ke deller! Makanya jangan sok pura-pura gak butuh. Nolak rejeki!" Orang yang diseberang telepon langsung menutup teleponnya.


Jacky tersenyum. Untung ayahnya tidak banyak menolak permintaannya. Biasanya suasana hatinya lagi good mood.


"Yess!" Kata-kata itu meluncur begitu saja.


###

__ADS_1


"Beb.. kalau elu gak enak sama pemberian Jacky, gue bisa beliin kamu beb yang lebih murah." Ratna melihat Raisya hanya melamun sejak naik mobil online.


"Gak lah Rat.. gue bisa beli sendiri. Elu gak usah panik! Simpan uang kamu buat cadangan tagihan yang sewaktu-waktu elu ditagih deep colector." Raisya menepuk bahu Ratna.


"Iya. Gue juga bermaksud mau tanggungjawab Beb! Mending gue gantiin kerusakan mobil daripada gue ngerjain lu Sya!" Ratna tertunduk.


"Sudahlah! Jangan sedih gitu juga kali. Gue bisa bantu kamu yang.. Katamu, katanya kalau mobil gitu ada asuransi. Jadi kalau mau ganti rugi mungkin gak mahal-mahal banget. Asal gue tahu dimana orangnya dan dimana dia tinggal? Nanti gue yang bicara sama orangnya." Seperti biasa Raisya mudah terenyuh gampang menolong orang.


"Eh gak usah-usah.. Sya! Gue bisa sendiri kok!" Protes Ratna.


"Tumben lu yang berani?" Wajah Raisya menatap heran Ratna.


"Gue janji gak mau merepotkan elu lagi." Ratna tersenyum palsu. Ada yang dirahasiakan dalam hatinya.


"Bagus! Kamu harus belajar mandiri!" Raisya tanpa curiga menyemangati Ratna dengan tulus.


Mobil online pun tiba di area parkir lalu keduanya turun.


"Beb.. tuh Jacky! Ratna menunjuk Jacky yang sedang turun dari mobilnya


"Weis keren.. gak salah dia turun dari Jaguar?" Ratna melongo melihat mobil Jacky.


"Kayanya pinjem..!" Raisya asal bicara.


"Ya elah.. pinjem buat ngapain dibawa ke kantor? Ada juga dipinjem buat nganterin penganten beb.." Cicit Ratna matanya mengekor langkah Jacky.


"Udahlah! Ngapain juga kamu riweuh ngurusin Jacky!" Protes Raisya. Padahal dalam hatinya Raisya pun merasa aneh dengan Jacky yang tiba-tiba membawa mobil mewah. Apakah karena obrolannya tadi malam.


"Jack.. " Ratna memanggil Jacky. Jacky melirik sebentar lalu kembali meneruskan langkahnya.


"Ih.. kenapa dengan si Jacky beb? Dia kayak aneh gitu? Jadi sombong pura-pura gak kenal kita beb?"

__ADS_1


__ADS_2