Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
keluarga baru


__ADS_3

Terlihat anak remaja yang masih lengkap dengan seragamnya sedang memeluk tanah yang sedikit muncul ke permukaan. Tepatnya sebuah kuburan yang dianggapnya seorang ibu.


"Bunda... bunda.. " Kata itu terus saja diulang-ulangnya berharap yang ada dalam tanah itu mendengarkannya. Ya mungkin cacing-cacing yang di dalam gundukan itu yang mendengarkannya. Nyatanya gundukan itu hanya berisikan makhluk-makhluk tanah yang malu jika terkena matahari.


Tanpa terasa lelehan air mata menetes dan membuat pipinya yang bule jadi berubah warna. Anak itu tidak tahu harus pergi kemana lagi untuk mengeluh dan meluapkan kesedihannya.


Seorang ibu yang telah melahirkannya saja tidak peduli dia hidup atau mati. Ibu sambungnya pun harus rela pergi setelah ditalak ayahnya yang psikopat. Lalu ayahnya yang selama ini dianggapnya keluarga sudah mulai berlaku kasar. Membuat benteng pertahanan Michel runtuh seketika.


"Neng... jangan tidur disini!" Seorang laki-laki dengan pakaian kotor bekas berkebun membangunkan Michel yang ketiduran di atas gundukan tanah yang dipeluknya seperti bantal.


"Mmm..." Michel mengucek matanya lalu melihat ke arah bapak-bapak yang telah membangunkannya.


Gurat tua dan lusuhnya tersenyum begitu Michel melihatnya.


"Ayo bangun! Sudah sore." Bapak itu ikut membantu Michel untuk berdiri. Karena kelamaan berbaring di atas tanah, badannya jadi kesemutan dan baju seragamnya agak kusut juga kotor karena tanah yang menempel pada kain.


"Adek mau pulang kemana?" Bapak tadi begitu ramah menanyai Michel yang berwajah sedih.


Michel hanya menggelengkan kepalanya. Dia tak tahu harus kemana dia pulang. Saat ini Michel bingung. Tak banyak tempat yang bisa dikunjungi dan dihafalnya. Sedangkan dia tak mau kembali ke rumahnya.


"Ya sudah.. kalau adek belum tahu mau kemana, adek mau diajak ke rumah bapak?" Bapak itu sepertinya membaca pikiran Michel yang sedang banyak pikiran. Ya.. dengan melihatnya tidur di atas kuburan saja, hati bapak itu sudah merasa kasihan. Apalagi melihat anak seumuran Michel yang mungkin sedang merindukan apa yang ada di dalam gundukan tanah itu.


Michel mengangguk.


"Ayo.. rumah bapak disana! Ibu pasti bakal senang melihat anak cantik seperti adek mau mampir ke rumah." Bapak itu berjalan lebih dulu. Walau kulitnya hitam karena terbakar sinar matahari, tapi kebaikan hatinya masih bisa terlihat dengan jelas, terpancar dari wajahnya.


Michel mengikutinya dari belakang. Kedua orang itu berjalan mengikuti pinggiran area pekuburan. Hari mulai sore dan tempat itu mulai sepi sekali.


Langkah bapak tua itu terhenti ketika sebuah gubuk sederhana tapi rapih sudah bertengger di depannya.


"Ayo masuk!" Bapak itu membuka pintu pagar yang terbuat dari bambu dan mengajak Michel masuk ke halaman rumahnya.


Michel mengangguk dan masuk ke teras rumah itu, lalu duduk di dipan yang teronggok di halaman rumahnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum... bu... " Bapak tuan itu memanggil istrinya. Lalu menyimpan cangkul dan membasuh kaki dan tangannya di teras halaman depannya.


"Waalaikumsalam... " Seorang wanita yang sudah berumur itu menghampiri suaminya.


"Kita kedatangan tamu bu." Dia tersenyum memberi tahu istrinya.


"Oh ya?" Matanya yang sudah berkerut dipaksa untuk melebar menoleh ke arah belakangnya.


Michel berdiri lalu mendekati wanita paruh baya itu hendak cium tangan.


"MasyaAllah... cantiknya." Wanita tua itu takjub melihat wajah Michel yang cantik.


Dia mengulurkan tangannya yang sudah keriput dan punggung tangannya mendapatkan ciuman dari Michel sebagai penghormatan dari yang lebih muda.


"Ayo masuk nak! Wanita itu membuka pintu yang sudah mulai reot dan mengeluarkan suara berderik.


"Iya terima kasih." Lirih Michel sambil mengamati isi rumah itu yang diisi dengan perabotan sederhana.


"Maaf rumah kami segini adanya." Wanita paruh baya itu agak malu-malu ketika Michel memindai isi rumahnya.


"Wah... bapak kok bisa mengajak anak cantik ini ke rumah kita?" Wanita paruh baya ini nampak senang sekali. Dia mengisi dua gelas untuk diberikan pada suaminya juga untuk Michel.


"Iya. Tadi bapak lihat adek tidur dikuburan. Pas bapak tanya adeknya tidak menjawab. Sama bapak diajak saja kesini. Kasian sudah sore bu." Laki-laki itu menyeruput teh hangat yang disuguhkan istrinya.


"Oh..." Wanita itu kembali tersenyum ke arah Michel.


"Ayo diminum airnya nak!"


"Terimakasih kasih." Michel meneguk air itu hingga habis. Rupanya dia kehausan, karena sejak pagi dia tak sempat minum ataupun makan.


"Wah haus ya? Biar ibu bawakan lagi ya!" Wanita paruh baya itu segera mengambil teko yang berisi teh hangat dan menuangkan kembali ke gelas yang sudah kosong.


"Terimakasih bu." Michel tersenyum malu.

__ADS_1


"Boleh bapak bertanya sama adek?" Ucap bapak tua itu sambil menatap serius pada Michel.


Michel mengangguk.


"Nama adek siapa? Terus adek tinggal dimana?"


"Nama saya Michel pak. Saya tinggal di puri agency pak. Jauh dari sini." Jawab Michel dengan jujur.


"Mmm... "


"Terus kenapa adek tadi tidur di tempat makam?" Tanyanya dengan penasaran. Karena kebanyakan orang memang takut jika berlama-lama berada di kuburan. Ini malah tertidur.


"Saya kangen.. sama bunda saya pak." Lirih Michel pelan.


"Oh... iya ga pa-pa. Bapak kamu masih ada?" Tanyanya ingin tahu keberadaan orang tuanya. Sekilas penampilan Michel yang bersih juga terawat, pastinya masih ada yang merawatnya.


"Ada." Jawab Michel pendek.


"Ayahmu bagaimana nanti kalau mencarimu? Apa sudah dihubungi?"


Michel menggelengkan kepala.


"Ya sudah.. sekarang kita makan dulu ya! Nanti sehabis makan kamu mandi dan ganti baju. Nanti sama ibu dikasih pinjam." Ucap wanita paruh baya yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan.


"Terimakasih kasih bu." Ucap Michel sambil tertunduk. sepasang suami istri itu saling memandang lalu tersenyum. Sepertinya mereka tak bisa langsung menanyakan masalah Michel. Mereka membiarkan Michel untuk tenang dulu.


Di lain tempat Nathan bersama Irwan sudah berada di kantor polisi. Beberapa tempat dan juga rumah teman-temannya sudah didatangi. Tapi hasilnya nihil.


"Apa sih yang sudah bapak lakukan sampai Michel kabur?" Irwan bertanya dengan muka kesal. Karena kemarin Nathan baru berjanji tidak akan berlaku kasar. Eh.. malah sekarang anaknya kabur. Pastinya dia sudah memperlakukan Michel dengan kasar juga.


Nathan tertunduk. Wajahnya kian kusut. Bahkan sejak siang tadi dia belum mengisi perutnya hanya ingin mencari Michel.


Melihat tampangnya yang amburadul, Irwan tidak tega untuk memarahinya lagi. Dia menyodorkan sebotol air mineral dan sebungkus roti.

__ADS_1


"Bapak pastinya belum makan." Irwan menghela nafas agak panjang.


Nathan mengangguk. Dia meneguk air dan menggigit rotinya.


__ADS_2