Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Gak mau papa baru


__ADS_3

"Kamu gemeshhh.. " Raisya langsung menggelitik Arsel dengan gemesh.


"Whoaha ha.. mama ampun. Acel ga kuat." Anak itu minta ampun karena tidak kuat untuk digelitik.


Di tempat lain tuan Robert sedang menerima telepon dari Adam.


"Kalian serius mau rujuk?" Tuan Robert menanyakan kembali pada Adam tentang keseriusannya untuk rujuk.


"Iya pih. Kami akan menikah di depan kantor dan mengadakan syukuran kecil-kecilan. Apa papih dan mamih bersedia datang?" Adam rupanya bukan hanya memberitahu tapi mengundang keduanya untuk datang.


"Mmm... maaf kayanya papih sama mamih belum bisa datang. Nanti saja kalian datang ke Indonesia, kami akan mengadakan pesta." Ucap tuan Robert yang tak bisa memenuhi undangan putranya.


"Tidak apa-apa pih. Adam mengerti kok. Sekarang papih sama mamih pastinya repot sedang mengurus Jacky. Kami hanya minta doa restu kalian." Ucap Adam ingin meminta doa restu kedua orang tuanya.


"Iya papih sama mamih hanya bisa berdoa, Semoga pernikahan kalian langgeng dan harmonis. Jangan mengulang kesalahan yang lalu! Cintai istrimu sepenuh hati! Mmm.. bagaimana dengan ibunya Sarah?" Tuan Robert mengingatkan Adam akan besannya yaitu ibunya Sarah sekaligus ibunya Raisya.


"Kami sudah minta izin pih. Katanya tak bisa darat. Tapi kan ayahnya Sarah ada di sini. Jadi bisa jadi wali buat kami berdua." Adam terlebih dahulu sudah meminta izin pada ibunya Sarah dan ayahnya sebelum mereka bersepakat untuk rujuk kembali.


"Ya sudah kalau begitu. Maaf papih tidak bisa hadir." Dalam dada tuan Robert seperti ada yang terlepas satu beban yang menghimpitnya selama ini. Bahwa anak sulungnya kini bisa menikah dan rujuk kembali dengan Sarah.


"Iya pih. Terimakasih. Salam kangen buat adikku Jacky pih!" Adam memberi salam buat adiknya Jacky yang sekarang sedang menunggu persiapan operasi besok hari.


"Iya." Jawab tuan Robert. Tak lama kemudian telepon pun ditutup setelah Adam berpamitan.


Di rumah sakit, hari ini dokter Ferdi merasa gelisah. Pasalnya pesan-pesannya tidak dijawab, juga teleponnya pun tidak aktif.


"Kenapa Raisya tidak menjawab pesan-pesanku?" Dokter Ferdi hanya bergumam sendiri.


"Apa mesti aku datangi saja ke rumahnya?" Dokter Ferdi berinisiatif untuk mendatangi rumahnya setelah nanti selesai bekerja.


Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya di rumah sakit, dokter Ferdi melihat jam tangannya. Waktu kerjanya susah habis. Dia segera mengganti baju formalnya dan menggantung di lemari besi. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu Raisya di rumahnya. Dia berharap-harap cemas.


Setelah mengemudikan mobilnya, tibalah mobilnya di depan rumah Raisya yang letaknya di blok awal di komplek mewah itu. Mobilnya sengaja berhenti. Dia segera mematikan mesin mobil dan membuka safety belt. Matanya menajam mengarah ke dalam pagar.

__ADS_1


"Sepertinya mobilnya ada. Tapi apakah dia ada di dalam?" Lagi-lagi dokter Ferdi bicara sendiri, menerka-nerka keberadaan Raisya.


Dia turun dari mobilnya dan mendekati gerbang yang dijaga mang Syarif.


"Assalamu'alaikum." Dokter Ferdi menuju pos penjagaan.


"Waalaikumsalam. Eh pak dokter. Ada yang bisa saya bantu pak?" Mang Syarif yang sudah mengenali dokter Ferdi tersenyum ramah menanyakan kedatangannya.


"Mmm.. bu Raisya ada mang?" Tanya dokter Ferdi dengan matanya malah melihat ke dalam.


"Maaf Pak dokter. Bu Raisya tidak ada di rumah. Dia sedang di mansion utama." Jawab mang Syarif.


"Maksudnya?" Dokter Ferdi mengerutkan dahi.


"Iya.. sedang di rumah tuan besar, tua Robert." Jawab mang Syarif.


"Ohh.. kalau boleh tahu kapan mereka pulang?" Dokter Ferdi terlihat kecewa, karena Raisya tidak ada di rumahnya.


"Sudah mang, tapi tidak aktif." Dokter Ferdi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sekarang pikirannya malah bingung. Apa. ada yang sedang terjadi dengan Raisya? Sehingga teleponnya tidak aktif.


Mang Syarif yang melihat dokter Ferdi masih berdiri dengan kebingungan, tidak tahu harus bagaimana. Mengusirnya? Oh itu tidak mungkin. Karena dokter Ferdi belum mengganggunya. Diam-diam mang Syarif memberi pesan pada Michel, menyampaikan tentang dokter Ferdi yang bertandang ke rumahnya. Apakah harus disuruh pergi atau bagaimana?


Tling


Tling


Sebuah notifikasi masuk di handphone mang Syarif. Untungnya dokter Ferdi tidak curiga. Mang Syarif membuka pesan.


"Mang kata mama. Jangan bilang apa-apa. Kalau sudah tidak ada kepentingan suruh pulang aja!"


"Maaf dokter Ferdi ada pesan tidak untuk bu Raisya? Mungkin bu Raisya sedang sibuk. Jadi susah dihubungi." Mang Syarif dengan halus mengusir dokter Ferdi. Sebenarnya dia merasa kasihan juga melihat dokter Ferdi. Karena waktu itu bu Raisya pernah ditolongnya.


"Oh.. tidak mang." Dokter Ferdi tersenyum tipis.

__ADS_1


"Mmm... saya pulang dulu ya mang. Kalau ketemu bu Raisya tolong sampaikan salam saya aja!" Dokter Ferdi benar-benar bingung harus bicara apalagi.


Mmm... pak. dokter sepertinya naksir bu Raisya ya? Hmmm... tak semudah itu Ferdi.. lewati dulu kandang Singa nya.


Mang Syarif tersenyum sendiri, menertawakan lamunannya.


Memang tidak mudah melewati keluarga tuan Robert. Selain mereka orang kaya yang punya kekuasaan. Raisya pun sepertinya tidak mudah menikah lagi karena dia memegang ahli waris dari keturunan Alberto.


"Iya pak dokter. Nanti saya sampaikan." Mang Syarif kembali memasang muka serius.


Kenapa. mang Syarif seperti menertawakan aku ya? Apa ada yang lucu?


Dokter Ferdi bercermin lewat kaca spionnya. Melihat wajahnya khawatir di mukanya ada sesuatu yang membuat mang Syarif tersenyum seperti itu.


"Ah tidak apa-apa. Aku masih normal-normal saja." Ucapnya sambil membolak-balikan wajahnya di depan cermin.


Mobil dokter Ferdi pun berlalu dari depan rumahnya. Mang Syarif kembali memberitahu kepergian dokter Ferdi pada nomor Michel.


"Mama kenapa. dengan dokter Ferdi? Dokter Ferdi naksir mama ya?" Michel mempertanyakan hubungan antara Raisya dan dokter Ferdi.


"Mmm.. sudahlah. Sekarang kamu mandi, terus sholat. Abis itu kita makan sama-sama ya!" Raisya tidak menjawab pertanyaan Michel malah menyuruhnya mandi, karena sebentar lagi sudah mau menjelang magrib.


"Tapi jawab dulu ma! Mama naksir tidak sama dokter Ferdi?" Michel malah terus melayangkan pertanyaan.


"Eh.. bocil kenapa sih? Malah nanya-naya itu? Sekarang anak mama mandi. Jangan tanya-tanya taksir-taksir. Emangnya mama kamu masih abg?" Raisya tidak mau terus terang mengenai hal itu pada Michel.


"Ah.. mama." Michel melengos ke kamar mandi.


"Mama naksir itu apa ma? Mama mau nikah cama om Feldi?" Arsel yang mendengar kakaknya tadi ikut-ikutan bertanya.


"Aih... bocil. Mama kitik-kitik lagi mau gak?" Ancam Raisya.


"Acel gak mau papa balu!"

__ADS_1


__ADS_2