
Setelah sebulan Ratna menjalani terapi pada psikolog tiba-tiba tanpa diduga berita kematian Raisya datang begitu menyayat hatinya. Dia tak percaya sahabat baiknya meninggal dengan cara tak wajar. Kenapa tak wajar, karena tak satupun diperkenankan melihat peti mati itu. Katanya mayatnya tidak wajar karena jatuh dari ketinggian. Dan anehnya lagi tak ada satupun yang bisa melaporkan kepada pihak kepolisian karena pihak keluarga tidak mengizinkan untuk autopsi.
Awalnya Raisya hanya bisa dilihat sekilas ketika pertemuannya dengan dokter Sarah. Dan kini Ratna bisa melihatnya lagi disini, tepatnya di rumah Raisya sahabatnya dulu. Apa itu tidak terlalu janggal?
Sungguh ini membuat Ratna bertanya-tanya.
Setelah tiga tahun kematian Raisya, Ratnarutin mengunjungi ibunya Raisya. Dia tidak memutuskan tali silaturahmi dengan ibunya Raisya. Bahkan dia tiap bulan rutin memberikan uang untuk ibunya Raisya menggantikan posisi sahabatnya yang telah meninggal.
"Ah... leganya." Raisya tanpa beban keluar dari toilet sambil mengusap-usap perutnya.
"Hi.. kenapa kalian pada bengong begini?" Raisya mengamati dengan detail semua orang yang ada di ruangan makan.
Semua yang ada di ruang makan menatap aneh. Ada juga menatap meringis, karena takut identitas Raisya sebenarnya terungkap.
"Kalian kenapa?" Raisya malah bertanya pada orang-orang yang sedang menatapnya.
Ih.. kumaha ieu teh? Duh Sarah.. mamah lieur kudu ngajelaskeun ka Ratna kudu kumaha?
(Duh bagaimana ini? Sarah.. mamah pusing harus bagaimana menjelaskan pada Ratna)
Ibunya Raisya menutup wajahnya tidak sanggup harus menghadapi kenyataan, bahwa Ratna pasti membutuhkan penjelasan. Mau berbohong, tapi apa alasannya? Mau jujur juga bingung harus bagaimana menjelaskannya.
"Raisya.. " Ratna menghampiri Raisya lebih dekat. Dia menatap dari atas sampai bawah Raisya dari dekat. Tangannya mengelus wajah Raisya dengan lembut memastikan apakah dia orang yang pernah dikenalnya?
Matanya sedang menilai dengan detail Raisya. Tapi tak terlihat orang yang sedang berdiri di depannya mengenalinya.
Raisya yang diperlakukan aneh oleh Ratna merasa aneh juga risih.
"Hei.. kamu siapa?" Raisya pun melakukan hal sama sedang menilik Ratna dari atas sampai bawah.
"Kamu yang waktu di mall kan?" Raisya masih mengingat pertemuan pertamanya dengan Ratna sewaktu belanja di mall.
"Iya aku Ratna, kita pernah bertemu di mall. Lalu kamu sedang apa disini?" Tanya Ratna pada Raisya.
Seseorang sedang memberi isyarat dengan menyimpan telunjuknya di atas bibir.
Raisya mengerutkan dahi. Sedang berpikir apa yang harus dijawabnya.
"Hmmm.. aku sedang menghibur mamah. Kasian kan mamah Raisya selama ini suka ngangenin Raisya yang sudah meninggal. Kebetulan namaku sama, dan mamahnya Raisya juga kenal dengan kak Sarah jadi aku.. ya.. dibawa kesini sama kak Sarah." Raisya mengarang cerita agar Ratna percaya.
"Dokter Sarah? Kenapa dia kenal sama ibunya Raisya? Sekarang dimana dia?" Ratna tak pantas percaya cerita yang dikarang Raisya.
"Ada.. lagi tidur. Dia kecapean." Ucap Raisya datar.
__ADS_1
Ups.. apa dia percaya dengan cerita bohongku? Bagaimana kalau dia terus menerus bertanya? Habislah aku
Raisya bermonolog.
"Ayo kamu duduk! Kamu pasti pegal kan? Apalagi hamil besar begini!' Raisya menuntun Ratna ke kursi. Tidak tega membiarkan ibu hami berdiri lama.
'Ih... lucunya perut kamu!" Raisya malah memeluk perut Ratna yang terlihat lucu. Terlihat besar dari ukuran normal karena sedang mengandung bayi kembar. Dan beberapa kali mendaratkan ciuman di atas perut Ratna. Spontan Ratna merasa geli juga bayi yang dalam kandungannya mendadak membuat pergerakan yang cukup keras.
"Awww... " Ratna meringis menahan pergerakan bayinya.
"Eh.. kenapa?" Raisya kaget. Dia melihat seperti ada gelombang menggelembung di atas perut Ratna.
"Kenapa sayang?" Irawan dengan sigap mendekati Ratna. Khawatir dengan apa yang dirasakan istrinya.
"Babynya bergerak keras. Aku jadi geli sama agak gak nyaman." Imbuh Ratna.
"Cup.. cup.. " Raisya malah mengelus halus perut Ratna. Pergerakan bayinya mulai melunak dan kembali tenang.
"Wah.. ini mah kaya ngajak kenalan sama aku.. he he." Raisya tertawa. Ratna pun ikut tersenyum melihat sikap Raisya.
"Ratna..Irwan.. ayo makan!" Ibunya Raisya boleh tenang sejenak setelah Raisya dengan cerdas mengungkapkan alasannya kenapa dia berada disini.
"Kamu makan dulu! Kalian pasti lelah." Ucap Raisya pada Ratna dan Irwan.
"Aku tidak lapar. Aku.. ingin ngobrol sama kamu!" Ucap Ratna yang masih banyak menyimpan penasaran.
"Aku mau makan tapi.. " Ucapannya sebagian menggantung di udara.
"Tapi apa? Pengen disuapin?" Raisya asal menebak.
Ratna mengangguk senang.
"Ya elah.... bumil manja." Raisya menggelengkan kepalanya. Ternyata tebakannya benar.
"Ya udah.. aku ambilkan ya!" Irwan langsung ke belakang menuju ruang makan mengambil nasi dan lauk pauk untuk Ratna. Dan tak lama kemudian dia mendekati Ratna juga Raisya.
"Biar aku saja yang menyuapi!" Ucap Irwan tidak enak kalau harus merepotkan.
"Aku gak mau! Aku mau disuapin Raisya!" Ucap Ratna dengan bibir cemberut.
"Ya udah.. biar sama aku saja ayah baby! Takut baby nya ngamuk." Raisya mengambil piring yang sedang dipegang Irwan.
"Duh.. maaf ya istriku bikin repot kamu!" Irwan berbasa-basi.
__ADS_1
"Gak.. pa-pa. Bumil memang suka aneh-aneh permintaannya." Ucap Raisya tak ingin Irwan merasa sungkan.
"Iya terimakasih!" Jawab Irwan mengucapkan terimakasih.
"Kamu makan aja dengan tenang! Biar istrimu aku suapin." Ucap Raisya pada Irwan.
"Iya." Irwan berlalu ke ruang makan bergabung dengan keluarga besar Raisya.
"A.. " Raisya mendekatkan sendok ke bibir Ratna yang sudah terisi penuh nasi dan lauk pauk.
Ratna langsung membuka mulutnya.
"Kapan perkiraan melahirkan?" Raisya bertanya pada Ratna seputar waktu kelahiran sambil kembali mengisi sendoknya.
"Bulan ini." Jawab Ratna datar.
"Lah.. kenapa masih pergi-pergi an sih? Kalau brojol di jalan bagaimana?" Heran Raisya.
"Justru aku mau minta doa dulu sama mamah sebelum melahirkan. Biar aku tenang. Dulu waktu kematian Raisya aku tak sempat bertemu dulu. Aku menyesal sampai sekarang" Ratna tertunduk sedih. Matanya berkaca-kaca bayangan masa lalu tentang Raisya kini hadir dalam pikiran Ratna.
"Ishh.. bumil tidak boleh sedih! A lagi!" Raisya yang membaca raut sedih Ratna, merasa bersalah telah menanyakan hal itu.
"Kamu.. tinggal dimana?" Tanya Ratna.
"Aku tinggal dengan kak Sarah di Amerika." Jawab Raisya.
"Lalu sekarang ke Indonesia?"
"Ada pekerjaan."
"Kamu bekerja sebagai apa?"
"Selebgram."
"Wah pantes aja kamu cantik banget." Ucap Ratna kagum.
"Biasa aja."
"Boleh aku follow?" Ratna langsung membuka akun Instagramnya.
"Sini aku ketik!" Raisya mengambil handphone Ratna lalu mengetik nama akunya dan menyodorkannya kembali.
"Wah.. kau hebat ih... sudah lama jadi selebgram?"
__ADS_1
"Dua tahun."
"Dua tahun?"