
"Hei.. ngapain kamu masuk lagi?" Raisya spontan kaget melihat Nathan sedangkan tubuhnya hanya memakai under ware saja.
Kedua tangannya bersilang menutupi bagian dadanya. Raisya bingung dan otaknya seperti buntu ketika tiba-tiba Nathan masuk kembali ke dalam kamar.
Nathan yang berdiri mematung di dekat pintu terkesima dengan pemandangan indah nan mempesona membuat dia menelan beberapa kali air liur nya.
Sepasang netranya sedang dihadiahi tubuh indah nan mulus, yang sudah lama tak bisa dia pandang.
Entah bisikan apa yang membuat Nathan lupa. Awalnya Nathan kembali ke kamar itu karena lupa membawa koper yang berisi baju gantinya. Tapi begitu melihat pemandangan indah yang membuat hasratnya naik ke ubun-ubun otaknya seperti kosong tak berpenghuni. Yang ditujunya hanya Raisya.
Perlahan kakinya melangkah seakan dituntun nafsu yang menggebu. Nafasnya kian memburu dan dadanya kembang kempis seperti terpompa aliran darah panas.
"Jangan mendekat! Aku ingatkan kalau di antara kita tidak akan ada kontak pisik." Raisya menginginkan Nathan akan perjanjian itu.
Ah sial.. kenapa aku harus membuat perjanjian itu kalau akan menderita seperti ini. Persetan dengan semua kertas-kertas itu. Aku tak bisa menahan hasratku.
Grepp
Nathan langsung menarik pinggang Raisya dan mengapit keras dengan sebelah tangannya menempelkan tubuhnya. Lalu dia dengan rakus *** bibir Raisya seperti yang kelaparan.
Raisya yang mendapat serangan itu mendadak kelabakan dan tak bisa bernafas. Kedua tangannya berusaha mendorong Nathan, tapi dia kalah kuat dengan tenaga Nathan.
Ternyata Nathan lupa dimana laut dan dimana daratan dia terus memburu Raisya menari tangannya lalu langkah Raisya terdorong ke atas ranjang yang sudah bertaburan bunga.
Bukkk
Raisya terjengkang tepat di atas ranjang itu tertindih Nathan. Kakinya yang berusaha menendangnya pun sudah diantisipasi Nathan dengan langsung diapait kedua kakinya. Nathan memang laki-laki yang mempunyai libido tinggi tak bisa mengendalikan nafsunya jika sudah terpancing.
"Raisya.. "
Brakkk
Suara keras terdengar memangil Raisya disusul dengan kerasnya pintu hotel menabrak dinding tembok kamar.
__ADS_1
Suara yang tak asing itu langsung mengagetkan Nathan yang sedang melakukan aksinya. Rupanya Nathan tadi lupa tidak menutup rapat pintu hotel setelah membukanya dengan kartu akses yang dipegangnya. Sungguh kecerobohan yang tak bisa ditolerir sehingga memudahkan Jacky memasuki kamarnya.
Nathan secepat kilat menarik selimut dan menutupi Raisya.
"Masuk cepat ke kamar mandi!" Perintah itu membuat Raisya terhenyak dan tanpa menunggu lama Raisya langsung berlari mengamankan dirinya dengan baju beralaskan selimut.
Raisya masu ke kamar mandi dan langsung mengunci pintunya. Nafasnya terengah-engah dan jantungnya kian berlompatan setelah melihat kejadian yang tak bisa diduganya.
Masih dalam mode kaget, Raisya menempelkan telinganya di pintu kamar mandi guna mendengarkan apa yang akan terjadi selanjutnya antara Nathan dan Jacky yang telah menerobos masuk ke dalam kamar pengantinnya.
Sungguh malam pengantin yang paling aneh.
"Apa yang kamu lakukan disini Jacky?" Nathan langsung siaga.
"Apa yang aku lakukan? hah? Dasar bajingan! Raisya itu dari dulu milikku! Kau selalu saja merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Apa kamu tidak ingat ketika kamu menyiksanya sampai dia harus masuk rumah sakit dan... yang terakhir kali... kamu sudah membunuh Raisya sampai dia jatuh dari tangga rumahmu. Pembunuh tetaplah pembunuh" Jacky menarik kerah Nathan dan wajahnya yang dipenuhi kemarahan mendekati wajah Nathan dengan mengirimkan wajah peperangan.
"Apa?" Raisya kaget bukan kepalang mendengar perkataan Jacky pada Nathan.
Apa benar Nathan pernah menyiksaku? Dan dia pula mendorong aku jatuh dari tangga? Oh my God.. apa ini? Aku baru percaya apa yang Sarah katakan kalau seandainya ini adalah benar.
Bukk.. Bukk.. Bukk
Keduanya saling baku hantam tak henti-hentinya saling membalas pukulan.
Raisya yang sedang di dalam. kamar mandi menjadi khawatir dengan dua orang yang sedang ijol beradu otot dan kekuatan entah sampai kapan.
Tak habis pikir jantungnya kembali berolahraga dan bertubi-tubi Raisya merasa kaget juga ketakutan.
Benar kata Sarah. Kenapa dia harus segera menikah. Sudah menikah saja masih diburu Jacky, apalagi belum. Raisya sedang memutar otak untuk menghentikan perkelahian kedua laki-laki itu. Dia khawatir keduanya kalap dan berakhir pada kematian.
Ya ampun masa gue harus jadi janda di malam pengantin?
Raisya tak bisa berdiam diri mendengar perkelahian adik kakak itu.
__ADS_1
Raisya yang hanya menggunakan selimut untuk menutupi badannya tak bisa keluar dari kamar mandi.
Dor
Dor
"Hei... kalian mau sampai kapan berkelahi? Sampai maut memisahkan?"
"Baik.. daripada kalian yang mati. Mending aku saja yang mati! Daripada kalian mati memperebutkan aku!" Teriak Raisya dari dalam kamar mandi.
Kedua orang yang sedang berkelahi itu sejenak menghentikan perkelahiannya dan keduanya terhenyak mendengar ancaman Raisya.
"Ra... " Jacky langsung menghamburkan diri menuju pintu kamar mandi tidak mempedulikan lagi Nathan.
"Ra... please jangan bunuh diri! Buka pintunya Ra..." Jacky tidak sanggup untuk kehilangan lagi Raisya. Tiga tahun cukup sudah membuat dirinya terpuruk karena merasa bersalahnya pada Raisya. Kini dia tak ingin Raisya yang baru saja ditemukannya malah mati sia-sia gara-gara mereka berkelahi.
Hik Hik Hik..
Raisya menangis di dalam kamar mandi. Menangisi nasibnya yang kini menjadi rebutan. Mungkinkah perkataan Jacky adalah benar? Lalu sampai kapan dia jadi bahan mainan kedua laki-laki itu sampai nasibnya benar terombang ambing dalam ketakutan.
"Ra.. buka dulu pintunya.. please! " Jacky berteriak memohon.
"Jangan buka pintu itu! Apapun yang terjadi!" Nathan malah berteriak sebaliknya. Nathan malah lebih khawatir jika Raisya membuka pintu itu Jacky akan kalap. Tapi Nathan tidak berpikir sedikitpun kalau Raisya berani melakukan ancamannya.
"Gila lu Nat.. elu mau si Raisya bunuh diri di dalam? Dasarnya brengsek tetap saja brengsek!" Jacky memaki Nathan yang tidak peka akan kondisi Raisya di dalam. Bagaimana kalau benar Raisya menghabisi nyawanya di dalam kamar itu.
"Aku akan mati saja. Mungkin kalian akan berhenti berkelahi jika aku mati." Entah bisikan apa yang memasuki pikiran Raisya sampai ancaman yang semula gertakan, kini malah tekadnya bulat mengakhiri diri tak sanggup menghadapi kondisi yang terjadi. Raisya mengedarkan pandangan. Di sana ada pisau cukur yang disediakan hotel. Kondisinya yang masih baru pastinya tajam. Setelah menemukan ide gila, Raisya segera mengiris nadinya dan tak lama kemudian pingsan.
Hening tak ada tangisan dan suara lagi. Jacky mencurigai sesuatu terjadi.
Dia langsung mundur dan mengambil ancang-ancang untuk menendang pintu.
Brakkk
__ADS_1
Pintu terbuka dan darah sudah mengalir di bawah wastapel.