Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Selamat tinggal Raisya


__ADS_3

"Daddy.. buka pintunya! Daddy sama bunda lagi ngapain?" Michel mengetuk pintu kamar Nathan.


Nathan yang sedang terhanyut terbawa emosinya langsung melepaskan Raisya.


Mukanya Nathan merah matang. Mungkin semua aliran darahnya barusan sedang berkumpul di kepalanya terangsang oleh aksi brutal yang sedang dinikmati sepihak.


Nathan segera bangkit membetulkan penampilannya di kaca cermin, agar Michel tidak mencurigainya.


Lagi-lagi Raisya diselamatkan oleh panggilan Michel. Raisya menghapus airmata kesedihannya. dan mengelap bibirnya yang baru saja di*** oleh Nathan.


"Aww.. " Raisya meringis ketika jarinya menyentuh bibir bawahnya. Sepertinya bengkak dan terluka.


Setelah dirasa aman, Nathan membuka kunci kamarnya.


Dia memaksakan tersenyum begitu daun pintu kamarnya terbuka melihat Michel.


"Daddy mana bun.. " Suara Michel separuh tertahan di udara manakala Raisya langsung menubruk Michel memaksa keluar dari kamar Nathan. Kedua pasang mata beda usia itu terhenyak melihat pergerakan Raisya yang begitu cepat melewati keduanya.


Raisya langsung bangkit ketika pintu kamar Nathan terbuka dan lari seolah mengambil kesempatan untuk melarikan diri.


"Ahhh... buk buk buk buk buk Brukkk."


Suara hentakan di anak tangga membuat semua orang yang ada di dalam rumah Nathan kaget. Suara itu bukan datang dari hentakan kaki seseorang melainkan tubuh yang terguling-guling melewati anak tangga yang ada di dalam rumah itu.


Sejenak hening seolah waktu berhenti melewati masa. Lalu kembali pulih ketika kesadaran manusia yang ada di rumah itu kembali pada tempatnya.


"Bunda.... " Teriakan histeris Michel segera menggemparkan seisi rumah dan langsung seketika orang yang berada di rumah Nathan berkumpul di satu titik menyaksikan tragedi naas. Semua mata menatap kaget. Mata mereka membulat dan mulut mereka ternganga menarik kesadaran mereka pada tubuh yang sudah tergeletak dibawah anak tangga terakhir. Tak ada satupun yang berani mendekati Raisya.


"Ahhhhh.... " Michel langsung berlari menuruni anak tangga begitu melihat Raisya terkapar tak berdaya dengan darah yang bergelimang di lantai.

__ADS_1


"Bunda... huaw huaw huaw... " Tangis Michel yang seperti gempa kini menyeruak memenuhi ruangan.


Badannya yang kecil memeluk tubuh wanita yang sudah selama mengisi hatinya dengan tangisan pilu. Rasa sedih, syok juga takut kehilangan menjadi satu bergemuruh dalam dada Michel.


"Bunda... jangan mati!" Suara pilu Michel terlampau menyakitkan didengar oleh orang dewasa yang kini berdiri mematung di depan kamarnya.


"Raisya.. " Dia berkata pelan, syok. Aku... " Matanya menatap wanita yang tadi sedang bersamanya. Rasa kaget, menyesal dan ketakutan terhimpun menjadi satu dalam pikirannya. Jantungnya seolah sedang lomba maraton memacu darah dengan cepat. Badannya gemetar, keringat dingin memaksa ingin keluar dari lubang-lubang kecil tubuhnya ketika melihat darah yang membanjiri di lantai. Dia menggigit bibirnya tak mampu melihat orang yang mulai masuk di kehidupannya kini harus jad korban dirinya.


Persekian detik raga itu sudah berpindah tempat dan tergeletak tak berdaya.


"Ada apa ini?" Reza yang baru masuk karena mendengar teriakan Michel terhenyak kaget melihat sosok yang tadi sedang bersedih kini tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah.


Reza duduk langsung memeriksa nadi Raisya di leher.


"Mbak Ina.. tolong bawa Michel dulu!" Reza menyuruh Ina membawa Michel agar dia tak terlalu lama menyaksikan Raisya dengan kondisi mengenaskan. Reza yang berdiri mengambil benda pipih menelpon seseorang yang dianggap bisa mengambil keputusannya.


"Maaf tuan Robert, saya mengganggu waktunya."


"Maaf tuan. Ada accident yang terjadi di rumah pak Nathan." Dia tak bisa berbasa-basi lagi. Ini harus cepat mendapatkan tindakan.


"Apa??" Kaget. Apalagi yang harus didengarnya adalah menyangkut anak yang paling dia sayangi.


"Ini darurat sekali tuan. Kita harus segera memanggil ambulan." Cemas Reza sambil melihat Raisya takut nyawanya tidak tertolong.


"Siapa yang celaka?" Orang diseberang sana sudah menduga akan ada korban seperti sebelum-sebelumnya


"Raisya."


"Cepat bungkam orang yang ada di sana! Aku segera ke sana sekarang juga. Jangan sampai ada yang buka mulut!" Dia tak akan diam melihat kejadian yang mungkin saja akan merenggut nyawa seseorang dan membuka aib keluarganya.

__ADS_1


"Sial! Sudah tak ada kesempatan lagi. Kali ini dia harus menjalani terapi, kalau tidak pasti akan ada korban-korban lain." Umpat tuan Robert yang menyesali sesuatu.Dia langsung menghubungi seseorang yang bisa dipercaya. Dan dia pun turun dari ruang kerjanya untuk mendatangi rumah Nathan segera.


Tak lama kemudian ambulan tanpa suara sudah terparkir di depan rumah Nathan. Dan beberapa berbadan tegap langsung berdiri menjaga rumah Nathan dan sebagian lagi mengamankan para pekerja yang ada di rumah itu. Merek dipaksa menandatangani sesuatu dan menerima amplop-amplop coklat untuk uang tutup mulut. Semua langsung menaiki sebuah mobil langsung diantar ke rumah masing-masing dipaksa untuk meninggalkan rumah besar itu.


Tinggallah Reza dan Ina yang sudah bisa dipercaya oleh tuan Robert. Ina mengutus Michel dan Reza mengurus semua urusan Nathan.


"Siapkan visa dan tiket untuk segera berangkat ke Amerika! Kamu terus pantau perkembangannya. Di sana sudah siap orang yang akan mengurus kebutuhan kalian." Tuan Robert langsung memerintah cepat.


"Baik tuan." Reza langsung menerima intruksi.


Beberapa tim medis sudah membawa tuubuh Raisya ke rumah sakit yang sudah disiapkan tuan Robert.


"Raisya... Raisya.. " Dengan pandangan kosong dan tatapan getir kata-kata itu terus diulang-ulang Nathan. Dia terlihat linglung mencari-cari Raisya.


Dia terus mengusap-ngusap dadanya merasakan sesak. Lalu menatap tuan Robert dan Reza yang berdiri di depannya.


"Apakah... dia... mati? Ha?" Kristal-krisal bening mengumpul di ujung kelopak matanya yang kebiruan. Lalu terjun bebas keluar dari matanya seolah mewakili sakit di hatinya yang telah menyaksikan wanita itu terkapar.


"Tidak... Raisya..." Teriakan histeris mulai muncul dari bibir Nathan. Dada nya terasa sakit mulai merasakan kehilangan seseorang. Dia langsung ambruk duduk bersimpuh menatapi penyesalan.


"Raisya... maafkan aku... aku bajingan.. " Hik hik hik


Tangisan getir dari laki-laki yang biasanya terlihat kuat kini dia menunjukkan sisi rapuhnya setelah kehilangan wanita yang telah mengisi hatinya baru-baru ini.


Tatapan dua laki-laki yang ada di depannya ikut terlarut melihat drama pilu yang sedang dialami Nathan.


"Cepat suntikan obat penenang! Dan bawa langsung ke rumah sakit! Siapkan jet untuk membawanya ke rumah sakit di sana!" Tuan Robert rupanya sudah menyiapkan tempat untuk penyembuhan Nathan di rumah sakit khusus di Amerika.


Dia tak bisa membiarkan lagi Nathan terus-terusan mengalami gangguan emosional yang bisa membahayakan siapa saja.

__ADS_1


"Ahhh... Raisya... aku... " Suaranya menggantung di udara seketika. Salah satu dokter kepercayaan tuan Robert menyuntikkan penenang.


__ADS_2