
Michel menggeliat karena merasa pegal dan gerah. Anak kecil nan lucu itu membalikkan badannya miring ke sebelah kanan. Matanya terbuka melihat siapa yang ada di depannya kini.
"Daddy.. " Suara Michel agak parau. Dia terkejut ayahnya tidur satu ranjang dengannya. Tapi bibir munggil merah delima itu tersenyum manis dia bergerak lalu bergerak agak ke atas mencium ayahnya. Michel bangun dari ranjangnya lalu pergi ke kamar mandi karena kebelet ingin buang air kecil.
Dua orang dewasa yang masih tidur di satu ranjang hanya mengingat kesadarannya yang terakhir. Bahwa di sampingnya ada anak kecil yang sedang tidur bersamanya.
Nathan dengan setengah kesadarannya yang tadi mendapatkan ciuman kecil dari Michel maka dia pun membalas ciuman itu. Tapi karena posisi Michel yang sedang ada di kamar mandi tanpa sadar tangannya malah menarik wanita dewasa yang sedang ada di depannya lalu membalas begitu saja ciuman itu di bibir wanita yang sedang tidur lelap.
Seolah terbawa mimpi. Raisya yang tidur terlelap setelah mendekap Michel otak bawah sadarnya yang menyimpan jutaan mmemori, kini sedang memimpikan indah bertemu seseorang yang selama ini dia sukai. Dalam hati kecilnya dia menyukai sosok laki-laki itu dalam diam. Meski akhir-akhir ini hatinya telah dikecewakan olehnya. Lebih tepatnya patah sebelum berkembang setelah melihat adegan di ruang rapat waktu itu.
Sekarang Raisya sedang merindukan sosok laki-laki itu hadir di depannya. Dia yang selalu jadi pahlawannya selama ini. Apalagi malam ini kekecewaan Raisya begitu besar, dia berharap laki-laki itu hadir untuk membelanya seperti biasa. Rasa rindu itu kian besar apalagi dia sudah satu minggu ini tak ada lagi satu divisi. Itu membuat hati Raisya tersiksa.
Walaupun dia kecewa padanya telah berbagi rasa dengan yang lain tapi entah, rasa sukanya masih terpatri kuat dalam hati Raisya. Dia masih berharap besar kalau dirinya akan mendapatkan cinta laki-laki itu.
Pesan-pesan yang pernah Jacky kirimkan tak pernah dibukanya. Semata-mata dia tidak siap untuk menerima kenyataan jika Jacky mengungkapkan bahwa dia menyukai orang lain. Juga panggilannya tak pernah Raisya angkat semata-mata Raisya merasa takut hatinya sakit.
"Raisya.. maafkan aku sayang." Jackymeraih pipi Raisya dengan lembut.
Raisya hanya mengangguk. Dia tak kuasa melihat wajah itu. Perlahan wajah yang dirindukannya itu meraih pinggangnya mendekatkan pada dirinya. Lalu wajahnya yang tampan yang selalu dia rindukan perlahan mendekati wajah Raisya. Menatap detail setiap wajah Raisya terutama bibirnya yang yang berbentuk daun itu.
Jacky memiringkan wajahnya lalu mendekatkan bibirnya meraup rakus bibir Raisya penuh damba. Seolah rasa rindunya kini tertumpah dan tercurah. Raisya yang mendapat sentuhan itu membalas penuh rasa melibatkan semua isi hatinya yang selama ini disembunyikan lalu mereka terlelap dengan kenikmatan semu berbalut mimpi.
Bibir itu walau tidak pernah belajar tapi pintar sekali mengikuti instingnya menikmati setiap deru nafas dan setiap inci dari bagiannya.
"Daddy... sedang apa?" Michel memergoki Nathan sedang melakukan aksi tanpa izin si pemilik.
Karena kaget Nathan langsung melepaskan pagutannya dan Raisya pun terbangun dengan terhenyak melihat laki-laki yang ditakutkannya malah berbaring satu ranjang.
"Apa yang sudah kau lakukan?" Raisya menatap nyalang Nathan.
__ADS_1
"Wah kamu juga kan menikmatinya bukan?'
"Apa yang kamu lakukan?" Bentak Raisya mengulang kembali pertanyaan sambil memukul Nathan memakai bantal.
"Itu buka pertama kali kan?" Nathan menatap Raisya dengan wajah kesal.
"Dasar psikopat. Bisanya menuduh sama menyakiti!" Raisya langsung menundukkan kepalanya di atas lutut. Merasa malu, bahwa ciuman dalam mimpinya yang terasa nyata memang benar-benar nyata. Bedanya hanya si lawan jenis yang melakukannya adalah orang yang berbeda.
"Cih!.. Siapa lagi yang sudi dengan level kamu. Cantik juga enggak! Merasa diri paling suci lagi!" Nathan langsung beringsut lalu melangkah ke luar kamar lalu naik ke lantai 2 dengan langkah keegoisannya tidak mau mengakui kesalahannya.
"Tante... jangan nangis lagi!" Michel seketika itu juga memeluk Raisya dari belakang punggung Raisya. Anak yang tahu dosa yang dilakukan orang dewasa itu dengan polosnya mengelus pucuk kepala Raisya dengan lembut.
"Daddy jahat ya tante? Sudah cium-cium tante?" Anak kecil yang masih suci matanya harus ternoda gara-gara melihat adegan orang dewasa.
"Iya... Daddy Michel jahat. Suka nyakitin tante terus. Tante benci!" Raisya melampiaskan kekesalannya pada Michel yang tak tahu apa-apa.
Duh ini anak sama bapak sama bikin ngeselin. Masa gue harus jadi emaknya? Ampun gue mesti gimana ini? Hilang sudah kesucian gue dicuri psikopat.. Dasar mesum akut bisanya hanya mencuri di waktu tidur!
Raisya hanya bisa bicara dalam hati.
"Tante... kita bobo lagi! Masih ngantuk. Michel pengen dipeluk lagi!" Rengekannya mampu meluluhkan Raisya yang sedang dilanda kekesalan.
Raisya langsung turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu dan mengunci pintu kamar Michel dengan setengah kemarahannya.
"Tante kenapa pintunya dikunci?"
"Biar daddy Michel gak sembarangan masuk!"
"Tapi kasian daddy.. dia kalau gak bisa tidur suka masuk ke kamar Michel. Nanti kalau daddy mau masuk bagaimana?" Michel terlihat sedih.
__ADS_1
"Kalau Michel mau tidur sama daddy. Tante sekarang juga mau pulang. Tante gak mau daddy Michel gangguin tante tidur!" Raisya mengancam Michel. Padahal dia tahu, jam segini siapa juga yang mau keluar. Selain tidak ada kendaraan, rumah ini juga pastinya dikunci rapat.
Huaw... Huaw... Huaw..
Tangisan Michel seketika menggelegar membangunkan seisi rumah.
"Ini anak sama bapak sama petirnya!" Rutuk Raisya langsung memeluk Michel.
"Aku gak mau ditinggalkan tante... " Keluh anak bule itu sambil berderai air mata.
"Iya. Kalau gak mau ditinggal sama tante.. bilangin daddynya Michel harus baik sama tante!" Raisya langsung menenangkan Michel sambil menyuruhnya untuk bisa mengendalikan ayahnya yang arogan.
"Raisya.. " Gedoran keras di pintu langsung terdengar nyaring oleh penghuni kamar.
"Ya ampun... ngapain sih teriak-teriak dini hari kaya ada maling?" Raisya benar-benar kesal melihat sikap Nathan begitu arogan.
"Heh... elu apain Michel sampai nangis?" Suara cemas Nathan terdengar dari balik pintu. Dia langsung turun lagi karena mendengar suara Michel menangis kencang.
"Heh.. buka pintunya atau kudobrak sekalian!" Nathan tak sabar ingin melihat keadaan Michel. Dia kesal pintu kamar terkunci.
Raisya langsung membuka kunci pintu. Tak ingin teriakan Nathan berakhir dengan dobrakan yang bikin rusuh seisi rumah.
"Michel... sekarang mau pilih tante atau daddy?" Raisya memberikan pilihan tegas pada Michel.
😇😇😇😇 pastinya pusing ya reader's.
Nah ini ada novel bagus dari teman saya yang cantik jelita. Para reader's pasti suka. Yuk mampir melipir ke novel yang satu ini
__ADS_1