
"Betul. Dimana pak Dedi menemukannya?" Pak rt yang sudah mendapatkan informasi tidak mau menerima asal laporan.
"Tadi pak Ahmad hendak membeli obat luka pak. Katanya untuk Michel. Bapak tahu sendiri mereka cuman tinggal berdua." Pak Dedi menyampaikan apa yang dia tahu.
"Pak Dedi sudah ke sana?" Tanya pak rt.
"Belum pak. Mungkin pak rt mau ke sana sekarang? Biar kita lihat langsung apa benar orang yang dicari itu ada di rumah pak Ahmad."
"Baik. Kita pergi ke sana sekarang." Keduanya pun berjalan beriringan menuju rumah pak Ahmad.
"Assalamu'alaikum." Pak rt memberi salam. Kebetulan bu Suri dan Michel masih di luar menunggu pak Ahmad membawa obat untuk Michel.
"Waalaikumsalam." Jawab bu Nuri tidak menaruh curiga apapun.
"Pak Ahmadnya ada bu?" Pak rt menanyakan keberadaan pak Ahmad, tapi arah matanya melihat Michel.
"Oh.. sedang ke warung pak rt." Jawab bu Nuri.
"Maaf bu.. lagi ada tamu?" Tanya pak rt penuh selidik.
"Mmm.. iya." Jawab bu Nuri pelan. Dalam hatinya dia mulai cemas.
"Siapa bu? Kok belum ada laporan?" Pak rt agak mengerungkan matanya.
"Mmm.. " Bu Nuri bingung untuk menjawab. Dia tahu pasti kedatangan pak rt untuk menanyakan perihal Michel.
"Itu... ponakan saya pak. Kemarin ibunya menitipkan dulu disini." Jawab bu Nuri bohong.
Pak rt mengerutkan dahi.
"Memang saudara pak Ahmad ada yang bule gitu?
"Oh.. baiklah. Saya permisi dulu ya bu Nuri." Pak rt sengaja tidak terlalu menekan bu Nuri, takutnya malah nanti mereka menyembunyikan Michel.
"Pak.. kenapa bapak langsung pulang?" Pak Dedi menatap heran.
__ADS_1
"Kalau ditekan sekarang, takutnya pak Ahmad nanti malah menyembunyikan anak itu. Kita akan laporkan ke keluarganya dulu. Nanti kita akan datang diam-diam ke sana. Kalau tidak seperti itu nanti malah pak Ahmad sama bu Nuri melawan. Kamu tahu sendiri mereka sangat merindukan seorang anak. Anak-anak yang sering main ke sana kadang tidak diperbolehkan untuk pulang." Ujar pak rt.
"Oh iya ya." Pak Dedi mengangguk kepalanya.
####
"Apa? Michel ada di sana pak?" Irwan terkejut mendengar telepon dari pak rt yang tadi malam didatanginya.
"Iya. Bapak buruan kesini! Kita akan datang secara baik-baik. Takutnya pak Ahmad dan bu Nuri akan menahan Michel pak." Ujar pak rt.
"Baik.. saya akan ke sana sekarang juga." Irwan merasa senang bahwa Michel telah ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.
Rumah pak Ahmad memang tidak jauh dari area pekuburan, tetapi memang agak sedikit jauh dari tetangga yang lainnya. Rumahnya agak terpencil dari pemukiman.
"Kenapa yang?" Ratna yang mendengar percakapan suaminya agak penasaran dengan obrolannya.
"Alhamdulillah.. Michel ditemukan." Wajah Irwan terlihat berbinar. Begitupun dengan Ratna dia langsung menangkup dadanya ikut bahagia.
"Aku kasih tahu Raisya dulu ya." Ratna langsung pergi meninggalkan suaminya yang masih duduk di ruang keluarga setelah tadi mengantarkan ke sekolah si kembar juga Arsel.
"Ada apa?" Raisya muncul dari balik pintu kamarnya hendak turun ke toko.
"Sya... Michel ketemu Sya.. " Ratna saking bahagianya dia me goyang-goyangkan bahunya.
"Oh ya dimana?" Raisya kaget mendengar berita ditemukannya Michel.
"Sesuai insting lu Sya. Ada penduduk yang merawat Michel di area pekuburan. Sekarang Irwan mau ke sana." Ratna tak sabar ingin segera melihat keadaannya. Meski dia bukan anaknya tapi dia merasa ikut cemas dan bahagia mendengar kabar itu.
"Aku ikut Rat.. Michel harus ikut denganku. Aku takut si psikopat itu malah menyiksanya lagi." Dia menatap Ratna dengan permohonan.
"Ayo.. kita berangkat! Keburu nanti anak-anak pulang." Ratna langsung menggandeng Raisya." Sungguh dada Ratna dan Raisya berdebar-debar.
"Yang... " Ratna membawa Raisya ke ruang keluarga memanggil suaminya.
"Kalian sudah siap?" Irwan menoleh pada keduanya.
__ADS_1
"Iya." Jawab Ratna dan Raisya.
"Kalian harus tenang ya. Jangan membuat keributan, nanti Michel syok. Kata pak rt orang yang merawat Michel tidak mempunyai anak, tadi juga mereka mengaku bahwa Michel keponakannya. Takut mereka akan menahan Michel." Irwan wanti-wanti pada Ratna juga Raisya.
"Wan.. Apa Michel baik-baik saja?" Kecemasan Raisya tentang Michel nampaknya belum juga habis. Rasa itu, sakit itu, masih terasa jelas di hati dan pikirannya. Dia tak ingin anak itu mengalami hal yang sama seperti yang dialaminya.
"Tenang Sya! Michel InsyaAllah baik-baik saja. Kita berdoa mudah-mudahan ada hikmah dibalik kejadian ini." Irwan memberikan motivasi agar Raisya tidak syok.
"Iya Sya, Tenang kita akan bantu kamu Sya! Mudah-mudahan Michel baik-baik saja." Ratna merangkul Raisya.
"Hayuu.. " Irwan sudah siap di kemudi akan melihat Michel.
"Ayo Sya!" Ratna menggandeng Raisya. Antara senang dan cemas, Raisya mengikuti Ratna masuk ke dalam mobil. Sepanjang jalan hati Raisya terus saja berdebar-debar. Ratna menggenggam tangan Raisya untuk menguatkan temannya mengahadapi ujian.
"Aku tidak menyangka anak itu benar-benar menyayangimu Sya! Aku tidak bisa membayangkan jika Michel tahu kalau sebenarnya kuburan itu palsu dan orang yang disangka mati itu masih hidup." Ratna mengehela nafas. Tak habis pikir dengan perjalanan hidup Raisya yang banyak di uji. Dia salut dengan kekuatan hati Raisya selama ini. Hakekatnya memang Allah Subhanawata'ala akan menguji seseorang sesuai kemampuannya.
Tak lama kemudian mobil yang dikemudikan Irwan telah sampai di tempat yang dituju. Terlihat ada beberapa mobil sudah terparkir di tempat area pekuburan termasuk mobil Nathan yang sudah lebih dulu sampai.
"Sebelah mana beb rumahnya?" Ratna belum melihat rumah penduduk di sekitar area pekuburan.
"Setahu aku sih kita jalan ke belakang. Di sana ada perkampungan." Irwan berjalan lebih dulu diikuti Ratna dan Raisya.
Setelah mengikuti jalan setapak terlihat dari kejauhan ada orang yang berkumpul di satu rumah yang jauh dari penduduk. Irwan, Ratna juga Raisya berjalan mendekati rumah itu. Samar-samar terdengar adu mulut.
"Tidak.. saya tidak akan menyerahkannya. Dia juga tidak mau ikut dengan kalian." Pak Ahmad dengan mata menyalang melindungi Michel dan bu Nuri di belakang punggungnya.
"Tenang pak Ahmad... bisa kita bicara baik-baik. Kami tidak akan memaksa Michel ikut dengan ayahnya. Yang penting Michel aman." Ucap pak rt pada pak Ahmad.
Mata Nathan sudah merah karena telah menitikan airmata saat dia bisa melihat Michel.
"Iya pak. Saya tidak akan memaksa Michel untuk pulang." Hati Nathan begitu sedih melihat anaknya seakan takut melihatnya.
"Michel sayang bunda... " Raisya langsung berlari ke arah Michel sambil berkaca-kaca.
"Bunda... "
__ADS_1
"Maafkan bunda Michel... bunda belum mati sayang... "