Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Sambutan anggota baru keluarga


__ADS_3

"Beri waktu buat mereka!" Irwan membaca kondisi ketidaknyamanan antara Raisya dan Nathan.


"Apa kamu mengizinkan aku untuk mendatangi rumahmu? Aku tak bisa hidup tanpa.. " Kalimatnya menggantung di udara. Ingin menyebutkan Michel dan Raisya, tapi mulutnya ditahan agar tidak mengucapkannya.


"Kamu bisa datang kapan saja. Tapi tetap, aku harus menanyakan Raisya dulu. Traumanya masih kuat. Aku tak ingin Raisya tak nyaman.


"Terimakasih." Nathan menepuk bahu Irwan yang tahu sejak sekarang anaknya akan tinggal bersama mereka karena mengikuti Raisya.


"Sama-sama." Irwan langsung masuk ke dalam mobil begitupun dengan Nathan.


"Kalian lapar tidak?" Irwan menoleh pada Ratna lalu ke belakang melihat Raisya dan Michel.


"Mmmm... aku lapar." Ratna langsung mewakili semuanya.


"Oke.. kalau begitu sehabis jemput anak papa yang tiga, kita makan-makan ya!" Irwan ingin sekali membuat mereka senang.


"Oke." Ratna langsung tersenyum bahagia.


Irwan melajukan mobilnya ke arah sekolahan dimana si kembar dan Arsel ada di sana. Irwan melirik ke arah kaca spion, dia melihat mobil Nathan mengikutinya. Irwan berusaha mengerti perasaan Nathan meski memang dia juga pernah ikut tidak menyukainya.


"Bun.. mau kemana?" Michel penasaran melihat jalan asing yang dilaluinya.


"Sebentar ya.. bunda mau jemput anak-anak dulu!" Raisya langsung membuka handle.


"Ikut bun.. !" Michel pun ikut membuka handle pintu yang satunya lagi. Raisya hanya menoleh, tidak melarang apapun yang ingin dilakukan Michel.


"Ya udah sini!" Raisya menggenggam tangan Michel mengajaknya masuk ke halaman sekolah taman kanak-kanak dan paud.


Michel sangat bahagia diperlakukan Raisya seperti itu. Dia mengayun-ngayunkan tangannya.


"Dimana bun kelasnya?" Michel mengedarkan matanya melihat kelas-kelas yang berderet dengan cat yang lucu bertemakan gambar.


"Tuh sikembar sebelah sana. Kalau Arsel dibelakang." Jawab Raisya dengan antusias.


"Oh.. " Michel hanya mengangguk oh.

__ADS_1


"Bunda... " Suara cempreng si kembar terdengar nyaring begitu orang yang menjemputnya sudah nampak. Mereka menghamburkan diri dan memeluk Raisya dengan semangat.


Raisya membentangkan tangannya. Tapi Michel malah mendahuluinya memeluk Raisya. Dia ingin bercanda dengan si kembar yang langkah kakinya sedikit lagi sampai. Raisya kaget.


"Eh... ini bunda aku. Kamu tidak boleh!" Michel memeluk Raisya dan menghalangi si kembar memeluknya.


"Ih.. awas...! Si kembar langsung menarik-narik badan Michel yang masih menempel. Michel menggoda mereka, dia senyum-senyum menempel ke badan Raisya.


Sikembar saling pandang setelah tidak berhasil menyingkirkan badan Michel yang tingginya hampir memyamai Raisya. Lalu keduanya pergi berlari setelah mendapatkan ide.


"Eh.. kemana tuh anak?" Michel melepaskan pelukannya dari Raisya.


"Kamu seneng ya menggoda mereka?" Raisya melihat pada Michel.


"He he.. abis mereka lucu banget bun.. " Michel malah tersenyum tidak mencurigai dari misi si kembar berikutnya.


Tidak lama kemudian tiga anak berlari mendekati Raisya. Setelah sikembar memprovokasi Arsel.


Michel langsung memeluk lagi Raisya kembali menggoda tiga anak yang sedang mendekat agar mereka tidak bisa memeluk Raisya.


"Wawwwww...." Suara petirnya keluar begitu ibunya seolah ada yang merebut.


"Bunda.. " Michel menatap wajah Raisya memohon pertolongan.


"Kamu.. jangan menggoda mereka. Bisa-bisa telinga kita pecah!" Raisya meeringis mendengar jeritan Arsel.


"Ih.. anak bunda kaya petir gitu!" Michel bergerak ke pinggir mengalah setelah Arsel berteriak keras.


"Iya... anak petir sama-sama anak bunda." Raisya tersenyum mengingat bahwa Michel waktu kecil sama persis kaya Aesek. Raisya mengelus kepala Michel lalu menggendong Arsel.


"Cana..! Ini mama aku." Arsel langsung menyingkirkan tangan Michel agar menjauh dari Raisya.


Michel malah sengaja memeluk gemas Raisya menggoda Arsel.


"Udah.. jangan kaya gitu! Ayo salim dulu sama ka Michel." Raisya berusaha mendamaikan semuanya dan menyuruh Arsel menghormati Michel.

__ADS_1


Dengan malu-malu Arsel menyalami Michel.


"Ayo adik Rara dan Riri salim dulu sama kakak Michel!" Si kembar saling melirik lalu menyalami Michel menuruti Raisya.


"Ih kamu lucu.. " Michel memeluk si kembar karena gemas. Si kembar pun tidak menolak perlakuan hangat Michel.


"Ayo kita pulang!" Raisya mengajak semuanya untuk pergi dari sekolah. Michel dengan senang hati menuntun si kembar dan sesekali tersenyum ke arah mereka.


"Wah.. lihat!" Irwan menunjuk ke arah Raisya dan Michel yang sedang berjalan mendekati mobil.


Ratna mengikuti arah telunjuk suaminya. Mereka tersenyum bahagia melihat keakraban semuanya.


"Ayo masuk!" Si kembar duduk dengan Arsel di belakang sementara Raisya dan Michel duduk di bagian tengah.


"Wah.. asiknya anak papa jadi nambah satu." Irwan menoleh ke belakang melihat kondisi penumpang yang berada di belakangnya.


Disambut si kembar Rara dan Riri juga Arsel yang kompak menyuarakan "Papa.. "


Ratna dan Raisya ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan keakraban mereka.


Tanpa mereka sadari dari awal sampai mereka naik sudah menyita satu pasang mata yang ada di belakang mobil mereka. Ya Nathan merasakan huporia kebahagiaan melihat Michel juga semuanya yang nampak bahagia. Meski hatinya sakit karena harus berpisah, tetapi dia berharap satu waktu mereka akan datang ke pelukannya dan menjadi miliknya.


"Nah buat merayakan anak papa yang baru datang, mau tidak kalian diajak papa untuk makan-makan?" Irwan memberitahukan mereka untuk acara makan-makan.


"Mau... mau pa" Mereka kompak menyuarakan.


"Oke.Ayoo.. kita let's go... " Irwan bersemangat melajukan mobilnya membawa mereka ke satu restoran yang biasa disukai anak-anak. Karena di sana bukan hanya ada menu makanan, tapi ada juga arena permainan.


Nathan mengikuti mobil Irwan dari belakang seperti penguntit. Dia tak ingin ketinggalan apa yabg mereka lakukan. Ya sekarang sebenarnya dia merasa lelah karena harus berbicara dengan pikirannya sendiri. Antara kesepian dan rasa rindu yang menggunung ketika melihat aktivitas dua keluarga yang ada di depannya. Ingin sekali Nathan berlari ke arah mereka dan bergabung menikmati kebahagiaan mereka. Tapi.. Lagi-lagi dia harus menahan dan memberikan ruang bagi Michel juga keluarga Irwan untuk menikmati kebebasan tanpa dirinya.


"Papa pesan dulu ya! Kalian boleh main sama kakak Michel!" Irwan berjalan ke arah pelayan untuk memboking meja dan menu.


"Asikk..." Ketiga bocah cilik itu langsung menarik tangan Michel dan menuntun ke arena permainan. Ini adalah pengalaman baru yang menyenangkan bagi Michel. Dikelilingi banyak orang yang menyayanginya dan disambut hangat. Michel langsung menikmati permainan seperti layaknya ketiga bocah itu. Gelak tawa dan teriakan terdengar dari tempat duduk yang sudah dipesan.


"Wan.. biar aku yang bayar semuanya!" Tiba-tiba suara di sampingnya itu mengagetkan Irwan.

__ADS_1


"Eh.. pak." Nathan menoleh.


"Kalian pesan saja! Nanti aku yang bayar semuanya." Ucap Nathan meyakinkan Irwan.


__ADS_2