
"Raisya.. " Suara panggilan bu Mia terdengar jelas memanggil Raisya.
"Iya bu." Semula Raisya yang terasa lesu di atas meja kerjanya langsung berdiri ketika atasannya memanggil.
Raisya langsung menghampiri bu Mia yang sudah berdiri di depan pintu ruangan kerjanya.
"Raisya tolong kasihin berkas ini pada pak Adam! Katanya pak Adam akan menunggu di sana untuk memeriksa berkas sebelum ditandatangani. Terus habis itu kamu bawa juga berkas yang dari divisi pemasaran. Katanya ada file yang mesti aku tinjau. Pak Nathan akan ke sana juga. Aku manggil si Jacky tapi gak tau kemana. Handphone nya malah ada di atas meja." Bu Mia menyerahkan berkas yang akan dibawa ke pak Adam pada Raisya.
"Baik bu. Akan saya antarkan ke sana. Ada yang perlu saya kerjakan lagi bu?" Raisya memeriksa jika saja ada yang mesti dia lakukan lagi setelah ini.
"Untuk sementara ini, belum ada Raisya. Nanti saya kabari ya!" Bu Mia lalu masuk kembali ke dalam ruangan karena di sana masih ada pengacara perusahaan yang sama-sama sedang memeriksa beberapa berkas perjanjian yang akan dipakai untuk kepentingan perusahaan berkenaan dengan datangnya para model.
Raisya sejenak melupakan masalahnya. Pikirannya memang harus difokuskan untuk sibuk bekerja agar tidak memikirkan hal-hal yang sifatnya masalah pribadinya.
Raisya hendak mengantarkan berkas yang barusan diberikan bu Mia ke ruang rapat di lantai 25. Pintu lift terbuka Raisya pun masuk. Tak lama kemudian sebuah bunyi pemberitahuan langsung terdengar, dan pintu pun terbuka lebar. Raisya berjalan keluar menuju ruang rapat yang ada satu lantai dengan ruang direktur utama, divisi pemasaran, juga ruang rapat.
Lorong di lantai ini memang sepi tidak seperti lantai-lantai lainnya yang ramai karena karyawan-karyawan divisinya memang banyak.
Raisya berjalan ke depan menuju ruangan rapat. Tanpa dia sadari seseorang sedang berjalan menuju arah yang sama walau langkahnya tertinggal di belakang.
Raisya menghentikan langkah begitu sampai di depan pintu ruangan. Pintu sudah terbuka walau tidak besar. Raisya tidak langsung masuk ke dalam, karena terdengar ada orang yang sedang berbincang-bincang di dalamnya. Raisya hanya menunggu di depan pintu sampai orang itu selesai bicara.
Walau tidak menguping pembicaraan tapi telinganya mendengar jelas dari obrolan dua orang yang ada di dalam sana.
"Please... Je... aku masih mencintai kamu. Buat aku, kamu adalah cintaku selamanya."
__ADS_1
"Palsu!"
Raisya terhenyak. Dia mengenali suara itu walau tanpa melihat wajahnya.
"Je... apa kamu masih tidak memaafkanku? Bagaimana aku harus menjelaskannya? Bahkan aku sudah membenci anakku sendiri juga diriku. Apa itu tidak cukup Je untuk membuktikan kesetiaanku padamu? Bahkan selama ini aku tidak berhubungan dengan laki-laki manapun Je demi kamu!" Terdengar suara itu menyiratkan kesungguhan.
"Aku tak tahu Sher... entahlah sampai saat ini aku.. masih tidak bisa memaafkan kamu yang telah berhubungan dengan laki-laki itu. Rasanya masih sakit dada ini." Ada perasaan sedih yang mengalir bersamaan dengan pembicaraannya.
"Please Je.. kamu sendiri tahu.. aku harus menyembunyikan semuanya dari publik mengenai kelainan dia. Itu benar-benar murni kecelakaan. Bahkan ayahmu pernah menawarkan sejumlah harta padaku jika aku mau menikah dengannya. Tapi tidak Je.. dia itu gila. Aku bisa mati sia-sia. Makanya aku memutuskan semua pemberian ayahmu dan memilih berjuang dengan jalanku sendiri. Aku harus membenci diriku sendiri yang telah melahirkan anak itu. Kalau bukan karena ancaman mana mungkin aku mau melahirkan." Terdengar isak seorang wanita menahan sedih.
Raisya hanya terdiam di depan pintu tanpa tahu harus berbuat apa.
"Sudahlah..!"
"Apakah kita akan mencoba lagi Je? Setelah kontrak ini habis aku tidak akan melanjutkan karier ku di dunia model. Mari kita menikah memulai hubungan baru. Aku akan setia menemanimu menjadi seorang istri. Apakah kamu mau Je?"
Hening.
"Kenapa kalian masih berdiri disitu?" Suara itu mengagetkan dua orang yang yang sedang mematung di depan pintu. Raisya yang sejak tadi berdiri sambil menundukkan tidak menyadari kedatangan Adam dari Belakang. Dan Nathan yang berdiri menyamping di belakang Raisya sama halnya tidak menyadari kedatangan Adam karena fokus mendengarkan dua orang yang sedang berbicara di dalam ruangan itu.
Adam yang tak tahu ada orang di dalam ruangan langsung membuka pintu itu lebar.
"Eh.." Spontan Raisya kaget ingin mencegah tangan pak Adam tapi kalah cepat dengan reaksi Adam.
Begitu pintu terus buka lebar. Tiga pasang mata melihat jelas dua orang berlainan kelamin sedang melakukan pagutan bibir.
__ADS_1
Saking asiknya mereka tidak menyadari perbuatan nya sedang dilihat oleh tiga orang yang ada di depan pintu.
"Ehem.. ehem." Adam berdehem sambil memalingkan muka ke arah lain.
Sedangkan Raisya menunduk melihat ke lantai seolah dia sedang berbicara dengan makhluk yang ada di bawah kakinya.
Nathan menatap tajam, matanya seakan tak ingin lepas dari dua orang yang sedang menumpahkan perasaan lewat kedua bibirnya. Hatinya ikut bergemuruh dan emosinya seakan pergi dengan cepat ke ubun-ubun untuk meledak. Pemandangan ini bukan kali pertama Nathan lihat. Karena sebelumnya pun Nathan sering melihat mereka melakukannya.
Setelah suara deheman Adam, keduanya melepaskan pagutan bibirnya masing-masing. Spontan keduanya melihat ke arah pintu dan masing-masing dari keduanya kaget bukan kepalang.
"Raisya.. ada yang ingin kau berikan?" Adam. pura-pura tidak terganggu dengan aksi sepasang kekasih yang baru saja aksinya kepergok.
"Oh iya Pak! Ini!" Raisya menyerahkan berkas tanpa melihat langsung ke wajah Adam. Cairan bening dengan cepat berkumpul di ujung kelopaknya. Raisya ingin menahannya sebelum dia keluar dari ruangan itu.
Adam langsung menerima berkas itu dan melihat Raisya dengan tatapan iba.
"Saya permisi pak!" Raisya langsung membalikan badan namun naas wajahnya malah menubruk dada bidang Nathan yang sejak tadi ada di belakangnya.
"Ra... " Bibir Jacky tiba-tiba memanggil Raisya.
Tapi dengan cepat Nathan menggenggam tangan Raisya dengan keras dean setengah menyeretnya berbalik arah, keluar dari ruangan itu. Raisya agak terhuyung karena langkah Nathan tak seimbang dengan badan Raisya yang agak lebih pendek tingginya dari Nathan.
"Ra.. tunggu!" Jacky langsung berlari mengejar Raisya yang diseret Nathan. Dan langsung meraih pergelangan tangan Raisya dengan cepat.
Nathan dengan emosinya yang memuncak sering lupa diri jika terpancing amarah. Dia menarik keras Raisya tanpa memperdulikan bahwa yang ditariknya kesakitan. Apalagi sebelah tangan Raisya kini ditarik tak kalah keras dengan Jacky.
__ADS_1
"Lepaskan!" Raisya berteriak sambil menahan sakit karena telah ditarik oleh dua orang secara berlawanan. Tapi tak ada satupun yang mau mengalah. Raisya meringis kesakitan.