
Raisya nampak semangat rapat kali ini. Karena dia akan memasuki divisi yang dulu dia pernah ada di sana. Bukan hanya itu saja terlebih ada Ratna juga di dalamnya.
"Assalamu'alaikum." Senyuman terbaiknya sudah Raisya siapkan. Dan salt hatinya seperti dipenuhi bunga setaman.
Raisya mengucapkan salam sambil tersenyum cantik.
"Waalaikumsalam." Suara itu paling jelas dikenali Raisya siapa lagi kalau bukan Ratna.
Mata Raisya langsung melihat Ratna mengumbar senyuman, begitu jelas terlihat senang. Tapi berbeda dengan aura Ratna yang erlihat tegang sekali, begitu Raisya muncul dari balik pintu.
"Bagaimana sudah siap kalian rapat?" Raisya yang sudah tidak canggung bersama staf pemasaran langsung mengakrabkan diri.
"Waduhh.. bu ustadzah kayanya semangat betul rapat di kita!" Irwan yang sejak dulu sudah mengenal Raisya juga nampak akrab dan tidak merasa canggung.
"Aamiin pak ustadz! Senenglah.. di divisi ini kan ada banyak saweran biasanya. He he." Raisya terkekeh menertawakan Irwan.
"Siaplah! Sawerannya buat ustadzah nanti di mesjid aja!' Irwan kembali membalas Raisya.
"Kenceng mereun eta mah!" Raisya kembali berbicara logat Sunda.(kotak amal kali)
"Eh yang..kenapa tegang gitu? Jiga anu rek dirapalan bae?" Raisya mendekati Ratna. (Kaya yang mau ijab kobul)
Raisya menatap heran Ratna, tak biasanya sikapnya seperti itu. Biasanya dia langsung nyeroscos apalagi setelah seharian ini dia tak bertemu.
"Enggak..biasa aja kok!" Ratna berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya.
"Eh gimana Ted bos baru kita?" Raisya yang belum tahu siapa pimpinan divisi pemasaran baru menanyakan pada Tedi.
"Hhmm.. Gimana apanya Sya?"
"Tedi malah balik bertanya?"
"Ya semuanya lah..?" Raisya berusaha kepo.
"Tanyain aja tuh sama ayang kamu? Dia kan ngintil terus dari kemarin." Jawab Tedi tanpa memberikan jawaban pasti.
"Lah.. pantesan tegang begitu yang.. " Raisya menebak Ratna sembarangan sambil tersenyum lalu mendekati mejanya.
"Eh.. gimana sekarang lu betah di divisi keuangan Sya?" Irwan langsung mendekati Raisya.
"Hhhmm ya gitu deh." Dibetah-betahin. Namanya juga kerja bro." Jawab Raisya.
"Kalau gak betah kenapa gak pindah lagi ke sini?"
"Emang perusahaan nenek gue apa?" Raisya menyenderkan pantatnya pada meja.
__ADS_1
"Bukan nenek lu sih.. tapi bokap nya bos kita!" Tedi menimpali.
"Maksudnya?" Raisya mengerutkan dahi.
"Pak Nathan tuh anaknya pak Robert yang ditarik dari Amrik neng." Tedi menjawab.
"Oh gitu? Gue baru tahu. He kok kudet gini gue?" Raisya memutar bola matanya.
"Lah elu sih jarang ke lobi... jadi gak liat tampang seleb bos kita di sana. Padahal jadi trend topic loh!"
"Wah masa?" Raisya masih tidak percaya. Bibirnya melongo dan matanya agak membesar.
"Lah.. elu bakal klepek-klepek deh kalau sudah liat. Tapi.. mending elu jangan ngelepek deh.. dia sudah punya buntut." Tedi memberi saran banyolan.
"Eh sudah.. ini siapnya kapan brother kalau ngegosip kaya gini?" Raisya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Rat.. lu diam aja. Si bos gimana? Lu ngedadak jadi tegang gitu?" Irwan melihat Ratna yang tidak banyak bicara.
"Sebentar lagi kali." Ratna membawa kertas tyang sudah tadi disiapkannya.
"Ya udah mending kita nunggu di ruang rapat aja Sya! Biar tinggal der aja kalau si bos dateng!" Irwan memberi ide.
"Hayu." Raisya langsung mengikuti Irwan menuju ruang rapat yang letaknya di dekat ruang direktur utama.
"Lah.. kayanya si bos lagi meet dulu dengan pak Adam." Irwan melihat sekilas ke arah ruangan Direktur Utama pak Adam.
"Lagi diuji nyali kali." Raisya tak tahu harus menjawab apa dengan instruksi Jacky yang dianggapnya sepihak.
"Hhmm. Sya.."
"Apa?" Raisya melirik Irwan sebentar.
"Pindah lagi dong ke divisi gue!"
"Eh.. gimana yang ngurus aja gue mah!" Jawab Raisya santai.
"Garing gak ada elu mah."
"Nyiram! makanya jangan dibiarin kering!"
"Eh yang mau disiramnya malah pindah. Jadi gue mau nyiram siapa coba?" Irwan duduk dengan menghempaskan badan ke kursinya.
"Jangan mesum! Nikah sana! Wajah tampan kok nganggur?" Raisya menyiapkan laptopnya untu rapat.
"Lah elu wajah cantik juga jomblo Sya?" Bela Irwan sambil menggigit bulpoint.
__ADS_1
"Gue bukan jomblo bro.. belum datang aja calon jodohnya. Elu yang tiap hari mancing masa gak ada yang nyangkut?"
"Gak nyangkut kalau mancing elu mah Sya!"
"Lah ini lama banget sih bos elu! Mau rapat jam berapa sih?" Raisya mengeluh.
"Suka-suka Sultan lah.. " Irwan malah memejamkan matanya.
Krek
Suara pintu terdengar dibuka.
"Silahkan pak!" Suara Reza terdengar mempersilahkan.
"Lah kok ada pak Adam?" Raisya melihat ke arah pintu melihat pak Adam masuk lalu diiringi beberapa orang di belakangnya.
"Wow lengkap sudah." Irwan menegakkan badannya. Melihat siapa saja yang masuk dengan tatapan serius.
Wajah Raisya seketika juga memucat melihat siapa saja yang masuk ke ruangan rapat kali ini.
"Ini kok rapat divisi, rasa rapat sidang." Raisya bergumam sendiri.
Ya ampun orang itu siapa lagi?
Mata Raisya menyipit. Rasanya ingin bersembunyi ke dalam tanah terdalam untuk sementara. Melihat laki-laki yang telah berani menamparnya kini ada di ruangan itu.
Dan tak kalah menggetarkan lagi kenapa ada pak Adam, bu Mia juga Jacky segala.
"Maksud loh apa ini????" Raga Raisya ketar-ketir melihat semua orang yang tak dia duga ada disini semuanya.
"Baik rapatnya bisa dimulai sekarang." Reza langsung memimpin mengawali tim divisi pemasaran.
Raisya agak sedikit menundukkan kepalanya. Tak berani menatap langsung wajah yang ada di ruangan itu.
Padahal beberapa pasang mata sedang fokus melihat pada Raisya.
"Baik. Saya akan mempersilahkan pada bapak Nathan untuk mempresentasikan strategi marketing yang akan dipakainya ke depan dan diterapkan di perusahaan kita." Reza mempersilahkan Nathan untuk maju ke depan.
Nathan dengan penuh percaya diri tampil ke depan.
Raisya semakin menunduk. Keringat dingin semakin berpacu keluar dari pori-pori Raisya. Padahal yang tampil maju adalah orang lain, tapi kenapa yang terkena sindrom panggung malah Raisya.
Raisya tak menyangka bos baru di divisi pemasaran adalah Nathan yang waktu itu berselisih. Ditambah dia juga anak pemilik perusahaan yang mempunyai kekuasaan di tempat kerjanya.
Pikiran Raisya kini kalang kabut. Bukan hanya sedang menganalisis pekerjaan yang punya perusahaan, tapi dia sedang memikirkan bagaimana nasibnya bisa aman dari phk.
__ADS_1
"Ampuun si ayang kenapa juga elu gak ngasih kabar gue, bosnya dia? Pantesan saja waktu itu dia berani ninggalin gue sendirian di pintu lift. Dasar.. sapi... " Raisya sedang mengumpat Ratna.
"Silahkan ada masukan?" Matanya malah fokus melihat Raisya.