Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Haru biru


__ADS_3

Anwar melihat Raisya menggeleng-gelengkan kepala rupanya ketakutan melihat wajah Jacky. Dia tak boleh membiarkan Raisya syok, itu merupakan anjuran dokter yang menangani Raisya. Kondisi fisik dan mental Raisya masih lemah. Jadi membutuhkan waktu dan proses untuk penyembuhannya. Bisa jadi koma yang diderita Raisya pun akibat beban mental yang ditanggungnya cukup berat. Sehingga otak bagian bawah sadarnya menginginkan Raisya tertidur agar melindungi dirinya dari tekanan batin yang selama ini dialaminya.


"Maaf tuan Jacky.. mari kita bicara di luar!" Ajak Anwar pada Jacky. Meski dia tahu Jacky adalah suaminya, terlepas hubungan mereka apakah sudah resmi bercerai atau belum, Anwar hanya tahu bahwa Jacky adalah suami Raisya. Untuk masalah lebih dalamnya hanya mereka berdua yang tahu.


"Aku ingin melihat istriku!" Jacky menolak ajakan Anwar yang terkesan mengatur. Jacky yang selama ini menahan diri untuk tidak mengunjungi Raisya karena dilarang oleh Ratna juga Irwan hatinya sungguh tersiksa. Menahan sehari saja sudah amat sesak, apalagi sebulan.


Tak bisa dipungkiri hatinya selalu terpaut pada perempuan itu. Sejak dulu hatinya sangat mencintainya Raisya, cuman kelemahan Jacky yang gampang emosian, tidak bisa mengontrol emosinya membuat semuanya jadi berantakan. Hubungan keduanya jadi rumit dan sulit.


"Maaf tuan Jacky.. mbak Raisya baru saja sadar. Tadi dokter menyarankan pasien harus tenang dulu, khawatir terkena syok. Mari kita bicara di luar!" Anwar memperhalus ajakannya agar Jacky mau mengikuti aturan yang diberikan dokter. Dia tak ingin membuat keributan yang nanti bisa membuat kesehatan Raisya malah menurun lagi. Apalagi Raisya baru saja sadar dari komanya.


Jacky memutar tumit mengikuti saran Anwar. Langkahnya diikuti oleh Anwar, meski pandangan Jacky tidak terlepas ingin melihat Raisya dengan melihat ke belakang karena penasaran.


"Mari kita duduk!" Anwar dengan nada lembut berusaha membujuk Jacky agar tenang.


"Saya harap tuan Jacky bisa bersabar! Ini untuk kebaikan bersama, agar mbak Raisya cepat kembali pulih dan bisa menjalani hidupnya seperti biasanya. Kalau sudah sembuh tuan Jacky juga enak bicaranya. Kalau sekarang rentan sekali stress. Jadi diusahain bisa menahan dulu untuk tidak bertemu." Anwar panjang lebar memberi nasehat pada Jacky.


"Sampai kapan aku harus menunggu? Aku juga rindu padanya. Aku ingin menebus kesalahanku. Apa aku tidak diberi kesempatan untuk memperbaikinya?" Jacky dengan nafas tersenggal mengungkapkan apa yang selama ini ditahannya dalam batinnya.


"Sabar! Mbak Raisya butuh ketenangan dulu! Kalau sudah pulang dari rumah sakit, tuan Jacky bisa bertemu dengan mbak Raisya. Nanti saya akan bantu untuk memberi pengertian pada mbak Raisya agar bisa menerima tuan Jacky kembali." Ucap Anwar sambil menepuk bahu Jacky.


Dua pasang sepatu terdengar nyaring di telinga Anwar juga Jacky. Keduanya mendongak dan menoleh ke asal suara.


"Mbak Ratna?" Anwar berdiri dari duduknya begitupun Jacky.

__ADS_1


Ratna menatap Jacky dengan tatapan tidak suka. Sejak pertengkarannya waktu hubungan keduanya jadi merenggang. Tepatnya Ratna memberi batasan pada Jacky untuk bisa berkomunikasi. Karena Ratna merasa kesal juga marah pada sikap Jacky yang membuat Raisya menderita.


"Beb.. kamu masuk duluan! Biar aku menunggu di luar." Irwan tidak ingin Jacky dan Ratna bertengkar di rumah sakit. Melihat tatapan sinis istrinya pada Jacky, Irwan harus mengantisipasi sebelum terjadi adu mulut.


Ratna masuk ke dalam ruangan. Sedangkan para lelaki menunggu di luar ruangan sambil mengobrol mencairkan suasana tegang.


"Sya.. Ratna memeluk Raisya setelah menyimpan barang bawaannya di meja. Dia sangat bahagia melihat sahabatnya kembali sadar. Jantungnya dibuat deg-deg plus dengan komanya Raisya. Apalagi ini adalah pengalaman Raisya koma ke dua kali paska melahirkan.


Raisya tersenyum lemah membalas pelukan sang sahabat. Ratna malah menangis di bahu Raisya saking terharunya melihat sahabatnya kembali sadar. Satu bulan sudah rasa tegangnya terus hadir. Menantikan sang sahabat sadar dan bisa terbangun dari alam mimpinya yang menegangkan.


Ratna menguraikan pelukannya, menyeka sisa-sisa air matanya yang masih basah di pipi dan di pelupuk kedua matanya.


"Ih.. Jelek." Raisya tersenyum mengejek Ratna yang sudah menangis dengan mata sembabnya. Ratna pun tersenyum senang, melihat Raisya sudah bisa bercanda.


Aisyah yang ada di sana pun ikut senang melihat interaksi keduanya yang begitu akrab.


"Mmm.. kenapa tidak bawa ayam geprek sekalian Rat?" Raisya tersenyum kembali ingin menghibur hati Ratna yang mungkin dalam satu bulan ini sudah bersedih melihat dirinya yang koma.


"Nanti kalau kamu sudah sembuh aku borong sama pedagang nya. Biar kamu puas makannya." Jawab Ratna sambil membawa termos berisi bubur panas untuk Raisya.


"Saya bantu mbak Ratna?" Aisya menawarkan diri untuk membantu menyuapi Raisya.


Ratna menoleh sambil tersenyum. "Gak usah! Kamu sebaiknya istirahat! Biar malam ini mbak yang mengurus Raisya. Kasihan kamu capek dari tadi pagi sudah menunggu di sini." Ratna mengusap punggung Aisyah terharu dengan kebaikan pasangan suami istri ini yang baik sekali.

__ADS_1


"Baik mbak." Aisyah mengangguk patuh. Dia menghormati Ratna yang ingin memberikan kebaikannya pada sang sahabat yang selama ini sama-sama mencemaskan keadaan Raisya.


"Kamu sudah makan? Mbak membawa makanan juga buat kamu sama suami kamu. Kalau mau pulang makan dulu!" Ratna yang membawa bekal cukup banyak sengaja menyiapkan agar Aisyah yang sedang berjaga tidak mengabaikan kesehatannya.


"Baik mbak. Sepertinya saya akan bawa pulang saja. Mbak Raisya.. tidak apa-apa saya tinggal dulu?" Aisyah menoleh ke arah Raisya.


Raisya tersenyum sambil memegang tangan Aisyah. "Tidak apa-apa. Terimakasih ya Aisyah sudah menemani mbak di sini. Maaf banyak merepotkan kamu sama Anwar." Ucap Raisya lirih.


"Gak pa-pa mbak. Saya ikut bahagia melihat mbak sadar. Semoga mbak sehat kembali seperti sediakala. Kalau begitu saya pulang dulu ya mbak Raisya, mbak Ratna." Aisyah bersalaman untuk berpamitan pulang.


"Iya hati-hati ya sayang.. Ini makanannya! Jangan lupa istirahat, biar kamu sehat juga!" Ratna menyodorkan paper bag yang berisi makanan untuk Aisyah.


"Terima kasih mbak. Saya pamit pulang dulu ya. Assalamu'alaikum." Setelah menerima tas paper bag, Aisyah pun membalikkan badan melangkah keluar ruangan hendak meninggalkan rumah sakit.


"Mas.. " Aisyah memanggil suaminya, Anwar pun berdiri dan menghampiri istrinya.


"Ya?" Anwar menatap netra istrinya yang sedang menenteng paper bag yang berisi makanan pemberian Ratna.


"Kita pulang dulu saja! Mbak Ratna sama mas Irwan mau menginap di sini." Aisyah memberitahu Anwar.


"Oh.. iya. Baiklah kalau begitu." Anwar menyetujui.


"Tunggu mas pamit dulu sama mas Irwan juga tuan Jacky." Anwar kembali menghampiri dua laki-laki yang masih betah duduk di kursi di depan ruangan.

__ADS_1


"Mas Irwan, tuan Jacky. Saya pamit pulang dulu. Kata istri saya mbak Ratna sama mas Irwan mau menginap di sini?" Ucap Anwar.


"Oh iya betul. Saya sama istri mau menginap di sini malam ini. Kalian pulanglah!Hati-hati dijalan ya!" Jawab Irwan sambil bersalaman pada Anwar.


__ADS_2