
"Kamu udah sarapan?" Tanya Rio pada Raisya.
"Sudah bang. Eh Bang Beny belum datang?" Raisya tak melihat Beny.
"Masih molor. Dia begadang kerjanya. On nya jam 9."
"Eh.. ayu aku antar ke lantai 2 tempat kita bekerja. Kamu ingin lihat meja kamu kan?" Rio berdiri mengajak Raisya ke lantai 2. Raisya mengikuti Rio menaiki anak tangga.
Begitu sampai di lantai 2 mata Raisya terbelalak takjub.
"Eh awas iler turun!" Rio yang melihat Raisya melongo langsung mengibaskan tangannya di depan muka Raisya.
"Bang.. bagus banget ruangannya... " Raisya langsung melangkah mengamati detail ruangan kerja team arsitektur. Matanya yang sembab mendadak sembuh melihat pemandangan dalam ruangan di lantai 2.
Di sana ada meja arsitektur, beberapa lukisan yang menempel di dinding, sofa unik, aquarium, taman aesthetic, meja billiard dan coffe shop.
"Tuh meja kamu di sana! Kemarin Beny sudah menata ulang ruangan ini. Itu meja aku. Dan yang di sana meja kembaran gue ya, namanya Ria. Elu belum kenalan kan? Nanti jam makan siang pasti dia datang kesini. Dia masih mendua jadi kaya kamu." Ucap Rio.
"Wah.. meja aku... senengnya.. " Raisya nampak senang melihat mejanya begitu luas dan enak. Ruangan itu dibuat senyaman mungkin. Berbeda dengan meja yang ada di perusahaannya, terlihat kaku tak ada sedikitpun nilai seninya.
"Gimana kamu betah?" Tanya Rio.
Raisya mengangguk sambil tersenyum.
"Good."
"Eh bang Rio, kalau meja bang Beny dimana?" Raisya tak mendengar Rio menyebutkan meja bos besarnya.
"Dia ada di lantai 3. Bareng sama ruang privasinya. Di sana lebih bagus lagi. Elu bakalan hokcay lagi kalau lihat ruangan di lantai 3." Terang Rio.
"Mmh.. kalau mushola dimana bang Rio?" Raisya belum mengetahui seluk beluk gedung kantor arsitektur ini.
"Ada di lantai bawah. Di sana ada ruangan kamar 1, Mushola, dapur, toilet dan ruang tamu."
"Oh.. " Raisya mengangguk mengerti.
"Eh Raisya. Nanti temenin gue belanja ya! Terus ke proyek sambil bantuin ngitung-ngitung. Entar bon-bon belanjanya lu arsip dan bikin di laporan!"
__ADS_1
"Iya bang."
"Kita keluar kalau si Beny udah bangun. Soalnya kantor gak bisa ditinggal kalau gak ada siapapun. Khawatir ada tamu atau klien yang datang." Terang Rio.
"Baik bang."
Sementara itu di ruang divisi pemasaran Nathan hanya memandangi meja Raisya yang masih tak berpenghuni.
"Dia pergi kemana? Apa aku harus menghubunginya? Bagaimana kalau dia benar-benar tak mau lagi menemani Michel? Ah dasar wanita cengeng!" gumam Nathan.
"Pak, Michel mau dijemput bapak atau mau dijemput sopir?" Reza mengingatkan Nathan yang masih melamun.
"Suruh jemput sopir saja! Bukankah kita punya jadwal?" Nathan mendongak melihat Reza yang berdiri di sampingnya.
"Baik pak!" Jawab Reza pendek.
"Eh.. Raisya tak ada kabar? Kenapa dia tak masuk kerja? Aku tadi hanya menyuruhnya turun bukan untuk bolos kerja." Keegoisan Nathan membela kesalahannya tanpa mau dianggap sebab.
"Ada pak. Katanya mau izin dulu." Reza mengabarkan seadanya. Dia mengerti kalau Raisya tidak masuk. Pastinya dia akan tak nyaman, mungkin juga dia tersinggung.
"Izin? Maksudnya?" Nathan mengernyitkan dahi.
"Aku gak mau tahu. Suruh dia masuk sekarang juga. Kalau tidak aku akan datang ke kostannya." Seru Nathan menyuruh Reza.
Ya ampun. Dia mati rasa apa bagaimana sih? Ga peka banget jadi manusia.
Rutuk Reza ikut mengesalkan sikap Nathan.
"Kamu dengar Reza?"
"Aku mau dia masuk dan menyelesaikan pekerjaannya sekarang juga. Sebelum kita berangkat ke lapangan. Dan ingatkan juga malam ini dia harus menginap menemani Michel. Aku sudah mentranfet uang 50jt untuk upah sebulan menemani Michel." Nathan tadi pagi mentransfer sejumlah uang ke rekening Raisya sesuai janjinya kemarin.
"Baik pak! Tapi sebaiknya bapak tidak berlaku kasar lagi. Karena kita juga nanti yang akan kesulitan jika dia tak bersedia untuk menjaga Michel. Apalagi nanti sore kita akan pergi." Reza ingin Nathan sadar akan sikapnya yang terlalu keras pada Raisya.
"Cari tahu dia ada dimana! Aku ingin bertemu dengannya sebelum berangkat." Ucap Nathan.
"Baik pak!" Reza berlalu dari hadapan Nathan.
__ADS_1
Merepotkan sekali
Gerutu Reza.
Reza langsung menghubungi Raisya. Karena kalau tidak, bukan hanya pekerjaannya yang akan bertumpuk tapi ancaman dari tuan Robert pun akan diterima Reza kalau sampai pekerjaan Nathan berantakan.
"Bu Raisya ini saya Reza. Anda sedang berada di kostan?" Tanya Reza untuk memancing keberadaan Raisya.
Raisya yang sedang membantu Rio di proyek tidak jelas mendengarkan suara Reza.
"Maaf Pak Reza suara anda tidak begitu jelas. Bisa diulang lagi!" Ucap Raisya.
"Itu suara apa ya bu Raisya?" Suara bising dari mesin molen sangat mengganggu pendengaran.
"Itu suara mesin molen pak Reza." Jawab Raisya.
"Eh Raisya.. tolong bawakan map yang ada tulisan Beny corporation arsitektur di mobil gue! Cepet ya neng Raisya cantikku!" Rio terkekeh melihat penampilan Raisya yang masih kikuk dengan memakai helm juga rompi kerja.
"Baik bang Rio!" Raisya langsung berjalan mendekati mobil yang tadi membawanya ke proyek untuk membawa satu map yang diperintahkan Rio.
"Maaf Pak Reza. Nanti kita bicara lagi! Saya lagi sibuk sekarang." Raisya yang tadi sedang menerim telepon agak terpotong karena panggilan Rio.
"Baik Raisya. Maaf aku mengganggu. Nanti saya sambung lagi ya!" Jawab Reza yang sudah mencuri dengar pembicaraan Raisya dan Rio. Kini Reza sudah tahu dimana keberadaan Raisya.
Raisya menutup teleponnya. Dan kembali bekerja bersama Rio di lapangan setelah tadi mendapatkan izin dari Beny. Raisya nampak. menikmati suasana kerja barunya juga lingkungan kerjanya yang humble.
Sementara itu Reza menutup teleponnya dan langsung membuka i-pad nya mencari alamat yang baru saja dia dengar.
"Ah berhasil. Ternyata dia bekerja di sini rupanya?" pekik Reza menemukan alamat Beny Corporation Arsitektur.
"Bagaimana? Kamu berhasil. menemukan keberadaan Raisya?" Nathan yang dari memperhatikan gerak-gerik Reza penasaran dengan apa yang baru saja ditemukannya.
"Iya. Bu Raisya bekerja di perusahaan arsitektur pak. Katanya dia lagi ada di proyek sekarang. Dan tak bisa menjawab saya karena suara bising dari mesin molen." Terang Reza pada Nathan.
"Hhhmm. Di sana pasti banyak laki-laki. Kita ke sana sekarang!" Nathan langsung berdiri dari kursi kebesarannya.
"Apa? Kesana pak? Buat apa pak?" Reza menatap. heran pada Nathan.
__ADS_1
"Ya. Bawa Raisya lah! Emang kamu pikir aku ke sana mau ngapain?" Nathan yang tak mau kalah berdebat membuat Reza selalu memilih diam.
Dasar beneran psikopat. Pusing gue