
3 tahun kemudian.
"Daddy... coba lihat kerudungku! Sudah rapih belum?" Michel yang sekarang sudah berusia tujuh tahun tampil lebih cantik apalagi sekarang dia berhijab.
"Sini daddy lihat!" Michel pun mendekati ayahnya. Padahal dari tadi Michel sudah bercermin cukup lama hanya mengamati penampilannya.
Tapi entahlah hari ini hatinya seperti tidak percaya diri. Ibarat akan bertemu dengan orang spesial yang ingin penampilannya terlihat yang terbaik.
"Anak daddy.. tiada tara cantiknya. Kamu anggun nak!" Nathan menatap inten Michel yang terlihat cantik dan anggun.
"Masa dad?" Michel membulatkan matanya, ingin meyakinkan pujian ayahnya.
"Hhhmm. Sini daddy peluk sayang!" Nathan berkata lirih. Dia memeluk Michel penuh kasih sayang. Hatinya terharu sekaligus dipenuhi kesedihan. Mungkin di usia anak-anak lain mereka masih dalam telonan ayah ibunya, tapi berbeda dengan Michel. Dia dituntut lebih mandiri dari usianya.
Ya hidup sebagai single parent itu tidak mudah. Apalagi Nathan selama dua tahun harus mengalami perawatan dan terapi, membuat perhatian pada Michel pun berkurang banyak.
Tiga tahun bukan waktu sebentar buat dirinya untuk menyembuhkan luka juga melupakan kejadian-kejadian yang pernah menyelimuti trauma terberatnya.
Setelah tiga tahun kematian Raisya, baru tahun ini dirinya memberanikan diri untuk datang ke Indonesia. Setelah dia dinyatakan sembuh oleh dokter kejiwaan juga analisis emosi insitut. Yaitu satu perusahaan kesehatan yang menganalisa kelainan emosi manusia melalui mesin deteksi pengukur detak jantung yang dihubungkan dengan komputer. Penelitian ini dikhususkan bagi para pasien kelainan emosi agar mempermudah mengenali emosi dalam tubuhnya dan bisa mengelolanya dengan baik juga terarah.
Nathan beberapa kali menarik nafas dan mengeluarkannya dengan perlahan. Dia mengulanginya beberapa kali agar detak jantung dan emosinya lebih tenang.
Berat rasanya ingin melangkahkan kakinya ke negara ini. Dimana wanita itu kini terbaring tenang dalam pusara yang tidak sempat dia hadiri penguburannya. Wanita yang banyak berkorban untuk dirinya, tapi dia malah membunuhnya.
"Daddy siap?" Michel tersenyum melihat wajah ayahnya yang tampan namun di dalamnya menaruh banyak luka dan duka.
"Mmm." Nathan mengangguk lembut dan tersenyum sambil menatap putri kecilnya yang lebih mandiri sebelum waktunya.
Nathan dan Michel turun dari pesawat yang baru saja mendarat di lapangan bandara Soekarno-hatta Jakarta.
Mereka berjalan dengan menggeret dua tas travel dan dua tas punggung yang sudah menempel di masing-masing punggung mereka.
"Daddy.. aku.. ingin ke toilet dulu." Michel mendongak ke arah Nathan meminta izin ingin membuang air kecil, kebelet pipis.
__ADS_1
"Baik.. daddy tunggu disini ya! Kamu hati-hati!" Ucap Nathan sambil duduk di bangku besi yang sudah disediakan bandara yang posisinya lebih dekat ke toilet.
"Iya dad." Michel mempercepat langkahnya lalu berlari karena dirasa kantung kemihnya tak kuat menahan lagi air kencing yang sedari tadi sudah terkumpul.
Nathan mengamati lalu lalang manusia yang keluar masuk bandara. Inilah pemandangan yang ada di setiap bandara.
"Awas..! Brukk." Suara seseorang terdengar mengingatkan. Karena terburu-buru Michel menabrak seseorang yang ada di depannya tanpa sengaja. Spontan orang itu membantu Michel Michel untuk berdiri seperti semula.
"Are you oke?" Netra wanita cantik dengan rambut sepinggang model curly menatap wajah Michel, memastikan anak yang menabraknya baik-baik saja.
"I am oke, miss." Jawab Michel sambil berdiri membetulkan penampilannya.Tanpa mereka sadari netra nya saling beradu pandang dan saling menilai.
Michel merasakan sesuatu dengan mata wanita itu. Dia seperti mengenali seseorang. Meski wajahnya berbeda tapi mata itu tak mungkin berbeda.
Ah itu tak mungkin. Bukankah bunda sudah meninggal? Wajahnya pun tidak mirip dengan bunda. Mungkin karena aku merindukannya, aku melihat semua perempuan mirip dengan bunda.
Michel menggelengkan kepalanya, buru-buru menyadari bahwa seseorang itu sudah meninggal.
Wanita itu tersenyum. Bibirnya yang dipoles lipstik dengan merk branded sungguh menampilkan warna yang memukau dibandingkan dengan lipstik-lipstik biasa. Tentu itu menambah daya tarik siapapun yang melihatnya.
Penampilannya yang begitu fashionable, modis di kelasnya, dipastikan dia bukan orang sembarangan. Mulai dari atas sambal bawah semuanya bermerk terkenal yang hanya mampu dibeli oleh kalangan kaum atas.
Kulitnya nampak bersinar, apalagi rok yang dipakai hanya sepanjang diatas lutut dan baju atasan tanpa lengan dengan belahan dada lumayan cukup bawah, menampilkan sebagian sesuatu yang ada di balik dadanya. Kulitnya yang mulus hampir terekspos lima puluh persen ke muka publik, Tentu dia terampil melakukan perawatan diri.
"Good." Wanita itu mengacungkan dua jempolnya yang lentik dengan kuku jarinya yang sudah dicat kutek terlihat seksi dan sensual.
"Raisya!" Seorang pria yang cukup tampan memanggilnya dari pintu toilet. Karena dia cukup lama menunggunya, terpaksa dia menyusul ke area toilet.
"Raisya." Telinga Michel menajam dan dia berbalik ke belakang melihat keduanya.
Wanita itu lantas berjalan mendekati laki-laki yang memanggilnya dan tersenyum mengembang.
Keduanya berlalu meninggalkan Michel yang masih berdiri mematung melihat wanita itu dengan tatapan heran karena sebuah panggilan.
__ADS_1
Michel sejenak melupakan niatnya untuk buang air.
"Eh.. " Michel langsung sadar bahwa dia akan masuk ke toilet untuk membuang hajat. Anak itu langsung masuk dan meneruskan niatnya semula.
Michel lalu keluar dari toilet lalu menghampiri Nathan yang sedari tadi menunggunya.
"Kok lama?" Nathan menegur Michel.
"Penuh dad." Michel membuat alasan yang bisa diterima oleh ayahnya.
"Mmm. Yuk! Om Reza sudah menunggu di luar." Nathan berdiri lalu berjalan keluar bandara dimana Reza sudah menunggunya.
"Selamat datang pak Nathan!" Ucap Reza yang sudah siap melayani Nathan.
"Apa kabarnya Za?" Nathan berpelukan dengan Reza.
"Baik pak. Bapak kabarnya bagaimana? Sehat?" Reza berbalik bertanya.
"Baik Za." Jawab Nathan.
"Wah Michel udah besar lagi ya! Tidak terasa tiga tahun tidak bertemu udah tinggi lagi." Reza beralih melihat Michel yang berdiri di samping Nathan. Dia mengomentari Michel yang tinggi badannya di atas rata-rata anak Indonesia pada usianya.
"Apa kabar om Reza?" Michel bersalaman.
"Baik Michel. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?"
"Baik om." Jawab Michel sambil tersenyum.
"Mari pak Nathan, saya antarkan!" Reza mengitari mobil membukakan pintu mobil untuk Nathan dan Michel.
Nathan bukannya masuk malah berdiri di samping pintu.
"Kak Sarah.. Bukankah itu Sarah Reza?" Nathan tak segera masuk malah berdiri mengekori sosok yang dikenalinya sedang berjalan masuk ke bandara.
__ADS_1
Reza dan Michel malah mengikuti arah pandang Nathan yang sedang memperhatikan wanita yang bernama Sarah mantan istrinya Adam. Sekarang penampilannya sudah berubah, berhijab.
"Daddy kenal dengan wanita yang satunya lagi?"