Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Tangis bahagia


__ADS_3

"Pih... perkenalkan ini Jason, calon suami Raisya." Ucap Raisya begitu menemui tuan Robert di mansion nya.


"Mmm... " Wajah ruan Robert memperlihatkan sisi tidak senangnya. Tapi Raisya tak bisa memaksakan siapapun untuk menyukai calon suaminya itu. Apalagi pada mantan mertuanya yang banyak berharap Raisya masih mau jadi menantunya.


"Raisya mohon maaf pih. Kedatangan Raisya kesini ingin minta doa restu dari papih sekaligus mau.. meminjam Arsel dulu agar bisa mengenal Jason sebelum kami menikah." Raisya dengan sopan meminta laki-laki tua yang mempunyai kekuasaan itu untuk meminta anaknya agar bisa mengenal ayah sambung nya terlebih dahulu sebelum pernikahannya di gelar.


Tuan Robert terdiam. Antara berat memberikan Arsel, dan juga tidak enak jika tidak memberikan nya pada ibunya yang secara hukum Raisya lebih berhak mengasuh Arsel. Selama ini Raisya sudah mengalah untuk tidak menuntut hak asuh. Dia menginginkan hubungan baik terus terjalin dengan keluarga Alberto agar Arsel tidak merasa tertekan.


"Baiklah. Kapan kalian menikah?" Tuan Robert ingin tahu kepastian kapan Raisya akan menikah.


Raisya menoleh pada Jason. Jason menganggukkan kepala menyerahkan urusan pernikahannya pada Raisya.


"Kami akan meminta doa restu dahulu pada keluarga Jason dan ayah di Amerika. Setelah itu kami akan menggelar acara kami dengan sederhana nanti di Amerika. Kami harap papih dan keluarga bisa hadir untuk merestui kami." Terang Raisya berharap agar tuan Robert bisa mengabulkan permintaannya membawa Arsel dan merestui pernikahannya.


"Kamu bekerja dimana? Dan keluarga kamu tinggal dimana?" Tanya tuan Robert yang baru saja mengenal laki-laki yang dibawa Raisya ini. Sedikit banyak dia ingin tahu tentang status laki-laki yang akan menjadi suaminya Raisya itu.


"Saya dipercaya memegang perusahan pertambangan di Kotabaru Kalimantan. Ayah saya tinggal di Singapura. Beliau punya perusahaan sendiri di bidang Fashion dan sekarang dibantu kakak saya dalam mengurusnya. Dan ibu saya sendiri sudah meninggal." Terang Jason apa adanya. Dia melihat mantan mertua Raisya adalah bukan orang sembarangan. Dia pasti akan mempertanyakan status ekonomi dan pekerjaannya.


"Mmm... Lalu rencana kalian nanti setelah menikah akan tinggal dimana?" Tuan Robert begitu penasaran dengan rencana kedua orang yang ada di depannya itu.


Jason melihat Raisya. Belum ada rencana apapun untuk mereka berdua setelah menikah. Untuk pernikahannya saja mereka masih belum mengantongi semua izin.

__ADS_1


"Kami akan tinggal dulu di Amerika untuk sementara." Jawab Raisya yang memang belum ada rencana apapun.


"Jadi kalian tidak akan kembali ke Indonesia? Lalu di sana kalian mau kerja apa memangnya?" Nada meremehkan terdengar jelas dari tuan Robert pada mereka berdua.


"Kami butuh penyesuaian dulu pih sebelum kembali pada pekerjaan. Mungkin nanti setelah menikah kami akan membicarakan lebih serius." Raisya berusaha menutupi rasa malu juga nervous nya di depan tuan Robert yang terlihat mencari celah kelemahan keduanya.


"Baiklah. Kalian boleh menikah. Tapi Arsel tidak bisa kalian bawa sekarang. Mungkin kami akan membawanya ketika acara resepsi kalian." Ternyata tuan Robert mempertahankan Arsel demi kepentingannya menekan dan mengintimidasi Raisya juga Jason.


Raisya terdiam. Dia tahu siapa orang yang sedang berada di depannya. Dia bukan orang yang mudah untuk mengalah begitu saja.


"Baiklah pih. Tapi Raisya harap kebaikan papih untuk memberikan kesempatan untuk bertemu Arsel. Raisya kangen sama Arsel pih." Raisya tertunduk sambil menahan rasa sedihnya.


"Terimakasih pih atas kebaikan papih." Raisya menyeka matanya yang meneteskan airmata. Terpaksa dia harus menuruti keinginan tuan Robert atas hal pengasuhannya pada Arsel. Kalau tidak dia mungkin untuk selamanya tidak bisa bertemu dengan Arsel kalau tidak menuruti kemauan tuan Robert.


Setelah mendapatkan izin dari tuan Robert. Raisya, Jason dan Arsel meninggalkan mansion tuan Robert. Raisya kembali ke rumah dimana sebelum nya mereka tinggal.


Aisyah begitu bahagia menyambut kedatangan Raisya juga Jason yang kini Arsel ikut bersama keduanya. Rumah itu kembali hangat dengan kehadiran ketiga orang itu.


Sementara Arsel pun tidak sulit untuk akrab dengan Jason yang mempunyai sifat mudah ramah dan kebapaan. Mereka asik bermain dan bercanda tanpa ada rasa canggung diantara laki-laki beda umur itu. Arsel maupun Jason terlihat sangat bahagia. Keduanya tidak menyia-nyiakan kesempatan walaupun hanya bisa bersama dalam satu hari saja.


"Aisyah... maafkan aku ya! Mungkin setelah menikah nanti aku tak bisa tinggal disini lagi. Apalagi rumah ini adalah pemberian Jacky, aku rasanya tidak nyaman dan tak mau bermasalah ke depannya." Raisya memulai obrolannya dengan Aisyah.

__ADS_1


Aisyah tertunduk. Di balik cadarnya dia menyesal telah berkhianat pada Raisya. Semuanya karena didesak dan terpaksa.


"Iya kak Raisya. Kami juga akan pindah dari sini. Rasanya kami merasa bersalah pada kakak. Semuanya salah kami kak. Kalau kami dulu tidak menerima pemberian pak Jacky, mungkin urusannya tidak akan seperti ini." Sesal Aisyah.


"Gak pa-pa. Aku tidak menyalahkan kalian. Bagiku kalian adalah malaikat. Jadi kalian tak boleh merasa bersalah. Aku tahu siapa Jacky dan keluarganya. Mereka akan melakukan apa saja untuk kepentingan mereka. Kakak kan nanti punya suami, mungkin kakak akan ikut kemanapun suami kakak bekerja." Ucap Raisya mengusap bahu Aisyah agar Aisyah tidak terlalu merasa bersalah.


"Iya kak. Kami mengerti. Kami hanya bisa berdoa semoga pernikahan kakak langgeng juga bahagia. Mohon maafkan kesalahan kami ya kak. Jangan pernah memutuskan silaturahmi dengan kami. Buat kami kakak adalah kakak kami di dunia ini. Kami tidak mempunyai keluarga lagi selain kakak." Aisyah menangis tidak tahan dengan perasaan bersedih nya.


Raisya langsung memeluk Aisyah. Aisyah menangis dalam pelukan Raisya. Dia sangat sedih sekali harus berpisah dari orang yang selama ini dianggap nya sebagai keluarga itu.


"Iya.. Aku akan tetap menyayangi kalian. Bagiku kalian adalah bagian dari keluarga ku sampai kapanpun. Aku tidak akan melupakan kalian. Aku harap kalian hidup bahagia juga." Ucap Raisya yang ikut meneteskan airmata.


"Ma.. mama... " Arsel memangil Raisya sambil berlari-lari kearah perempuan yang sedang berpelukan.


"Lho.. mama sama tante kenapa pada menangis?" Arsel heran melihat dia perempuan itu berpelukan sambil menangis.


"Gak pa-pa sayang.. mama cuman terharu saja." Raisya melepaskan pelukan dari Aisyah.


"Tante.. cedih ya mama punya pa-pa balu?" Arsel menebak asal.


"Tidak sayang.. mamah justru bahagia melihat mama kamu akan menikah dan Arsel punya pa-pa baru." Aisyah tersenyum di balik cadarnya sambil menggendong Arsel ke pangkuannya.

__ADS_1


__ADS_2