Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
tantangan


__ADS_3

"Maksud bu Raisya?" Laki-laki paruh baya yang mempunyai jabatan tertinggi di bagian gudang menatap tajam pada Raisya.


"Ada beberapa barang yang harus dirubah dari pengadaan barang yang tercantum dalam laporan ini. Saya telah menganalisa pengadaan dan juga kebutuhan yang harus dipenuhi setiap periode nya. Ada pembelian bahan tertentu dalam jumlah besar tapi pemakaiannya tidak sesuai dengan kebutuhan. Lalu sisa barang akan dilelang pada setiap akhir periode dengan harga murah. Dan ini tidak dalam jumlah yang sedikit. Ini akan saya akan pertimbangan sebagai bahan laporan di bagian divisi keuangan dan selanjutnya akan dilaporkan ke Direktur perusahaan.


Brakk


Suara gebrakan meja mengejutkan semua orang yang ada di ruangan rapat.


"Bu Raisya. Laporan ini selalu dibuat dengan kebutuhan setiap periodenya atas permintaan dari bagian produksi. Dan selama ini tidak ada yang janggal. Kami hanya melaksanakan apa yang harus kami kerjakan. Baru kali ini anda mengomentari laporan kami. Jadi asal tahu saja anda disini tidak bisa mengatur kami semaunya bu Raisya. Lagian bu Raisya di bagian keuangan posisi anda sebagai apa?" Laki-laki tadi nampak tidak setuju dengan pendapat Raisya.


"Maaf Pak! Saya hanya melakukan tugas dan riset. Jika bapak merasa tidak melakukan hal yang janggal tidak usah marah. Saya juga akan melakukan hal yang sama pada divisi lain. Dan tugas saya juga hanya bekerja, sama halnya dengan yang bapak lakukan. Jika perusahaan menilai ini tidak efektif maka harus dilakukan perubahan." Raisya sudah bisa menduga bakal ada pertentangan dari divisi yang sedang diteliti nya.


"Baik. Tapi jangan harap anda bisa merubah apa yang sudah biasa dilakukan. Dan yang pasti anda akan menanggung sebab akibatnya jika pihak gudang tidak akan menyediakan bahan yang akan digunakan perusahaan selanjutnya." Ancam laki-laki itu. Lalu dia keluar dari ruangan rapat.


Raisya hanaya melihat tanpa bisa bicara kembali. Satu persatu orang yang ada dalam ruangan itu keluar dengan tatapan sinis mereka. Dan tinggallah Raisya seorang.


"Gila.. kalian mau jadi pencuri dengan kedok legal. Pantesan saja mbak Hesti wanti-wanti." Raisya termenung memikirkan apa yang baru saja terjadi.


Sementara itu Nathan yang sudah masuk ke dalam ruangan kerja langsung rapat teamwork.


Dan Michel ikut menguntit kemana Nathan melangkah.


"Michel. Daddy mau kerja dulu. Bisa kan Michel main sama suster dulu? Atau Michel mau makan di kantin?" Tawar Nathan agar Michel tidak terlalu menempel.


Michel hanya menggelengkan kepala.


"Maaf Pak Nathan sehabis makan siang kita akan rapat dengan divisi keuangan." Reza menginformasikan pada Nathan jadwal kerja untuk hari ini.


"Siapkan materi yang akan kita ajukan ke divisi. keuangan berkenaan strategi marketing kita ke depan! Oh iya jangan lupa, laporan pembiayaan lokal dan luar tolong dipisahkan. Karena untuk sementara kita akan ajukan untuk kepentingan pemasaran daerah lokal dahulu."


"Iya baik pak!" Reza langsung ke meja kerjanya menyiapkan apa yang baru diperintahkan Nathan.


"Ratna.. siapkan semua laporan dari semua gerai yang sudah kita kunjungi. Dan buat jadwal kunjungan untuk gerai luar kota."


"Baik Pak!


"Dan satu lagi. Temanmu yang kemarin dari divisi keuangan kan?

__ADS_1


"Iya pak!"


"Tolong tanyakan, siapa yang akan memimpin rapat sekarang?"


"Maksud bapak?" Ratna agak heran.


"Iya sehabis makan siang kita akan mengadakan rapat dengan divisi keuangan. Aku ingin tahu siapa yang akan datang memimpin rapat."Jawab Nathan tak menaruh curiga apa-apa.


"Iy iya pak!" Ratna menjawab tergagap. Hatinya mulai tak tenang. Bagaimana kalau Raisya sampai tahu bahwa bos barunya adalah Nathan. Ratna menggigit bibirnya merasa bingung.


Dia duduk lalu menekan tombol telepon penghubung antar divisi.


Kring


Kring


Suara telepon di kubikel Raisya terdengar menyala. Tapi tak ada satu pun yang mengangkatnya. Karena dianggap mungkin panggilan itu hanya ditujukan untuk Raisya.


"Kemana tuh anak. Lagi butuh kok malah sepi." Keluh Ratna yang tidak tenang belum mendapatkan jawaban.


"Maaf Pak tak ada yang mengangkat mungkin mereka sedang ada rapat juga." Ratna mencoba membuat alasan.


Jam makan tak terasa sudah tiba. Nathan dan Reza pergi ke kantin lebih dahulu karena ada Michel yang terlihat sudah bosan ada di dalam ruangan kerja. Mereka makan di tempat khusus para eksekutif.


Sesekali mata Nathan memandang ke arah tempat duduk para karyawan. Dia hanya melihat Ratna, Hesti juga Jacky.


"Mbak tadi aku telepon kok gak ada yang mengangkat?" Protes Ratna pada Hesti.


"Emangnya gue operator online apa? Elu nelepon ke Raisya kan bukan ke gue?" Hesti tanpa merasa bersalah dengan tenangnya menikmati makan siangnya dengan soto ayam.


'"Eh.. pokoknya ya bagian keuanganlah! Tapi Rasa ayam goreng kemana mbak? Kok gak muncul tuh anak!" Ratna heran kenapa Raisya belum juga turun ke kantin.


"Tadi dia rapat sama bagian gudang." Jawab Hesti.


"Sendirian mbak?"


"Hhmm."

__ADS_1


"Biasanya kan bu Mia sama Jacky mbak." Ratna masih heran kenapa Raisya bisa disuruh rapat sendirian.


"Tahu.. si Jacky tuh lagi mager kayanya."


"Ih mbak.. kok gak ngasih tahu aku sih!"


"Kenapa? Bebas-bebas aja kali siapa yang mau rapat. Toh bu Mia yang acc." Hesti melirik Ratna dengan tatapan heran.


"Iya tapi.. aku tuh harus tahu dulu. Apa dia juga yang akan pergi ke divisi pemasaran juga gitu?" Ratna terlihat cemas. Dia bingung sekali, bagaimana kalau Raisya tahu bahwa mobil yang ditabrak waktu itu adalah milik bosnya. Dan sampai saat ini Ratna masih menyembunyikan identitas dirinya yang bersalah pada Nathan.


"Kenapa panik gitu sih Rat kaya yang punya dosa?" Hesti mengamati kegelisahan Ratna.


"Duh mana dia gak ada handphone lagi." Ratna mengeluh kebingungan.


"Aku sudah dulu ah.. mau shalat dzuhur. Lu ga pa-pa kan gue tinggal Rat?" Hesti berdiri berniat shalat setelah menghabiskan makan siangnya.


"Iya mbak. Tapi mbak dimana ya Raisya?" Ratna menatap Hesti yang sudah siap pergi.


"I Don't know." Hesti berlalu tanpa banyak beban.


Sementara Raisya setelah rapat langsung pergi ke mesjid. Pikirnya dia akan makan di ruangannya sambil menyiapkan bahan rapat untuk selanjutnya.


Setelah memesan makanan lewat pak Boy Raisya menyantap makan siang di ruangannya sambil menyiapkan bahan materi rapat. Setelah selesai istirahat jam siang dilihatnya jam sudah menunjukkan waktu jam 1.


"Sebaiknya aku pergi ke sana sekarang." Raisya pun melangkah ke lantai 25 dimana divisi marketing berada.


Tok


Tok


Tok


Sebuah ketukan terdengar di pintu divisi pemasaran atau marketing.


"Masuk!"


Semua mata memandang pada arah pintu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum."


__ADS_2