Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Membuat alasan


__ADS_3

"Michel...?" Nathan menatap takjub. Netranya melihat penampilan Michel dari atas sampai ke bawah merasakan ada hal yang aneh dengan penampilan putrinya kali ini. Masih dalam keadaan heran Nathan masih mematung.


"Maaf dad.. aku terlambat." Michel langsung cepat-cepat meminta maaf khawatir ayahnya akan memberondong dengan pertanyaan.


"Mmm... " Entah mengerti entah apa, sehingga Nathan mengurungkan niatnya menanyakan Michel akan keterlambatannya dan kenapa dia tadi tidak menjawab panggilannya.


"Ya sudah.. ayoo!" Nathan menggandeng Michel ke dalam ruangan lalu mengenalkan kepada semua orang yang telah diundangnya.


"Pak Nathan... " Irwan menyapanya dengan mengapit tangan Ratna di sikut.


Nathan menoleh. Dia melihat Irwan dan Ratna mendekatinya. Nathan melihat ada yang aneh dengan tatapan Ratna pada Michel.


"Bukannya kamu...?" Ratna mengerutkan dahi melihat Michel yang sedang digandeng Nathan.


"Oh iya.. kenalin ini anak aku... Michel... " Nathan memperkenalkan Michel pada Ratna.


Deg. Jantung Ratna seperti tertimpa batu. Dia terlihat cemas. Pasalnya dia tadi melihat dia menyebut Raisya bunda, berarti Michel mengenali Raisya.


Hatinya sedang bergemuruh mengkhawatirkan jika Michel sudah mengenali Raisya, bagaimana dengan Nathan.


Michel maju mendekati Ratna juga Irwan dengan mengedipkan matanya. Ratna yang sedang melihat Michel di depannya bertambah kerung membaca isyarat yang baru saja ditangkapnya.


"Kenalkan saya Michel tante... om.. " Michel menyalami dua orang yang baru saja diperkenalkannya.


"Ohh... iy iya.. saya Ratna. Kamu bisa panggil tante Ratna." Ratna agak gugup.


"Aku Om Irwan." Sambung Irwan memperkenalkan dirinya.


Sekarang giliran Michel yang menatap Irwan penuh pertanyaan.


Yang kemarin bersama bunda.. jadi bukan suaminya? Kenapa sekarang malah bergandengan dengan tante Ratna?


"Oh.. om suaminya tante Ratna?" Michel ingin menyakinkan dirinya pada status kedua orang yang ada di depannya.

__ADS_1


"Iya." Jawab Irwan sambil tersenyum bangga, lalu melirik Ratna yang dibalas Ratna dengan senyuman bahagia.


"Wah... kalian sepertinya bahagia ya? Senang bertemu dengan kalian." Michel mengedipkan sebelah matanya pada Ratna. Itu membuat mata Ratna melebar, masih belum mengerti dengan kode Michel yang ditujukan padanya.


"Alhamdulillah kami bahagia sekali." Jawab Irwan tulus.


"Om.. sudah punya anak?" Entah kenapa malam ini Michel sepertinya penasaran dengan kehidupan Irwan dan Ratna.


"Mmm.. sudah dong." Irwan tersenyum senang.


"Anak kami kembar dua, perempuan." Jawab Irwan tak menyadari hal itu akan memojokkan dirinya.


"Jadi.. yang waktu itu?" Nathan yang sedang menyimak ikut melayangkan pertanyaan.


Raut wajah Irwan berubah. Rupanya jawaban yang dia keluarkan akan membuat dirinya susah. Dia sedang berpikir bagaimana caranya agar rahasia Raisya tidak terbongkar.


"Yang mana ya?" Irwan pura-pura lupa.


"Itu.. yang waktu di foodcourt.. " Jawab Nathan mengingatkan Irwan.


"Ohh.. " Nathan agak menautkan alis, heran.


"Oh iya Pak Nathan... ada yang ingin saya katakan pada pak Nathan." Ucap Ratna sambil menyenggol suaminya.


"Iya.. katakan saja!" Nathan dengan wajah ramah menunggu apa yang akan disampaikan Ratna.


"Mas.. " Ratna memanggil suaminya agar dia segera berbicara.


"Mmm... maaf Pak Nathan. Sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya jika yang akan saya katakan kurang berkenan di hati pak Nathan." Ujar Irwan dengan jantung berdenyut kencang dari biasanya.


"Iya.. katakan saja!" ucap Nathan.


"Saya... mau... mengundurkan diri pak." Irwan akhirnya harus memberanikan diri untuk mengungkapkan niatnya.

__ADS_1


"Maksud kamu?" Nathan agak mengerungkan dua pangkal ujung matanya.


"Iya.. saya mau keluar kerja pak." Irwan mengulangi perkataannya.


"Keluar???" Nathan merasa tidak rela jika Irwan sampai keluar dari perusahaan. Selain memang kerja Irwan memang bagus, ada hal lain yang ingin dilakukannya secara sembunyi-sembunyi.


"Iya pak." Irwan semakin mantap dengan niatnya itu.


"Apa alasannya? Bukankah kamu baru saja naik jabatan? Pastinya gaji kamu naik. Banyak orang yang mengincar jabatan nomor dua di perusahaan ini. Kamu malah melepaskan begitu saja." Sesal Nathan pada Irwan.


"Hhmm.. iya maaf Pak. Saya tahu kenaikan jabatan saya pastinya akan menambah gaji saya. Tapi seiring itu tuntutan dan tanggung jawab saya pun sepertinya bakal lebih banyak dan tidak dipungkiri hal itu akan menambah jam waktu kerja saya ke depan. Saya.. tak ingin istri dan anak saya terbengkalai karena kurang perhatian." Irwan menatap Ratna. Ratna mengerti kegundahan suaminya. Dia menguatkan eratan pada tangan Irwan sebagai bentuk dukungan.


Sebenarnya siapa sih yang tidak tergiur dengan jabatan ini? Para petinggi di perusahaan termasuk Irwan merasakan senang karirnya bisa sampai di level ini. Tapi.. demi kebaikan dan keselamatan Raisya juga konsekuensi nanti ke depannya, Irwan lebih memilih mengundurkan diri daripada harus kehilangan nyawa salah satu teman terbaiknya.


"Jika niat kamu keluar dari perusahaan hanya untuk melindungi Raisya itu sangat disayangkan." Kalimat yang diucapkan Nathan membuat pasangan suami istri itu hampir jantungan.


Degg..


Ratna bersama Irwan saling memandang. Entah tatapan apa yang sedang dikeluarkan keduanya setelah mendengar Nathan mengatakan hal itu. Keduanya begitu ketakutan.


"Mmm.. Tidak pak. Saya memang ingin menjalankan bisnis saya dengan serius. Saya kerepotan jika ditambah mengurus anak-anak." Ratna dengan cepat mengantisipasi kekhawatiran dirinya juga suaminya.


"Aku tahu apa yang kalian pikiran Ratna. Bukankah Raisya ada bersama kalian?" Nathan yang memang cerdas selalu bisa membaca pikiran lawan bicaranya.


Yang kaget di sana bukan hanya Ratna dan Irwan. Tapi ada Michel juga. Dia heran kenapa ayahnya bisa lebih tahu tentang Raisya.Dia sama-sama takut kalau ayahnya akan berbuat di luar batas seperti sebelumnya.


"Maksudnya apa ya pak? Kok bapak mengaitkan hal pekerjaan dengan hal pribadi?" Ucap Irwan tegas. Dia tidak senang dengan sikapnya yang mulai mengeluarkan kedua taringnya.


"Kalian jangan khawatir akan diriku. Aku tidak akan mengganggu kalian juga Raisya." Nada Nathan terdengar sedih. Entahlah, tiba-tiba rasa sedih itu datang di hatinya. Melihat orang-orang yang dekat dengan Raisya saja sudah ketakutan akan sikap dirinya, apalagi Raisya.


Padahal dulu mana ada Nathan takut, kelemahan Nathan hanya ada Michel seorang. Dia sangat takut kalau dirinya akan ditinggalkan oleh semua orang. Tak terkecuali anak yang sangat dicintainya, yaitu Michel.


"Aku.. sudah resmi bercerai empat tahun yang lalu. Meski aku sangat ingin kembali, tapi ketakutanku sepertinya melebihi kalian. Aku takut, aku akan menyakiti Raisya. Aku akui aku bukan orang baik. Tapi...lewat kalian aku sebenarnya ingin menyampaikan permintaan maafku padanya. Aku ucapkan banyak terima kasih pada kalian juga....apakah dia sudah menikah lagi?" Pertanyaan itu begitu saja meluncur dari mulut Nathan yang membuat Irwan dan Raisya ketar-ketir.

__ADS_1


"Sudah pak!" Ratna langsung menjawab dengan penuh keyakinan.


__ADS_2