
Hendrik tahu bahwa Raisya menolak ciumannya. Tapi kerena dia pemain ulung dalam masalah penaklukan seorang wanita. Dia terus saja menikmati bibir Raisya layaknya candu. Dia tahu Perempuan mana yang akan tahan kalau terus-terusan disentuh seperti itu. Meski hatinya menolaknya tapi reaksi tubuh manusia tidak akan menolak sengatan arus listrik ion positif dan negatif saling bersengatan.
Raisya sekuat imannya menahan gejolak itu. Dia mendorong buat badan Hendrik tapi Hendrik malah mengencangkannya. Raisya memejamkan matanya lalu kelopak matanya mengeluarkan airmata yang sampai meleleh menyentuh di wajah Hendrik.
Hendrik yang sedang menikmati sebuah bibir Raisya segera tersadarkan dengan air bening yang menyentuhnya. Hendrik segera melepaskan pagutannya dari Raisya.
"Maaf.. aku khilaf Sya!" Hendrik menghapus air mata yang meleleh di pipi Raisya.
"Aku.. jemput anak-anak kak." Raisya kelopak matanya sambil menjauhkan tubuhnya dari Hendrik.
"Iya.. kita jemput sekarang." Mengusap. wajahnya kasar dan menetralkan pikirannya. Dia langsung meneguk sisa air mineral yang ada di botol lalu menyusul Raisya. Keduanya keluar dari apartemen dan menuju lift untuk pergi ke parkiran.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam. Tak ada satupun yang berani bicara. Kecanggungan di antara keduanya begitu lama terasa. Hendrik bingung untuk bicara begitupun Raisya.
Buat Raisya ini adalah ciuman pertama yang didapatkannya dengan lembut. Dulu sewaktu ada Nathan dia pernah juga disentuh tapi caranya kasar sekali. Itupun karena Nathan sedang diliputi amarah dan ingin mem***nya. Al hasil Raisya sangat trauma jika mendapatkan respon seperti tadi.
Ya kejiwaan Raisya belum sembuh dari rasa takut akan kejadian yang pernah menimpanya dulu. Dua kali Nathan menyentuhnya, itupun dengan cara kurang manusiawi. Bukannya menghasilkan kenikmatan malah kesakitan yang di dera Raisya.
Tak lama kemudian mobil. yang dikendarai Hendrik sampai di sekolah Arsel juga si kembar. Keduanya turun dari mobil.
Terlihat beberapa anak sudah keluar dari kelasnya. Pandangan Raisya menajam mencari keberadaan Arsel.
Berbeda dengan Hendrik. Dia terlihat santai. Dia menyandarkan tubuhnya pada mobil dan berselancar dengan handphonenya. Tubuhnya yang ideal, dan wajahnya yang tampan dan pembawaannya yang pura-pura cool terlihat sangat menarik di mata beberapa perempuan termasuk para mahmud yang sedang antar jemput anaknya.
Beberapa pasang mata sempat melirik pada Hendrik dan beberapa lagi malah tak bisa lepas dari dirinya.
"Mama... " Teriakan Arsel terdengar disusul dengan teriakan si kembar yang kompak memanggil "Bunda.... "
"Eh... kalian... sudah beres belajarnya?" Tanya Raisya ramah.
"Sudah bun.. malah tadi kita duluan." Jawab si kembar laporan.
"Wah... bagus."
"Gimana belajar nya menyenangkan?" Tanya Raisya.
__ADS_1
"Kalau kita menyenangkan... tapi. kita tadi lihat Arsel malah murung Bun." Si kembar aktif melaporkan.
"Oh.. ya? Kenapa?" Raisya melihat pada Arsel.
"Mama.. aku ingin pulang ke rumah. Aku kangen sama papa." Arsel ternyata rindu sama Irwan.
"Ya ampun.. dikira mama kenapa?" Arsel segera dipangku kepangkuan Raisya. Sekarang tubuhnya bertambah berat, sehingga Raisya agak kewalahan mengangkat tubuh Arsel.
"Bunda.. mau pulang ke rumah? Kita juga kangen bunda ya?" Si kembar saling menatap mengiyakan apa yang dikatakannya.
"Iya.. InsyaAllah. Tapi bunda mau jemput kak Michelle dulu ya!" Ucap Raisya pada si kembar.
"Oke kita tunggu ya!" Si kembar langsung berlari mendekati Hendrik yang sudah siap untuk menjemput si kembar.
"Uncle... " Keduanya memeluk Hendrik.
"Eh cantik. Ayo kita pulang! Mama kamu udah gak sabar menunggu kalian pulang." Hendrik membuka pintu belakang mobilnya untu si kembar.
"Yeyyy... " Keduanya kompak bersorak.
"Arsel... kita tunggu ya! Nanti kita main tenda-tendaan yuk!" Si kembar melongok dari jendela.
"Ayuuu... " Arsel antusias menjawab karena selama ini bermain dengan si kembar sangat menyenangkan. Jarang diantara mereka bertengkar. Kalau pun bertengkar kedua orang mereka langsung memberi pengertian agar mereka harus selalu rukun.
"Kita duluan ya!" Mobil. yang dikendarai Hendrik melaju lebih dulu. Hendrik tak melirik sedikit pun pada Raisya.
Raisya yang sejak awal setia berdiri melihat si kembar agak heran melihat sikap Hendrik yang langsung cuek.
Biarin lah.. emang gue pikirin apa?
Raisya langsung membuka pintu mobil dan menurunkan Arsel.
"Ayoo masuk!" Perintah Raisya pada Arsel. Anak itu menurut.
Raisya masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman terlebih dahulu untuk Arsel. Setelah itu bergilir pada sabuk yang ada di kursi pengemudi.
__ADS_1
Raisya melajukan mobilnya menuju sekolah Michel.
"Ma.. ini mau kemana?" Arsel yang duduk di sebelah kiri Raisya melihat pada ibunya menanyakan akan kemana mobil ini menuju.
"Mama mau jemput kakak sayang... Habis itu kita pergi ke rumah om Irwan." Jelas Raisya sambil melirik sebentar pada Arsel lalu kembali melihat ke jalanan.
"Yeeyyy... Acel belum liat ma cekolah kakak. Aku juga ingin cekolah cama kakak." Arsel terlihat senang diajak ke sekolah Michel malah yang lebih lucunya anak itu dengan cadel mengatakan bahwa dirinya ingin sekolah di sekolah kakaknya.
"Ha ha... " Raisya tertawa mendengar Arsel mengatakan itu.
"Napa mama ketawa?" Arsel belum mengerti apa yang telah ditertawakan oleh Raisya.
"Kamu tuh lucu sayang... " Jawab Raisya yang masih menertawakan Arsel.
"Lucu napa ma?" Arsel masih penasaran kenapa ibunya tertawa.
"Habis kamu masih kecil, tapi pengen sekolah di sekolah kakak. Nanti kalau kamu sudah besar baru sekolah di sana. Sekarang sekolahnya sama Rara dan Riri saja." Raisya tidak menyangka bahwa Arsel begitu menyukai Michel kakaknya.
"Gak mau ah. Acel bocen. Cekolahnya banyak anak kecil. Acel mau cama kakak micel saja. Mama beliin makan acel yang banyak bual Acel makannya banyak bial cepet becak jadi bica cekolah cama kakak." Anak itu terus saja bicara tentang apa. yang ada dalam pikirannya.
"Iya sayang... mama. tampannya daddy... " Raisya tiba-tiba menyebutkan kata daddy.
"Mama... kok nyebut daddy.. daddy kan udah meninggal ma." Arsel menoleh pada Raisya.
"Eh iya ya.. he he.. napa mama nyebut daddy ya?" Raisya bingung sendiri.
"Mama inget daddy ya?" Arsel yang belum lama ini baru temu dengan Nathan belum bisa merasakan kehilangan ayahnya. Karena selama ini dia diasuh oleh Irwan.
"Mmm.. iya.. mama kali lagi inget sama daddy." Jawab Raisya dengan menahan rasa sedih agar tidak keliahatan oleh Arsel.
"Ma... itu... kakak." Arsel melihat Michel sedang berjalan di luar gerbang sekolahnya.
"Mana?" Raisya menoleh melihat apa. yang ditunjukkan Arsel.
Raisya menepikan mobilnya. Lalu melihat ke belakang.
__ADS_1
"Arsel tunggu ya! Mama mau menyusul kakak Michel dulu." Raisya buru-buru keluar hendak menyusul Michel.