
Raisya mengerjakan pekerjaannya dengan sebelah tangan. Karena satu tangannya sedang dipakai untuk menahan kepala bocah bule itu.
"He he bibirnya mangap gitu!" Raisya tersenyum melihat bibir Michel terbuka sedang matanya sudah terpejam.
Raisya menggeser kursi kerjanya yang mempunyai roda agar menjauh dari meja.
"Mbak tolong pindahin! Michel sudah tidur." Raisya memanggil Ina.
"Biar gue pindahin Sya!" Tedi melangkah mendekati Raisya menolongnya memangku Michel yang sudah tertidur.
"Cocok ya kita jadi mami papi." Tedi nyengir.
"Iyalah kumaha ente sajo!" Raisya langsung menekan-nekan tangannya yang pegal.
Tedi memindahkan Michel ke ruangan Nathan dan membaringkannya perlahan.
"Terimakasih pak!" Ucap Ina pada Tedi.
"Sama-sama. Jangan biarin terlalu nempel sama Raisya mbak! Kasian dia jadi ketagihan." Tedi melihat wajah Michel dengan penuh rasa kasihan. Anak sekecil itu masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Tapi sekarang dia menempel pada siapa saja yang dianggapnya nyaman.
"Ted.. gue istirahat duluan! Laporannya sudah selesai. Nanti simpan di meja pak Nathan! Biar dia bisa membacanya kalau balik meeting." Raisya menyerahkan berkas yang sudah di klip ke Tedi.
"Elu mau kemana Sya? Ini masih satu jam lagi ke istirahat." Tedi melihat jam tangannya masih menunjukkan masih jam 11.
"Ada perlu darurat. Entar gue balik cepet kok! Kalau ada kerjaan buat gue, kumpulin aja dulu! Ntar gue kerjain kok. Yang penting selesai." Ucap Raisya membetulkan bajunya serta kerudungnya di kaca.
"Gue curiga elu ada kencan di makan siang." Tedi mengamati sikap Raisya yang kembali berdandan dan menyemprotkan parfum non alkoholnya di baju blazer yang sedang dipakainya.
"Iya lah... serah ente... " Raisya berlalu dan melangkah cepat keluar gedung perusahaan. Sebelumnya Raisya sudah memesan mobil online.
Mobil online sampai pada alamat yang dituju lalu Raisya turun setelah membayar sejumlah uang yang tertera di layar aplikasi.
Raisya menarik nafasnya lalu mengeluarkannya perlahan. Di depannya sudah bertengger bangunan 3 lantai dengan model bangunan unik sungguh menarik perhatian Raisya. Dia menatap lamat-lamat, berpikir sejenak lalu melangkahkan kaki memasuki bangunan itu.
"Bismillah." Kalimat itu diucapkannya begitu pintu terbuka otomatis.
"Selamat siang." Raisya menyapa isi ruangan yang terlihat nyentrik dan tertata apik.
"Siang." Seorang laki-laki muncul dari satu kamar, yang mirip ruang kerja dan langsung menatap Raisya.
"Maaf mas.. saya mau melamar kerja. Kemarin malam lamarannya sudah saya kirimkan." Jelas Raisya.
"Oh iya. Sebentar mbak!"
"Benyyy... ada yang ngelamar elu! Turun buruan!" laki-laki tadi berteriak memanggil temannya yang bernama Beny.
"Ayo duduk!" Laki-laki itu menyuruh Raisya duduk di sofa yang sudah tersedia. Mata Raisya mengamati seluruh ruangan ini, kagum.
"Heh cantik. Aku pengen suatu hari punya ruangan di desain kaya gini." Raisya bermonolog.
__ADS_1
Langkah kaki terdengar dari anak tangga dan semakin jelas begitu sampai di ruangan tamu.
"Selamat siang. Perkenalkan saya Raisya pak!" Raisya berdiri memberi hormat dan memperkenalkan dirinya pada laki-laki yang dipanggil Beny.
"Oh saya Beny owner disini." Suaranya terdengar berat dan penampilannya begitu maskulin.
"Sebentar saya baca dulu cv anda." Beny membuka i-padnya lalu membaca biodata Raisya dengan seksama.
"Kamu masih bekerja?" Tanyanya dengan tatapan mendominasi.
"Iya Pak! Saya bekerja di bagian keuangan dan baru satu hari ini dipindahkan ke bagian pemasaran di perusahaan salah satu branded terkemuka xxx. Nama perusahaannya Grand Corporation." Terang Raisya.
"Kenapa kamu melamar kembali ke perusahaan kecil?" Beny mencoba ingin tahu alasan Raisya melamar kerja paruh waktu.
"Saya ingin mencoba pengalaman baru." Jelas Raisya yang menyembunyikan niat sebenarnya.
"Kamu gak cape?" Beny ingin melihat sejauh mana keinginan dan kesungguhan Raisya.
"Kalau bekerja semuanya cape pak! Kalau kitanya senang bisa mengurangi kebosanan dalam bekerja dan tidak memudahkan badan untuk cape."
"Baik. Karena ini kerja paruh waktu. Aku ingin bertanya padamu, berapa uang gaji kamu di sana?"
"Sekitar 11 juta pak! Belum terhitung asuransi dan tunjangan kesehatan dan bonus lembur." Terang Raisya.
"Kalau kamu digaji disini sekitar 6jt tanpa asuransi dan lain-lainnya bagaimana?" Beny sedang bernegosiasi dengan Raisya.
"Baik. Kita akan coba. Kita lihat kerja kamu sejauh mana. Dan kamu bisa bekerja dari jam berapa?"
"Paling Saya dari jam 4 sore sampai jam 8 pak."
"Iya baik. Kalau kamu sanggup kerja team bersama kita. Saya Terima lamaran kamu. Tapi kalau kamu tidak sanggup, kamu boleh mengabari pengunduran diri kamu agara kami membuka lowongan untuk yang lain."
"Baik pak! Kalau begitu saya pamit dulu."
"Sebentar, ini tanda tangani dulu surat perjanjian kita!" Beny membawa secarik kertas untuk ditandatangani.
"Oh iya pak."
"Panggil abang Beny saja. Aku bukan bapak-bapak." Protesnya.
"Iya bang." Raisya langsung menandatangani surat itu.
"Kamu mau balik lagi ke kantor itu?"
"Iya bang."
"Ya udah gue anterin!"
"Baik bang."
__ADS_1
"Wah... beneran si abang langsung ke pelaminan." laki-laki tadi menggeleng-geleng kepala.
"Berisik lu!"
Beny pun melajukan mobilnya sampa sampai area parkir perusahaan Raisya tak sampai 15 menit.
"Terima kasih bang!" Raisya membuka safety belt nya hendak turun dari mobil Beny.
"Sama-sama."
Nathan yang baru saja selesai meeting dan kembali ke kantor melihat Raisya diantar seseorang, ada sesuatu yang mengusik hatinya. Matanya menyorot tajam mengikuti gerak-gerik Raisya.
Nathan segera turun dari mobilnya dan mengikuti langkah Raisya yang ada di depannya.
"Dasar murahan." Suara itu membuat Raisya menoleh ke belakang.
"Eh pak Nathan. Sudah selesai meeting nya pak?" Selayaknya bawahan pada atasan Raisya bicara sopan santun. Walaupun barusan Nathan sudah mengumpatnya, Raisya tidak menyadarinya bahwa umpatan itu ditujukan padanya.
"Kamu dari mana? Bukannya ini baru setengah jam dari jam istirahat? Apa kamu istirahat lebih dulu daripada yang lain?" Nathan menerka-nerka.
"Mmh.. " Raisya bingung menjawab
"Baru hari pertama saja sudah tidak bertanggungjawab!" Nathan mendengus kesal lalu berjalan mendahului Raisya.
"Ih.. dasar. Kudu kapanggih." Raisya merutuki dirinya.
Raisya menundukkan kepalanya karena malu ketahuan pergi.
Kring
Kring
Suara handphone Raisya berbunyi.
"Iya halo." Raisya memelankan suaranya.
"Kamu gak jadi makan? Gue tunggu kagak nongol." Ratna langsung bicara keras menahan kekesalannya.
"Elu makan aja duluan! Gue gak bisa makan bareng." Suara Raisya tambah kecil.
"Lu kaya maling aja bicara bisik-bisik. Ada beruang disitu?" Ratna menerka-nerka sikap Raisya.
"Hhmm."
"Wah.. gawat! Elu jangan lewat makan! Ntar gue kirim kesitu!"
"Hooh.. "
"Bisanya bergosip."
__ADS_1