Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Talak di hari ke 3


__ADS_3

Raisya sekarang tertidur, Jacky perlahan meninggalkan ruangan untuk mengambil baju-baju bersih yang diantarkan Reza di area parkir. Dia melarang Reza untuk datang ke ruangan, agar tak satupun yang tahu kondisi Raisya yang sebenarnya.


Dokter Ferdi yang tahu Jacky meninggalkan ruangan segera masuk ke dalam ruangan Raisya. Dia yang mempunyai kekuasaan bebas keluar masuk tanpa harus melalui perizinan.


Dokter Ferdi mendekati ranjang yang sedang ditempati Raisya. Dia duduk di sampingnya sambil menatap wajah perempuan itu dengan penuh rasa rindu. Perlahan jari-jari tangannya menyentuh pipi Raisya dengan lembut.


Raisya yang sudah tidur terlelap seperti disentuh dalam mimpi. Ujung bibirnya melengkung ke atas merespon sentuhan dari jari-jari dokter Ferdi, dia tersenyum.


Kamu cantik banget Raisya. Aku tak mau kehilangan kamu sayang.


Lirih dokter Ferdi. Dia semakin mendekatkan wajahnya pada Raisya. Ada sesuatu yang tak bisa ditahannya. Entah bisikan apa yang merasuki diri dokter Ferdi, dia perlahan mendaratkan bibirnya di kening Raisya dengan penuh rasa rindu, lalu turun ke bagian mata mengecupnya dengan ringan, lalu sekarang matanya begitu inten melihat bibir Raisya yang terlihat menggoda. Perlahan tapi pasti, dokter Ferdi ingin meraup bibir Raisya. Disentuhnya perlahan, rasa desiran mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Raisya yang sedang tertidur merasakan sentuhan seperti itu, dia ikut menikmatinya. Mungkin di alam mimpi sana dia sedang bercumbu dengan suaminya, yaitu Jacky.


Melihat reaksi Raisya yang menyambut, dokter Ferdi semakin terpancing melakukan ciuman lebih dalam, kini bukan hanya sekedar rindu tapi hasratnya ikut naik ke ubun-ubun.


Kamu sangat menikmatinya Raisya. Aku akan menotok bagian-bagian tertentu agar kamu tetap tertidur dengan nyenyak tanpa terganggu. Kamu akan menikmati apa yang akan aku lakukan.


Bisikan syetan mulai mempengaruhi otak dokter Ferdi yang sudah berkabut nafsu. Tangannya yang lihai segera menotok bagian-bagian tertentu Raisya, agar dia tetap tertidur dan dokter Ferdi bisa melakukan aksinya tanpa Raisya sadari. Sungguh licik cara dokter Ferdi ini yang melakukan ilmunya untuk hal yang tak senonoh.


Dokter Ferdi menikmati tubuh Raisya, setiap sentuhannya tanpa terganggu, dia terus mencumbu Raisya dengan penuh nafsu. Perlahan tangannya mulai meraba bagian dada Raisya, dia meremas bagian gunung kembar dari luar baju. Sesekali Raisya menggeliat, merasakan kenikmatan tanpa dia sadari siapa yang telah menyentuhnya.


"Apa yang kalian lakukan?" Suara bentakan itu membuat dokter Ferdi kaget setengah mati. Hampir saja jantungnya copot, dia ketahuan mesum pada istri orang. Dia segera melepaskan pagutan juga sentuhannya pada Raisya.

__ADS_1


Raisya pun terhenyak begitu bentakan Jacky terdengar, seolah membawa ingatan sadarnya dari alam mimpi. Dia terbangun dari tidurnya lalu meraba dadanya yang kaget seolah tadi dia mendengar petir di dalam mimpinya. Detak jantung Raisya berdegub lebih kencang.


"Oh.. jadi ini kelakuan kalian ya? Kamu menolak aku sentuh, tapi kamu sangat menikmati sentuhan dia. Jadi ini tujuan kamu?" Dengan mata merah juga nafas tersenggal, Jacky meluapkan amarahnya ketika dia memergoki dokter Ferdi dan Raisya saling mencumbu.


Raisya hanya bengong. Dilihatnya orang yang ada di depannya, dokter Ferdi. Sontak dia langsung mundur ke belakang langsung bangkit dari tidurnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda dia ketakutan akan kehadiran dokter Ferdi di depannya.


"Hhh... aku kecewa sama kamu Raisya. Kamu murahan. Sengaja kamu menipu hati aku, agar kamu bisa melindungi kelakuan bejat kamu smaa dia. Kamu pura-pura jadi korbannya, padahal kalian sama-sama menipuku." Jacky mendekati ranjang Raisya dengan sorot mata yang menakutkan.


"Tidak Jacky.. aku... tidak tahu apa-apa, sungguh aku tadi lagi tidur dan aku terbangun tiba-tiba kalian ada di sini." Raisya dengan berbicara tergagap menerangkan apa yang sesungguhnya terjadi. Dia tadi tak menyadari siapa yang menyentuhnya, karena yang dirasakannya semua seperti mimpi.


"Dasar pembohong! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu sangat menikmati sentuhan dia, kamu membalasnya tanpa perlawanan, apa itu namanya hah? Kamu masih bisa berbohong?" Jacky membentak Raisya sampai Raisya meringis dan menutup mukanya saking takut. Tak disangka Jacky bisa semarah itu.


Jacky sangat kecewa melihat orang yang dia cintai melakukan mesum di depan matanya. Padahal semua itu adalah salah paham. Jacky tertipu oleh perbuatan dokter Ferdi yang licik.


Jacky masih bisa memaafkan Raisya yang hamil karena kecelakaan, tapi ketika melihat adegan kemesraan itu di depannya dia tak bisa lagi memaafkan Raisya. Seketika rasa cintanya berubah jadi benci, bahkan sangat benci.


Dokter Ferdi tersenyum puas melihat pasangan itu kini hancur. Bahkan Jacky dengan amarahnya telah menjatuhkan talak di hari ke 3 pernikahannya.


Dada Raisya seperti terlempar beban berat, dadanya terasa sesak hatinya terasa sakit ketika Jacky menjatuhkan talak begitu saja tanpa mendengarkan dulu jawabannya.


"Jacky... " Panggil Raisya dengan mata berlinang mengikuti langkah Jacky pergi.

__ADS_1


Setelah melemparkan paper bag itu, Jacky melangkah pergi dari ruangannya.


Raisya segera mencabut selang infus yang masih terpasang di sebelah lengannya. Darah mengucur begitu saja, dari bekas tusukan jarum infus. Raisya mengabaikan rasa sakitnya dan dengan tergesa-gesa turun dari atas ranjang hendak menyusul Jacky ke luar ruangan.


Begitu turun, tangan Raisya di tahan oleh dokter Ferdi.


"Kamu mau kemana?" Tanya dokter Ferdi dengan cemas. Dia melihat darah bercucuran di lantai ruangan itu.


"Lepaskan! Ini semua karena kamu! Kamu licik Ferdi. Kamu tak pantas jadi manusia." Teriak Raisya meluapkan kemarahannya pada dokter Ferdi.


Dia tahu, pasti dokter Ferdi telah melakukan sesuatu pada dirinya seperti waktu itu sehingga menimbulkan kesalahan pahaman diantara Jacky dan Raisya.


"Tangan kamu berdarah Raisya! biar aku obati dulu!" Ucap dokter Ferdi menahan tangan Raisya.


"Lepaskan! Aku tak sudi diobati sama kamu!" Dengan sekuat tenaga Raisya menghempaskan cengkraman dokter Ferdi dari tangannya.


Untungnya tadi dia sempat diinfus sehingga. badannya sekarang agak bertenaga. Raisya berlari mengejar Jacky yang telah lebih dulu keluar dari rumah sakit.


Dengan menahan sakit di satu tangannya Raisya mengedarkan pandangan mencari Jacky. Sesekali dia bertabrakan dengan orang yang didepannya demi mengejar langkah Jacky. Terlihat punggung Jacky sudah berada di arah pintu keluar rumah sakit.


"Jacky... " Raisya berteriak histeris memanggil Jacky begitu Jacky menaiki taxi.

__ADS_1


__ADS_2