Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
prihatin


__ADS_3

"Maaf pak. Saat ini saya hanya membahas pekerjaan. Di luar itu saya tidak ada kepentingan." Untung saja pintu segera terbuka. Raisya tanpa pamit pada Adam langsung ke luar tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Bos yang aneh. Sudah punya istri masih juga nyari yang lain. Apa tampang tampan membuat Anda lupa diri? Hah.. sungguh merusak image. Tadinya aku ingin menghormatinya. Tapi melihat dia seperti itu jadi kurang respect." Raisya bicara sendiri sambil mempercepat langkahnya menuju kost an. Dia lupa pemberian Adam pun tidak luput sebagai pendekatan dirinya pada Raisya.


Kondisi kostan yang sekarang memang fasilitasnya jauh dari yang dihuni kemarin. Selain murah, luasnya hanya sekedar bisa menyimpan kasur dan lemari. Di kamar ini tak disediakan selembar tikar pun. Hanya ruangan kosong dan wc yang begitu sempit.


Ya lumayan.Yang penting masih ada wc di dalam ruangan. Toh selama ini Raisya hanya menumpang tidur saja. Sekarang Raisya tidur hanya beralaskan kasur lantai dan sepasang bantal guling yang bisa dipakai untuk membaringkan tubuhnya. Baju-bajunya yang biasa digantung di lemari kini hanya disimpan di sebuah kotak plastik. Tidak banyak yang Raisya miliki. Hanya 3 buah kabinet plastik yang menampung barang-barangnya. Untuk menyimpan baju-baju. Sebagian dokumen dan buku. Juga alat makan dan minum yang diperlukan. Selain itu tak ada apapun yang dimilikinya.


Berbeda dengan tempat kostnya dahulu. Raisya tinggal isi saja. Karena beberapa fasilitas seperti AC, kulkas, dispenser, juga dapur yang sudah diisi barang-barang seperti magicom, microwave, piring gelas dan alat-alat dapur lainnya seperti ketel panci sudah tertata lengkap.


Lain dulu lain sekarang. Toh dari dulu Raisya bukan penikmat fasilitas mewah. Rumahnya yang sempit dan berdesak-desakan dengan penghuni lainnya sudah ia rasakan sejak kecil.


"Setelah melakukan shalat isya dan tadarus. Raisya membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya.


Suara panggilan terdengar dari handphone.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


"Sya... he he."


"Apa? Ujug-ujug he he." Raisya yang sedang menatap layar laptop nya masih bisa mendengar Ratna dengan baik.


"Sya.. serlock donk alamat kostan elu!" Ratna agak malu mengatakan bahwa dia akan mampir ke kostan Raisya.


"Enggak.. engak.. elu mulai sekarang gak boleh mampir ke kostan gue. Disini gak muat banyak orang." Tolak Raisya yang tak ingin Ratna tahu kondisinya.


"Please... Kalau enggak gue masa tidur di kantor Sya?"


"Eh eh... elu dimana sekarang? Raisya terhenyak mendengar Ratna akan tidur di kantor. Dan langsung fokus sama pembicaraan Ratna. Khawatir memang benar anak itu ada di kantor. Karena terakhir menelpon Ratna ada acara makan-makan untuk perpisahan.

__ADS_1


"Hhmmm. Disini Sya! Buruan gue takut sendirian udah malam." Ratna celingak celinguk sendirian di depan kantor yang sudah sepi.


"Astaghfirullah.. beneran elu disitu?" Kaget Raisya sambil benar-benar memastikan keadaan Ratna.


"Mmmhh." Ratna mengangguk seolah Raisya ada di depannya.


"Ya udah tungguin di depan post satpam. Elu jangan nunggu dimana aja. Bikin gue khawatir aja! Bukannya balik ke rumah malah ke kantor." Raisya buru-buru menyambar jaket juga senter untuk jaga-jaga. Karena ini sudah hampir jam 9 malam.


"Jangan elu matiin itu hp!" Perintah Raisya yang sunguh khawatir.


"Iya!" Ratna mengangguk menurut seolah Raisya ada di hadapannya.


Raisya langsung mengunci pintu kostan dan jalan setengah berlari tanpa mematikan handphone. Dia benar mengkhawatirkan Ratna.


Dengan nafas masih terengah-engah Raisya melihat post satpam yang berada tak jauh dari gerbang gedung. Dia langsung menghampiri post.


"Ratna!' Raisya memanggil Ratna dengan menaikan intonasi suaranya.


Ratna sedang duduk di post satpam sambil menyenderkan badannya ke tembok dan menselonjorkan kakinya yang terlihat sangat lelah.


"Ganti sepatu kamu! Pinjam sama pak satpam. Kita akan jalan kaki. Kaki kamu pasti akan lecet." Mata Raisya mengamati kaki Ratna yang sedang diselonjorkan. Kemungkinan dia kelelahan setelah aktivitas seharian.


"Iya. Pak... boleh pinjam sandal capit? Saya ganti pake uang 20 ribu mau?" Ratna menyodorkan satu lembar uang 20 ribu pada satpam yang sedang berjaga.


"Ada mbak. Sebentar saya ambilkan! Satpam membuka lemari loker dan menyodorkan sepasang sandal capit pada Ratna.


"Gak usah diganti mbak! Pakai saja!" Satpam tadi menolak pemberian Ratna.


"Baiklah.Terima kasih ya pak!" Ratna membuka sepatunya lalu memakai sandal capit itu dengan nyaman.


"Hayuu buruan sudah malam nih!" Ajak Raisya pada Ratna.

__ADS_1


Ratna berdiri langsung menggandeng tangan Raisya. Dan berjalan beriringan mengikuti langkah Raisya.


"Kenapa sih lu gak pulang ke rumah? Atau suruh jemput kak Hendrik saja!" Dengan sedikit manyun Raisya bicara pada Ratna mengenai kepulangan Ratna yang tidak masuk akal.


"Tadi sudah telepon kak Hendrik karena acaranya baru beres barusan. Kak Hendrik gak bisa jemput katanya masih ada acara. Tahu kak Hendrik cuti aja ada acara apaan sih?" Ratna mempunyai alasan untuk mengetahui dimana alamat kostan baru Raisya. Kalau sengaja ingin tahu pasti Raisya tidak akan mengizinkan seperti tadi.


"Kamu bisa pesan mobil online kan? Kenapa gak balik ke rumah sih?"


"Aku takut. Jadi tadi aku nunggu saja di depan kantor. Katanya bkan kostan kamu deket bisa jalan kaki. Jadi aku lebih baik mampir ke kostan kamu aja. He he.. " Tangan Raisya ditarik lalu dipeluknya erat.


"Lah nyusahin aja. Gue jadi deg-deg an denger kamu ada di kantor. Gue kira bercanda." Keluh Raisya bersungut-sungut.


"Lah Sya?" Mata Ratna mengedar mengamati sekeliling kostan Raisya.


"Sudah gue bilang jangan kesini! Elu pasti syok!" Raisya mengerucutkan bibirnya.


"Eh engak.. engak." Ratna buru-buru menarik netranya agar Raisya tidak tersinggung.


Raisya membuka pintu.


"Masuk!" Raisya menyuruh masuk Ratna. Ratna melongo melihat isi kamar Raisya yang begitu sempit dan sepasang matanya fokus menatap kasur lantai yang teronggok di lantai.


"Mau pulang balik?" Raisya melihat raut wajah Ratna yang nampak syok.


"Eh enggak. Gue mau duduk." Ratna langsung duduk di kasur lantai dan menyenderkan badannya ke tembok sambil menselonjorkan kakinya.


"Elu gak main ke air dulu ganti baju?" Raisya mengambil piyama agar Raisya mengganti pakaiannya.


"Eh iya." Ratna berdiri dan mengambil piyama juga handuk untuk sekedar mencuci wajahnya.


Ratna masuk ke dalam toilet yang ada kamar Raisya.

__ADS_1


"Ya ampun ini masih mending bagusan toilet kantor daripada toilet ini. Tapi gue gak boleh protes. Takut Raisya tersinggung." Ratna bermonolog.


Selesai mengganti pakaiannya Ratna keluar lalu duduk kembali di kasur.


__ADS_2