Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
angin ribut?


__ADS_3

"Ihh.. sudahlah! Elu mendingan pulang! Gue mau pulang pake travel titik, gak pake koma gak pake nanya. Aku lagi pengen bebas dari kalian semua. Pengen healing." Raisya langsung mempercepat langkahnya menuju kostan sambil menggandeng tangan Ratna. Yang digandeng agak terseret langkahnya karena Ratna memakai sepatu hak tinggi.


"Bay.. Bay.. " Ratna cengengehan sambil menengok ke belakang ke arah Jacky yang masih berdiri mematung.


"Ih dasar gak peka! Tahu rasa kalau dicuekin gebetan!" Jacky menggerutu sambil berbalik arah kembali menuju mobilnya.


"Beb... kenapa sih elu gak mau diantar Jacky? Kan enak pake mobil Jaguar beb?"


"Elu mau? Gue lepasin dan elu balik sama si Jacky!"


"Eh elu kenapa ngedadak baperan gitu?Kaya sindrom pulang kampung kamu mah Sya?"


"Serah lah kumaha ente!"


"He he iya. Sudah.. memang enak ya kita pulang berdua. Bisa bebas cuci mata." Ratna tertawa membayangkan kalau bisa berjalan berdua dengan Raisya bisa bebas ketawa ketiwi tanpa jaga image.


"Udah tahu make nanya?" Raisya menggerutu.


"Maafin ayang beb.. janji moal sakali kali deui!" Ratna mengacungkan dua jarinya tanda peace.


"Lah janjimu palsu! Hayuu.. mandi hela. Meh teu bau badot!" Raisya langsung membawa handuk langsung ke kamar mandi.


"Wek saha anu bau badot? Secara gue tuh.. pake parfum berkelas gak kaya elu beb.. pake parfum nyong.. nyong." Ratna tertawa.


"Kelas sabaraha neng? Bagi atuh!" Raisya melongo dari balik pintu. Kalau sudah berdua Raisya sama Ratna suka lupa umur. Terus saja becanda.


"Buruan katanya takut kemalaleman! Baju elu mau gue beresin Sya?" Ratna menawarkan diri membereskan baju Raisya. Sambil menunggu Raisya mandi biar cepat selesai.


"Boleh ayang.. " Raisya dengan senang hati bajunya dibereskan sama Ratna.


Ratna memang suka kerapihan. Berbeda dengan Raisya yang agak cuek dan kesannya berantakan. Sewaktu dulu masih kuliah di Bandung seringkali Ratna membantu Raisya membersihkan kamarnya kalau mampir ke kostannya.


"Tuh giliran kamu!" Raisya mandi koboi. Biasa mandi cepat dan tak berlama-lama di dalam kamar mandi. Alesannya memang sunnahnya tidak boleh berlama-lama di kamar mandi. Setelah urusan selesai diharapkan segera keluar dari kamar mandi.


"Oke.Tunggu aku ya!" Ratna membawa handuk dan peralatan mandinya.


"Jangan lama-lama Shafira.. " Keburu travelnya kemaleman.


"Iya gue mandi koboi kaya elu. Lagian malem gak enak lama-lama juga." Ratna menjawab dari kamar mandi.


Tak lama kemudian Ratna selesai mandi.


"Cepet kan?" Ratna menuju dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ayuu buruan. Gue udah siap nih!" Raisya sudah siap dengan memakai jaket dan celana jeans dan atasan kaos panjang.


"Bentar-bentar. Sabar beb!" Ratna segera berganti pakaian sama persis dengan yang dipakai Raisya. Karena kota Bandung dingin sebaiknya memang memakai jaket biar aman dan hangat.


"Yukk!" Ratna sudah siap.


"Elu gak bilang ke mamah mau ke Bandung?" Raisya mengingatkan Ratna.


"Sudah. Tadi di WA."


"Oh.Ya udah berdoa dulu. Bismillahi tawakaltu alallahi laaa haula walaa kuwwata illaa billah." Raisya menuntun Ratna berdoa sebelum berangkat.


"Aamiin." Ratna mengaminkan.


Setelah memesan mobil online mereka pun pergi ke shuttle dimana mobil travel arah Bandung sudah tersedia.


"Kamu sudah pesan tiket belum beb?"


"Sudah, tinggal bayar!"


"Biar gue bayarin!" Ratna menawarkan diri untuk membayarkan ongkos travel.


"Gak apa-apa. Masing-masing aja!" Tolak Raisya.


"Ma kasih ya Rat!"


"Iya sama-sama."


Mereka pun duduk sejenak menunggu penumpang yang belum datang.


"Eh beb.. jangan tersinggung ya. Kenapa sih elu gak mau diantar Jacky?" Ratna kembali bertanya. Rupanya masih penasaran.


"Ih.. kan tadi udah dijawab." Raisya menoleh ke samping melihat Ratna.


"Tapi menurut gue bukan itu Sya!" Ratna mencoba mengorek apa yang sedang dirasakan Raisya.


"Kepoan ih." Raisya menselonjorkan kakinya berusaha duduk santai.


"Itu artinya gue peka Sya! Kamu takut Jacky suka sama elu kan?" Ratna langsung menebak.


Jlebb


Raisya membesarkan bola matanya menatap Ratna.

__ADS_1


Lalu kembali melihat ke depan, tanpa menjawab pertanyaan Ratna.


"Kalau menurut gue si Jacky sudah lama suka sama elu. Elunya aja lempeng." Ratna kembali berbicara.


Raisya tetap diam tak menanggapi Ratna.


"Eh Sya gue.. minta maaf ya! Waktu itu belum ngejelasin ke elu masalah pak Nathan. Aslinya gue panikan. Jadi ngbleng aja gak inget sama elu. Yang gue pikirin, gue mesti nyelesein pekerjaan yang pak Nathan beri ke gue." Sesal Ratna tiba-tiba merubah arah pembicaraan.


"Udah gue ngerti ko Rat! Lagian pak Nathan gak membahas masalah mobil lagi kan? Berarti aman!" Raisya menepuk bahu Ratna.


"Iya sih! Tapi yang repot jadi elu ngasuh anaknya pak Nathan. Kamu tahu sendiri gue gak suka anak-anak. Denger nangis aja stress gue Sya." Ratna yang mempunyai trauma kanak-kanak sulit untuk lepas dari bayang-bayang masa lalu.


"Iya sudah jangan bahas itu lagi. Tuh udah pada naik. Kita jalan ke sana!" Tunjuk Raisya melihat beberapa penumpang naik ke dalam mobil travel.


"Ayu!" Ratna berdiri mengikuti Raisya masuk ke dalam mobil travel jurusan Jakarta-Bandung. Waktu menunjukkan jam 5, mobil pun tak lama kemudian melaju.


Ratna dan Raisya tertidur di dalam mobil travel. Keduanya merasa nyaman setelah duduk manis dan merasakan goyangan mobil yang cukup halus.


Dua jam kemudian mobil pun berhenti di shuttle Bandung. Semua penumpang turun dari mobil, begitupun Raisya dan Ratna.


Setelah memesan mobil on-line mereka pun lantas melanjutkan perjalanan menuju rumah Raisya.


20 Menit kemudian mobil pun berhenti. Raisya membayar sejumlah tagihan pada sopir.


"Rat kamu lapar gak?"


"Lumayan, agak sih. He he."


"Kita makan nasgor dulu gimana? Takutnya mamah gak ready eung." Raisya jaga-jaga kalau ibunya tidak memasak. Karena tiap kali Raisya pulang jarang sekali ibunya menyiapkan masakan untuk Raisya.


"Bolehlah. Aku juga kangen nasgor Bandung eung." Jawab Ratna.


"Ya udah kita makan dulu aja! Biar nanti kita tinggal shalat magrib sama Isya." cicit Raisya.


"Oke!"


Raisya dan Ratna membeli nasi goreng di pinggir jalan dekat rumahnya. Keduanya dengan lahap menikmati nasi goreng langganan Raisya.


Setelah kenyang mereka berjalan ke arah gang menuju rumah Raisya. Tapi langkahnya terhenti dan pandangan keduanya, fokus menatap bangunan yang sudah lama didiami Raisya.


"Sya.. kok kaya kena angin ribut?" Celetuk Ratna.


"Tau.. kok bisa gak ngasih tahu aku sih!" Raisya melongok sambil menelan kecewa.

__ADS_1


"Kita balik ke hotel aja Sya! Biar besok kita dateng lagi kesini gimana?" celetuk Ratna.


__ADS_2